TANGGAMUS – Dugaan proyek revitalisasi SDN 1 Negara Batin, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus, yang dikerjakan asal jadi semakin menguat. Sumber internal di lapangan menyebut material yang digunakan tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) mulai dari merek semen hingga teknis pengerjaan yang dinilai serampangan.
“Semen dalam RAB harusnya merek Tiga Roda, tapi yang dipakai Dinamix. Selisihnya memang cuma sekitar Rp2 ribu per sak. Tapi kalau sudah ratusan sak, ya jadi beda cerita,” tegas sumber tersebut, Kamis (11/12).
Ia juga mengungkapkan perbedaan signifikan antara kedua merek semen itu.
“Kalau pakai Tiga Roda, tembok yang dipelester pagi, siang sudah bisa diaci. Kena tiupan angin saja sudah cepat kering. Kalau Dinamix? Ya harus sabar, minimal besok baru bisa diaci,” ujarnya, sambil menegaskan kualitas bangunan jelas dipengaruhi.
Proyek revitalisasi gedung sekolah ini juga dinilai sarat ketidaktransparanan. Saat dikonfirmasi di kantor sekolah, Senin (8/12/2025), sejumlah guru mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses pembangunan.
“Kami semua tidak tahu-menahu, Pak. Tiba-tiba bangunan sudah jalan. Tidak ada rapat mekanisme, tidak ada penjelasan struktur pelaksananya,” ujar seorang guru yang meminta identitasnya disamarkan.
Ia menuturkan, informasi awal hanya disampaikan dalam rapat mendadak yang digelar Kepala Sekolah, Tsanawiyah.
Dalam rapat itu disebutkan akan dibentuk tim pelaksana pembangunan. Namun, sebelum sempat dimusyawarahkan, kepala sekolah langsung menunjuk seorang guru sebagai bendahara yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengannya.
“Kami hanya terdiam. Keputusan sudah diambil sepihak. Dan yang ditunjuk itu keponakannya sendiri,” ungkapnya.
Guru tersebut juga menambahkan, “Kalau ditanya siapa pelaksananya, kami jujur tidak tahu. Yang tahu hanya kepala sekolah.”
Di lokasi pembangunan, kepala tukang sekaligus pemborong, Andi, memberikan keterangan yang justru membuka babak baru dugaan kejanggalan.
“Saya ambil borongan empat lokal ini. Nilainya Rp45 juta. Tukang saya bayar Rp130 ribu per hari, kenek Rp100 ribu,” ungkapnya tanpa ragu.
Ia menyebut pekerjaannya hanya sebatas mengganti kusen dan memplester ulang tembok rusak. “Daripada saya nganggur, ya saya ambil lah borongan ini. Toh pekerjaannya tidak terlalu berat,” ujarnya santai.
Menariknya, Andi juga mengatakan dua lokal lainnya dikerjakan pemborong lain karena termasuk pembangunan baru, bukan rehabilitasi.
Namun, saat dimintai keterangan terpisah, Kepala Sekolah Tsanawiyah menegaskan hal berbeda—bahkan berlawanan 180 derajat dari pernyataan Andi.
“Tidak ada sistem borongan. Semua pekerja harian,” tegasnya, (9/12/2025).
Pernyataan tersebut sontak menimbulkan tanda tanya besar. Dua sumber berbeda, dua versi berlawanan.
Dari penggunaan material yang tidak sesuai RAB, ketiadaan pelibatan dewan guru, hingga perbedaan versi antara kepala sekolah dan pelaksana lapangan, proyek revitalisasi SDN 1 Negara Batin kini mengundang kecurigaan publik.
Apalagi ketika pihak lapangan mengaku borongan, sementara kepala sekolah justru membantah. Pertanyaan terbesar kini: Siapa yang sebenarnya mengendalikan proyek, dan ke mana arah anggaran berjalan?.***













