LAMPUNG UTARA – Jika usia rabat beton seharusnya diukur dalam hitungan tahun, proyek peningkatan jalan senilai Rp242 juta di Desa Sido Rahayu, Kecamatan Abung Semuli, Lampung Utara, justru tampak “menua sebelum waktunya”.
Rabat beton yang tersebar di tiga titik itu, baru dibangun pada Tahun Anggaran 2025, jalan tersebut kini sudah mengelupas dan rapuh, seolah kualitasnya tak lebih kuat dari janji-janji proyek saat awal dikerjakan.
Pantauan di lokasi pada Sabtu, 10 Januari 2026, menunjukkan sedikitnya tiga titik rabat beton mengalami kerusakan serius. Permukaan coran tampak terkelupas, keropos, dan mudah hancur, kondisi yang jauh dari kata wajar untuk proyek yang belum genap berusia satu tahun.
Rabat beton sepanjang ±380 meter dengan lebar 3 meter itu dibangun menggunakan Dana Desa (DD) 2025. Namun hasil di lapangan justru memunculkan pertanyaan, ke mana larinya mutu pekerjaan dengan anggaran ratusan juta rupiah tersebut?
“Baru dibangun tahun kemarin, belum setahun sudah rusak seperti ini. Kalau begini, masyarakat patut bertanya, ini dibangun pakai semen atau harapan?” sindir seorang warga dengan nada kecewa.
Sorotan keras datang dari Ketua GMBI Kecamatan Blambangan Pagar, Herman. Ia menegaskan, kerusakan dini pada rabat beton tersebut tidak bisa dialihkan pada alasan kendaraan berat.
“Jalan ini bukan jalur truk besar. Jadi kalau baru seumur jagung sudah mengelupas, jangan salahkan beban kendaraan. Indikasinya kuat, mutu pekerjaan tidak sesuai standar teknis,” tegas Herman.
Menurutnya, rabat beton yang dikerjakan sesuai spesifikasi semestinya mampu bertahan bertahun-tahun, bukan justru “menyerah” sebelum genap satu tahun. Ia menilai kondisi ini sebagai alarm keras atas lemahnya pengawasan dan pelaksanaan proyek Dana Desa.
Tak berhenti pada kritik, GMBI memastikan tidak akan tinggal diam. Herman menyatakan pihaknya akan melaporkan dugaan kerusakan proyek ini ke instansi terkait, termasuk aparat pengawas dan penegak hukum, agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Dana desa itu uang rakyat. Kalau hasilnya seperti ini, kami akan dorong laporan resmi agar kualitas pekerjaan, penggunaan material, dan proses pelaksanaannya diperiksa secara transparan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Desa Sido Rahayu belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kerusakan maupun langkah perbaikan. Kepala Desa Winoto saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum merespon.
Sementara rabat beton yang seharusnya menjadi penunjang mobilitas warga, kini justru menjadi monumen bisu dugaan proyek asal jadi.
Masyarakat berharap, kasus ini tidak berakhir sekadar menjadi cerita rusaknya beton, tetapi juga menjadi pintu masuk pembenahan tata kelola Dana Desa agar tak lagi rapuh seperti coran di Sido Rahayu. ***













