Scroll untuk baca artikel
Opini

Kelemahan Kritik MBG

×

Kelemahan Kritik MBG

Sebarkan artikel ini
Foto: Gedung Badan Gizi Nasional

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 21/01/2026

WAWAINEWS.ID – Kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) umumnya berangkat dari satu argumen utama. Anggaran ratusan triliun rupiah dialokasikan memberi makan anak-anak dianggap lebih bermanfaat jika dialihkan membiayai beasiswa jutaan mahasiswa. Membebaskan biaya kuliah, atau membangun rumah sakit dan infrastruktur publik lainnya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Secara aritmatika fiskal, argumen ini tampak masuk akal. Namun secara teoritis dan strategis, kritik tersebut mengandung kelemahan mendasar. Karena menyederhanakan persoalan pembangunan manusia seolah semua jenis belanja negara memiliki dampak, sasaran, dan horizon waktu yang setara.

Kelemahan pertama kritik MBG terletak pada pengabaian prinsip opportunity cost yang bersifat kualitatif. Bukan sekadar kuantitatif.

Benar bahwa satu rupiah hanya dapat digunakan untuk satu tujuan. Tetapi tidak semua tujuan menghasilkan jenis manfaat yang sama.

Dalam teori ekonomi publik dan pembangunan, belanja negara dibedakan berdasarkan fase siklus hidup manusia yang disasar. Investasi pada fase awal kehidupan—khususnya usia 0–5 tahun dan usia sekolah dasar—memiliki karakter yang tidak dapat digantikan investasi di fase berikutnya.

James Heckman, peraih Nobel Ekonomi, menunjukkan melalui Heckman Curve. Bahwa tingkat pengembalian investasi sumber daya manusia paling tinggi terjadi pada intervensi usia dini. Menurun seiring bertambahnya usia.

Satu rupiah untuk gizi anak usia dini, secara teoritis menghasilkan dampak jangka panjang lebih besar. Jika dibanding satu rupiah untuk pendidikan tinggi.

BACA JUGA :  HAM: Idealisme Universal, Realitas Politik, dan Pergulatan Kedaulatan

Kritik yang membandingkan MBG dengan beasiswa kuliah juga mengabaikan fakta biologis dan empiris. Bahwa kerusakan akibat kekurangan gizi pada masa awal kehidupan bersifat permanen.

Literatur kesehatan dan ekonomi pembangunan menunjukkan stunting dan malnutrisi kronis menurunkan kemampuan kognitif, konsentrasi, dan produktivitas kerja di masa dewasa. Bank Dunia mencatat anak mengalami stunting dapat kehilangan potensi pendapatan hingga 20 persen saat dewasa.

Kerugian ini tidak dapat dipulihkan dengan beasiswa, subsidi pendidikan tinggi, atau pelatihan kerja di kemudian hari. Argumen “lebih baik gratis kuliah” mengasumsikan bahwa seluruh anak memiliki kapasitas biologis dan kognitif yang sama untuk mencapai pendidikan tinggi. Padahal kapasitas tersebut sangat ditentukan kualitas gizi pada masa kanak-kanak.

Kelemahan berikutnya adalah asumsi implisit beasiswa atau pembebasan biaya kuliah lebih inklusif dibanding MBG. Secara empiris, pendidikan tinggi selalu bersifat selektif. Bahkan ketika biaya kuliah digratiskan. Penerima manfaat utamanya tetap berasal dari kelompok yang telah berhasil melewati seleksi akademik dan sosial pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Ini berarti kebijakan tersebut cenderung menguntungkan kelompok menengah- atas. Setidaknya mereka yang sudah relatif lebih siap. Sebaliknya, MBG bersifat universal atau semi-universal pada kelompok usia sekolah. Sehingga berfungsi sebagai instrumen pemerataan kesempatan sejak titik awal.

BACA JUGA :  KUHP Baru Tidak Perlu Dikhawatiri

Dalam kerangka teori keadilan distributif ala John Rawls, kebijakan yang paling adil adalah kebijakan yang paling menguntungkan kelompok paling rentan. Dari sudut pandang ini, MBG memiliki justifikasi normatif lebih kuat dibanding subsidi pendidikan tinggi yang bersifat elitis secara struktural.

Kritik terhadap MBG juga sering kali menggunakan logika pembangunan fisik, seperti pembangunan rumah sakit, sebagai pembanding. Di sini terjadi kekeliruan kategori. Rumah sakit adalah investasi penting dalam sistem Kesehatan. Fungsinya dominan pada aspek kuratif dan pemeliharaan produktivitas. Bukan pembentukan kapasitas manusia.

Teori kebijakan publik membedakan antara belanja preventif dan kuratif. Gizi anak termasuk belanja preventif dengan biaya relatif lebih rendah dan dampak jangka panjang yang luas. Sementara rumah sakit menangani konsekuensi dari masalah kesehatan yang sudah terjadi.

Menggeser anggaran dari gizi ke rumah sakit berarti menerima biaya sosial lebih tinggi di masa depan. Akibat penyakit kronis, rendahnya produktivitas, dan beban fiskal kesehatan yang terus meningkat.

Lebih jauh, kritik terhadap MBG cenderung berorientasi jangka pendek dan mengabaikan dimensi antar generasi. Pembangunan manusia bukan proyek lima tahunan. Melainkan proyek lintas generasi.

Negara-negara yang kini memiliki produktivitas tinggi dan ketimpangan rendah, seperti Finlandia dan negara Nordik lainnya, memulai investasi besar pada gizi dan kesejahteraan anak. Sejak puluhan tahun sebelum hasilnya terlihat. Secara empiris, investasi gizi anak dikaitkan dengan penurunan ketimpangan pendapatan dan peningkatan kohesi sosial dalam jangka panjang.

BACA JUGA :  IKN dan Paradoks 40 Kota

Dengan demikian, mempertanyakan MBG karena “hasilnya tidak langsung terlihat” justru menunjukkan bias waktu (present bias). Sering menjadi kelemahan kebijakan populis.

Ini tidak berarti MBG kebal dari kritik. Risiko kebocoran anggaran, kualitas makanan yang buruk, dan beban fiskal yang besar adalah persoalan nyata. Harus diatasi melalui desain kebijakan, tata kelola, dan evaluasi yang ketat.

Namun kritik terhadap implementasi tidak boleh disamakan dengan penolakan terhadap rasionalitas strategis program itu sendiri. Menolak MBG dengan alasan anggarannya bisa dipakai untuk kebijakan lain adalah bentuk kritik semu.

Kritik itu mengabaikan fakta bahwa MBG dan beasiswa atau rumah sakit berada pada mata rantai pembangunan yang berbeda. Saling melengkapi. Bukan saling menggantikan.

Kelemahan utama kritik terhadap MBG terletak pada kegagalannya memahami pembangunan manusia sebagai proses kumulatif. MBG bukan kebijakan untuk mencetak hasil cepat atau elite terdidik dalam waktu singkat. Melainkan investasi fondasional untuk memastikan generasi masa depan memiliki kapasitas biologis dan kognitif memadai.

Pertanyaan lebih tepat bukanlah: “lebih menguntungkan mana,”. Melainkan: “tanpa MBG, berapa besar potensi bangsa yang hilang dan tidak akan pernah bisa dipulihkan.”

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.