LAMPUNG TIMUR – Sebuah video yang direkam warga Desa Kalipasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, kembali membuka luka lama soal infrastruktur daerah. Rekaman yang viral di media sosial itu menampilkan kondisi jembatan rusak parah akses vital yang selama puluhan tahun menjadi satu-satunya jalur pelajar menuju sekolah.
Dalam video tersebut, puluhan pelajar berseragam sekolah tampak berdesakan bersama warga menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil. Sungai yang dilewati memiliki bentang lebar, arus deras, dan kerap meluap saat musim hujan. Setiap perjalanan sekolah pun berubah menjadi pertaruhan keselamatan, bukan sekadar rutinitas pendidikan.
Kondisi ini memantik reaksi keras dari Tokoh Lampung, Alzier Dianis Thabranie. Dengan nada tajam dan tanpa basa-basi, Alzier menilai kegagalan memperbaiki jembatan Way Bungur adalah cermin kegagalan kepemimpinan daerah.
“Kalau memang tidak mampu membangun jembatan ini dalam waktu dekat, Bupati dan Wakil Bupati Lampung Timur sebaiknya mundur saja dua-duanya,” tegas Alzier sebagaimana dilansir Wawai News, pada, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, persoalan jembatan Way Bungur bukan masalah baru. Mangkraknya pembangunan telah berlangsung bertahun-tahun, berganti periode kepemimpinan, berganti janji, namun tidak pernah berganti nasib.
“Jangan yang gede omong saja. Rakyat butuh jembatan, bukan pidato. Kalau tidak mampu, ganti dengan yang pintar dan benar-benar bisa membangun,” sindir Alzier.
Jembatan Way Bungur diketahui berada di wilayah sungai yang masuk kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Selain menjadi jalur utama pelajar, sungai ini juga berpengaruh besar terhadap aktivitas pertanian di Way Bungur dan Purbolinggo. Saat debit air meningkat, lahan pertanian warga kerap terdampak banjir, memperparah penderitaan masyarakat sekitar.
Ironisnya, jembatan yang seharusnya menjadi solusi justru dibiarkan menjadi monumen ketidakpastian. Informasi yang dihimpun menyebutkan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) telah melakukan survei teknis di lokasi.
Hasilnya, kondisi jembatan dinilai tidak memungkinkan untuk diperbaiki sebagian. Faktor keselamatan dan risiko longsor membuat opsi rehabilitasi dianggap tidak layak. Rekomendasi teknis pun tegas: jembatan harus dibangun ulang dari nol.
Namun hingga kini, rekomendasi tersebut masih sebatas dokumen. Sementara di lapangan, para pelajar terus menyeberang sungai dengan perahu seadanya seolah pendidikan di Lampung Timur harus selalu diawali dengan ujian nyali.***









