Scroll untuk baca artikel
Pertanian

Sawah di Sekampung Udik Tenggelam Lagi! Panen Gagal Siapa Bertanggung Jawab?

×

Sawah di Sekampung Udik Tenggelam Lagi! Panen Gagal Siapa Bertanggung Jawab?

Sebarkan artikel ini
Penampakan, Sawah warga yang seharusnya menguning menjelang panen, kini justru berubah jadi “tanaman air”. - foto Jali

LAMPUNG TIMUR – Ratusan hektar sawah milik warga di Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, kembali terendam banjir akibat luapan Sungai Way Sekampung. Desa Toba, Gunung Sugih Besar, dan Gunung Agung menjadi langganan genangan setiap musim hujan.

Air datang tanpa undangan. Padi belum sempat menguning, sudah lebih dulu berenang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di tengah genangan itu, pertanyaan lama kembali muncul, terkait fungsi Bendungan Margatiga?

Bendungan yang digadang-gadang sebagai proyek strategis dan sempat menjadi sorotan hukum itu, menurut warga, belum memberi dampak signifikan terhadap pengendalian banjir di sawah sekitar. Apa lagi suplai air jika musim kemarau.

“Bendung Margatiga itu enggak ada fungsi bagi sawah warga di Sekampung Udik. Ini buktinya sejak awal jadi sampai sekarang sawah warga selalu banjir saat musim hujan, dan kering saat kemarau” ujar Paimo, petani asal Dusun Tamansari, Desa Toba, Minggu (22/2).

BACA JUGA :  Ini, Spot Swafoto Mewah diatas Hamparan Sawah di Bekasi

Menurut warga, ratusan hektar lahan pertanian kini tenggelam. Tanaman padi yang sudah beberapa kali ditanam ulang kembali rusak akibat terjangan air.

“Itu Bendung Margatiga bendungan apa ya, kok sawah kami selalu banjir?” kata Paimo lagi, kali ini dengan nada yang lebih getir seperti suara orang lampung lagi bandung tengah malam.

Bagi petani, banjir bukan sekadar bencana alam. Ia berarti biaya tanam hilang, pupuk terbuang, tenaga sia-sia, dan harapan panen berubah jadi lumpur.

Jika sawah sudah menyerupai tambak, yang panen mungkin ikan liar, bukan gabah.

Kekecewaan warga tak berhenti pada soal genangan air. Mereka juga mempertanyakan respons pemerintah daerah.

BACA JUGA :  Seminggu Setelah Divaksin Dua Ekor Sapi Warga Jakamulya Bekasi Kejang dan Mati

Menurut Paimo, saat panen berhasil, petani kerap didata sebagai bagian dari keberhasilan swasembada pangan. Namun ketika gagal panen akibat banjir, bantuan bibit maupun solusi teknis belum terlihat.

“Pas panen kami didata, disebut swasembada pangan karena peran pemerintah. Tapi ketika gagal panen akibat banjir begini, pemerintah ke mana?” ujarnya bertanya.

Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan kritik yang lahir dari sawah yang terendam berulang kali.

Secara fungsi, bendungan dibangun untuk irigasi, pengendalian banjir, dan mendukung ketahanan pangan. Namun di Sekampung Udik, warga menilai manfaat pengendalian banjir belum terasa.

Pertanyaan mereka sederhana, jika bendungan berdiri megah, mengapa sawah di hilir tetap tenggelam?

Apakah persoalannya pada tata kelola pintu air? Normalisasi sungai? Drainase lokal? Atau koordinasi antarinstansi?

BACA JUGA :  Mentan Launching Gerakan Penanaman Jagung Serentak 1 Juta Hektare di Subang

Jawaban teknis mungkin ada. Tetapi di lapangan, yang terlihat hanya hamparan air menutup padi.

Petani berharap Dinas Pertanian dan instansi terkait turun langsung ke lokasi. Minimal ada pendataan kerugian, bantuan bibit, atau solusi teknis agar siklus banjir tidak terus berulang.

Sebab bagi petani, waktu tidak bisa ditunda seperti rapat. Musim tanam berjalan sesuai kalender alam, bukan jadwal birokrasi.

Jika kondisi ini terus terjadi, bukan hanya panen yang terancam. Semangat petani pun bisa ikut surut.

Dan bila sawah terus berubah menjadi kolam setiap musim hujan, jangan salahkan petani jika kelak mereka bertanya, yang sebenarnya gagal itu cuaca atau perencanaan?

Di Sekampung Udik, pertanyaan itu kini mengalir deras, mengikuti arus Way Sekampung yang meluap.***