TANJUNGPINANG – Tragedi berdarah di Perumahan Bintan Permata Indah, Tanjungpinang Timur, Rabu (25/2), menyisakan satu pertanyaan besar: mengapa seorang suami tega menghabisi nyawa istrinya sendiri?
Korban HA (58) ditemukan tak bernyawa di dalam rumah setelah warga mendengar keributan. Pelaku, N (67), sempat melarikan diri menggunakan sepeda motor menuju arah Kabupaten Bintan sebelum akhirnya diringkus polisi.
Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang, Paulus Wamilik Mabel, membenarkan pelaku telah diamankan beberapa jam setelah kejadian.
“Motif sementara karena pelaku sakit hati sehingga nekat membunuh korban,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Namun, benarkah sekadar “sakit hati”?
Dalam banyak kasus kekerasan domestik, “sakit hati” sering muncul sebagai motif. Bisa dipicu persoalan ekonomi, kecemburuan, konflik lama, atau pertengkaran yang memuncak. Namun pada akhirnya, yang terjadi adalah kegagalan mengelola emosi.
Di lokasi kejadian, polisi menemukan pisau dan kayu yang diduga digunakan pelaku. Artinya, pertengkaran berubah menjadi tindakan brutal bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan keputusan fatal dalam hitungan menit.
Riwayat Kelam: Residivis Pembunuhan
Fakta yang membuat publik terhenyak: N adalah residivis kasus pembunuhan. Ia pernah divonis 15–16 tahun penjara atas kasus pembunuhan terhadap seorang janda hamil pada 2018, dan baru bebas bersyarat pada Agustus 2025.
Belum setahun bebas, ia kembali diduga melakukan kejahatan serupa.
Di sinilah pertanyaan sosial muncul:
Apakah pembinaan di lembaga pemasyarakatan cukup efektif?
Bagaimana pengawasan terhadap narapidana pembebasan bersyarat, khususnya untuk kasus kejahatan berat?
Karena dalam kasus seperti ini, yang gagal bukan hanya individu tetapi juga sistem pengawasan.
Pelaku berusia 67 tahun. Usia yang seharusnya diisi ketenangan, bukan kekerasan. Namun usia tidak otomatis menghadirkan kedewasaan emosional.
Banyak studi menunjukkan bahwa individu dengan riwayat kekerasan yang tidak ditangani secara psikologis berisiko mengulang pola serupa, terutama ketika menghadapi tekanan.
Jika benar motifnya sakit hati akibat pertengkaran, maka ini adalah gambaran klasik: konflik kecil yang tak terkendali berubah menjadi tragedi besar.
Dari Cekcok ke Kejahatan
Sebelum kabur, pelaku bahkan disebut sempat hendak memukul tetangga yang menanyakan keributan. Ini menunjukkan kondisi emosional yang sudah tidak stabil sejak awal.
Rumah tangga yang seharusnya menjadi ruang aman berubah menjadi ruang ledakan.
Ironisnya, sering kali lingkungan sekitar hanya bisa berkata, “Kami dengar ribut, tapi tak menyangka akan separah ini.”***













