Scroll untuk baca artikel
Nasional

Heboh Lagi! Anggaran EO Rp113 Miliar BGN Disorot, Ini Alasan Resmi di Baliknya

×

Heboh Lagi! Anggaran EO Rp113 Miliar BGN Disorot, Ini Alasan Resmi di Baliknya

Sebarkan artikel ini
Foto: Gedung Badan Gizi Nasional

Jakarta — Setelah sebelumnya ramai soal pengadaan puluhan ribu motor listrik, kini Badan Gizi Nasional (BGN) kembali jadi bahan perbincangan. Kali ini bukan soal kendaraan, melainkan anggaran fantastis untuk jasa Event Organizer (EO) yang mencapai sekitar Rp113 miliar.

Angka ini sontak mengundang perhatian publik. Warganet pun bertanya-tanya: ini mau bikin acara apa seminar, konser, atau sekalian festival tiga hari tiga malam?

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun di balik angka jumbo tersebut, BGN punya penjelasan yang, menurut mereka, “masuk akal dan terukur”.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa penggunaan jasa EO merupakan bagian dari upaya membangun sistem kerja yang profesional, terutama dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BACA JUGA :  WOW! Ternyata Tarif PSK di Lorong Geylang Singapura dan Sintai Batam Beda Tipis, Penasaran?

Menurutnya, sebagai lembaga yang masih “baru lahir”, BGN belum memiliki sumber daya internal yang cukup untuk menangani kegiatan berskala besar secara mandiri.

“Kami masih dalam tahap membangun sistem, struktur organisasi, dan tata kelola operasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (13/4/2026).

Kalau diibaratkan, BGN ini seperti startup yang langsung dapat proyek nasional fiturnya belum lengkap, tapi harus langsung jalan.

BGN menilai kehadiran EO bukan sekadar pelengkap acara, melainkan kebutuhan strategis. Dari perencanaan hingga eksekusi, EO dianggap punya keahlian yang belum dimiliki internal BGN saat ini.

BACA JUGA :  Program MBG Tersendat di Way Jepara: Gratisnya Hanya Sampai Anggaran Turun

Mulai dari koordinasi vendor, pengelolaan teknis lapangan, hingga mitigasi risiko semuanya disebut membutuhkan pengalaman yang tidak bisa “diunduh dalam semalam”.

Dengan kata lain, EO di sini bukan cuma urus backdrop dan sound system, tapi juga jadi “otak kedua” dalam memastikan acara berjalan mulus tanpa drama kecuali drama di media sosial, tentu saja.

BGN juga menepis anggapan bahwa anggaran besar ini hanya untuk kegiatan seremonial.

Menurut Dadan, kegiatan yang ditangani EO mencakup sosialisasi nasional, kampanye publik, hingga bimbingan teknis (bimtek) bagi penjamah makanan agar standar keamanan pangan meningkat.

“Kualitas penyelenggaraan sangat krusial agar pesan pemerintah bisa tersampaikan secara efektif dan berdampak luas,” jelasnya.

BACA JUGA :  Menteri Ad Interim KKP Serahkan DIPA 2021

Dari sisi efisiensi, BGN menilai penggunaan EO justru lebih rasional dibanding membangun tim internal dalam waktu singkat.

Membangun SDM sendiri, menurut mereka, butuh waktu, pelatihan, dan biaya yang tidak sedikit sementara program harus segera berjalan.

EO pun hadir sebagai solusi “jalan tol”: lebih cepat sampai, meski tarifnya… ya, tidak gratis.

Di tengah sorotan publik, BGN menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan akuntabilitas.

Seluruh penggunaan anggaran, termasuk jasa EO, diklaim telah melalui mekanisme sesuai aturan dan terbuka untuk diawasi, baik oleh internal maupun eksternal.

“Semua dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan dan siap diawasi,” tegas Dadan.***