Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Biawak: Obat Tradisional atau Mitos Turun-Temurun? Ini Fakta Kesehatan & Peran Pentingnya di Alam!

×

Biawak: Obat Tradisional atau Mitos Turun-Temurun? Ini Fakta Kesehatan & Peran Pentingnya di Alam!

Sebarkan artikel ini
foto ist

WawaiNEWS.ID – Di berbagai daerah di Indonesia, Biawak bukan sekadar reptil biasa. Hewan ini punya “dua kehidupan”: di satu sisi dianggap sebagai bahan pengobatan tradisional, di sisi lain justru berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun di tengah berbagai klaim manfaat dari meningkatkan stamina hingga menyembuhkan penyakit kulit muncul satu pertanyaan penting: ini benar khasiat, atau sekadar warisan cerita turun-temurun yang belum diuji?

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dalam praktik tradisional, daging biawak sering dikonsumsi karena diyakini mampu meningkatkan stamina, mengurangi pegal otot, hingga menambah vitalitas.

Kalau didengar sekilas, terdengar seperti “multivitamin alami versi ekstrem”.

Secara kandungan, memang ada zat seperti omega-3, omega-6, serta mineral seperti zink yang dikenal baik untuk tubuh. Tapi masalahnya bukan di kandungan melainkan pada bukti ilmiah.

BACA JUGA :  Telur Mentah vs Matang: Mana Lebih Sehat dan Aman untuk Tubuh?

Sampai saat ini, belum ada penelitian klinis kuat yang memastikan bahwa makan biawak bisa langsung bikin badan “auto fit”. Jadi kalau setelah makan merasa lebih kuat, bisa jadi itu efek nutrisi… atau efek sugesti yang bekerja lebih cepat dari WiFi.

Minyak dari lemak biawak juga cukup populer di pengobatan tradisional. Biasanya dioleskan untuk mengatasi gatal, eksim, panu, hingga luka.

Beberapa orang bahkan percaya minyak ini bisa mempercepat penyembuhan keloid.

Masalahnya? Lagi-lagi, klaim ini masih minim bukti ilmiah. Dalam dunia medis modern, setiap pengobatan butuh uji klinis, bukan sekadar “kata tetangga berhasil”.

Bukan berarti tidak boleh digunakan, tapi perlu diingat: kulit sensitif tidak bisa diajak eksperimen sembarangan.

Di balik segala kontroversi manfaatnya, satu hal yang pasti: biawak punya peran penting dalam ekosistem.

BACA JUGA :  Gaya Hidup Sehat, Kunci Pria Tetap Jreng Diranjang Meski Tak Lagi Muda

Sebagai predator, biawak membantu mengontrol populasi hama seperti tikus dan serangga. Artinya, tanpa mereka, petani bisa “panen masalah” alih-alih panen hasil.

Bahkan, kehadiran biawak sering jadi indikator lingkungan yang masih sehat. Jadi kalau ketemu biawak di alam, jangan langsung panik bisa jadi itu tanda ekosistem masih “on track”.

Kulit biawak juga punya nilai ekonomis tinggi. Banyak dimanfaatkan untuk produk seperti tas, sepatu, hingga aksesori.

Teksturnya unik, kuat, dan dianggap premium. Tapi di balik itu, ada isu besar, konservasi.

Jika tidak dikelola dengan bijak, permintaan pasar bisa berujung pada eksploitasi berlebihan. Dan pada titik itu, yang hilang bukan cuma biawak tapi keseimbangan alam itu sendiri.

Sebelum tergoda mencoba “pengobatan ala biawak”, ada beberapa hal yang wajib dipahami:

  • Higienitas itu wajib: Daging biawak berisiko membawa bakteri atau parasit jika tidak diolah dengan benar
  • Bukti ilmiah terbatas: Banyak klaim belum teruji secara medis
  • Risiko alergi: Tubuh tiap orang berbeda, reaksi bisa tak terduga
  • Perhatikan hukum: Beberapa spesies biawak dilindungi
BACA JUGA :  Internet 100 Mbps Rp100 Ribu: Janji Manis Pemerintah, Realitasnya Kita Tunggu Sinyalnya

Intinya: jangan sampai niat sehat malah berujung repot.

Biawak memang punya tempat dalam budaya dan ekosistem. Namun dalam konteks kesehatan, penting untuk membedakan antara kepercayaan dan fakta ilmiah.

Kalau ada keluhan kesehatan, langkah terbaik tetap satu: konsultasi ke tenaga medis profesional. Karena di dunia kesehatan, yang dibutuhkan bukan sekadar “katanya”, tapi data dan bukti nyata.

Jadi, biawak itu bermanfaat? Ya untuk ekosistem, jelas. Untuk pengobatan? Masih perlu pembuktian.

Dan yang paling penting: jangan sampai kita lebih percaya mitos daripada diagnosis dokter.***