LAMPUNG UTARA — Di tengah jargon peningkatan kualitas pendidikan, ironi justru terpampang nyata di SDN 1 Sidorahayu. Sekolah dasar dengan ratusan siswa ini tetap beroperasi dalam kondisi bangunan yang rusak parah seolah keselamatan dan kenyamanan menjadi urusan nomor sekian.
Plafon kelas jebol dan menganga. Dinding mengelupas, dipenuhi jamur. Beberapa bagian bangunan tampak seperti menunggu runtuh, bukan direnovasi. Namun aktivitas belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa karena pilihan memang tidak banyak.
Sebanyak 292 siswa dari 12 rombongan belajar setiap hari “berkompromi” dengan kondisi tersebut.
Kepala sekolah, Lusia Anggraini Fatmah, menyebut pihaknya telah mengajukan program revitalisasi dan bahkan sudah masuk dalam daftar rencana pembangunan.
“Kami sudah ajukan, sudah ada gambaran akan dibangun,” ujarnya.
Masalahnya, gambaran tidak bisa menahan plafon yang jatuh. Hingga kini, belum ada kepastian kapan realisasi dilakukan. Sementara waktu terus berjalan dan kerusakan terus melebar.
Pihak sekolah juga mengungkap alasan lain, trauma masa lalu. Sekitar 18 tahun lalu, proyek bantuan pembangunan mangkrak. Kontraktor menghilang, dan kepala sekolah saat itu terseret kasus hukum hingga berujung tragis.
Sejak itu, muncul kehati-hatian atau justru ketakutan dalam mengajukan bantuan.
Sorotan lain datang dari masyarakat sekitar. Mereka menilai kerusakan bukan hal baru melainkan sudah berlangsung lama tanpa perawatan berarti.
Padahal, sekolah menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang salah satu peruntukannya adalah pemeliharaan sarana dan prasarana.***













