Scroll untuk baca artikel
EKONOMINASIONAL

KKP Buka Keran Investasi Nila dan Rumput Laut, Eropa Dibidik Jadi Pasar Bernilai Tinggi

×

KKP Buka Keran Investasi Nila dan Rumput Laut, Eropa Dibidik Jadi Pasar Bernilai Tinggi

Sebarkan artikel ini
Peluang tersebut ditawarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada peserta Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026)

JAKARTA – Indonesia membuka peluang kemitraan dengan investor Eropa untuk mengembangkan industri ikan nila (tilapia) dan rumput laut dari sektor budidaya hingga pengolahan produk bernilai tambah. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat daya saing ekspor sekaligus memperbesar manfaat ekonomi bagi pembudidaya dan masyarakat pesisir.

Peluang tersebut ditawarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada peserta Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan, pengembangan perikanan budidaya perlu terhubung dengan industri pengolahan dan pasar. Dengan rantai usaha yang terintegrasi, hasil panen diharapkan tidak hanya terserap pasar, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi lebih besar.

“Melalui Indonesia–Europe Business Forum 2026, kita dapat duduk bersama, berdiskusi, dan berkolaborasi untuk menemukan solusi terbaik yang saling menguntungkan,” kata Trenggono dalam keterangan resmi, Sabtu (17/10/2026).

KKP menawarkan sejumlah peluang pengembangan usaha, mulai dari revitalisasi tambak di Pantai Utara Jawa Barat untuk komoditas nila, pengembangan tambak udang terintegrasi di Waingapu, hingga budidaya ikan darat tematik di berbagai wilayah Pulau Jawa.

BACA JUGA :  Sah, KPU Resmi Umumkan Hasil Pilpres 2024; Prabowo Menang Telak Total Raih 96.214.691 Suara

Di sektor rumput laut, pemerintah mendorong peningkatan produksi sekaligus penguatan hilirisasi agar komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya TB Haeru Rahayu mengatakan, pengembangan nila di Pulau Jawa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dan memasok bahan baku industri pengolahan.

Peluang kerja sama mencakup peningkatan kualitas benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, hingga ketertelusuran produk. Aspek tersebut dinilai penting untuk menjaga mutu hasil budidaya dan memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara itu, kemitraan rumput laut dapat dikembangkan melalui penyediaan bibit berkualitas, mekanisasi, penerapan teknologi budidaya, serta perbaikan proses pengeringan dan penyimpanan hasil panen.

Penguatan sektor pascapanen menjadi bagian penting untuk menjaga konsistensi mutu bahan baku sekaligus mendukung produksi turunan rumput laut yang mampu bersaing di pasar internasional.

Ekspor Nila Indonesia Tembus US$87,57 Juta

Peluang investasi di sektor nila turut ditopang capaian ekspor Indonesia. Perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, memaparkan nilai ekspor nila Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai US$87,57 juta.

BACA JUGA :  Tiga Pasar di Bekasi Tunggak Kewajiban PAD, Jumlahnya Rp10,8 Miliar

Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan pangsa 51,7 persen, disusul Kanada sebesar 24,7 persen. Adapun ekspor ke Uni Eropa tercatat US$7,13 juta atau 8,1 persen dari total nilai ekspor yang dipaparkan.

Andhi juga menyebut nilai ekspor nila Indonesia mencapai US$6,98 per kilogram. Angka tersebut, menurut ATI, menjadi yang tertinggi dibandingkan sejumlah eksportir utama dunia, termasuk China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan.

Capaian tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas penetrasi pasar bernilai tinggi. Namun, peningkatan daya saing tetap membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten, mutu produk yang terjaga, serta kemampuan industri memenuhi persyaratan pasar tujuan.

ATI juga mendorong pemanfaatan seluruh bagian ikan melalui konsep zero waste. Selain daging yang diolah menjadi fillet, kulit dan sisik nila dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kolagen dan gelatin. Bagian lainnya juga berpotensi diolah menjadi tepung dan minyak ikan.

Pemanfaatan menyeluruh tersebut membuka peluang diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari setiap hasil panen.

Rumput Laut Tak Hanya untuk Agar dan Karaginan

BACA JUGA :  KKP Resmi Miliki Acuan Baru Soal Pengelolaan PNBP

Peluang serupa terbuka pada komoditas rumput laut. Perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, menjelaskan bahwa pemanfaatan rumput laut kini mencakup berbagai sektor, tidak terbatas pada produk hidrokoloid seperti agar dan karaginan.

Bahan baku tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, hingga bahan pendukung pertanian dan perikanan.

Menurut Artati, kerja sama Indonesia–Eropa dapat diarahkan pada perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, serta pengembangan fasilitas pengolahan. Penguatan pengujian mutu, pemenuhan standar, dan akses pasar juga diperlukan agar produk rumput laut Indonesia semakin kompetitif.

Keterlibatan pembudidaya, pelaku industri, peneliti, dan pemerintah menjadi faktor penting agar peluang investasi tidak berhenti pada perdagangan bahan mentah, tetapi berkembang menjadi industri pengolahan yang memberikan nilai tambah di dalam negeri.

Melalui kemitraan tersebut, KKP mendorong pengembangan nila dan rumput laut sebagai komoditas yang memiliki peluang pasar internasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi, teknologi, dan akses pasar dapat terhubung dengan kebutuhan pembudidaya sehingga pertumbuhan industri turut meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.