Scroll untuk baca artikel
OPINI

Revitalisasi dan Akselerasi Gerakan Koperasi

×

Revitalisasi dan Akselerasi Gerakan Koperasi

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WAWAINEWS – Koperasi Indonesia tidak cukup hanya bertambah jumlahnya; koperasi harus sehat, produktif, dan mampu memperbesar skala usaha. Tantangannya bukan sekadar membentuk koperasi baru, melainkan menyehatkan yang bermasalah, mengembangkan yang potensial, dan memperkuat yang siap tumbuh.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Karena itu, diperlukan program Revitalisasi dan Akselerasi Gerakan Koperasi yang menghubungkan pendataan, pembinaan, dan akses permodalan. Bukan generaslisasi kebijakan.

Fondasinya adalah Sistem Integrasi Koperasi Nasional (SIKOPNAS), aplikasi digital yang memungkinkan setiap koperasi menginput dan memperbarui data riil tentang kondisi, tata kelola, kinerja, dan perkembangan usahanya. Pembaruan berkelanjutan membuat data perkoperasian nasional selalu aktual dan mendekati real-time. Data tersebut menjadi dasar pemetaan, penentuan intervensi, dan evaluasi pembinaan.

SIKOPNAS secara otomatis mengelompokkan koperasi ke dalam empat klasifikasi. Melalui sistem skor yang dirancang untuk memverifikasi tingkat kesehatan koperasi.

BACA JUGA :  Pilkada 2024: Final Battle Pembajak Reformasi?

Pertama, koperasi investable atau layak investasi, yakni koperasi sehat yang memiliki prospek dan rencana usaha layak dibiayai. Intervensinya berupa advokasi permodalan melalui perbankan, termasuk pendampingan proposal bisnis dan fasilitasi akses pembiayaan. Keputusan kredit tetap menjadi kewenangan bank.

Kedua, koperasi sehat, tetapi belum siap menarik investasi. Intervensinya berupa akselerasi usaha melalui penguatan manajemen, produktivitas, perluasan pasar, dan penyusunan rencana ekspansi agar naik kelas menjadi koperasi investable.

Ketiga, koperasi tidak sehat, tetapi masih berpotensi dipulihkan. Intervensinya berupa revitalisasi dan restrukturisasi. Mencakup pembenahan tata kelola, keuangan, organisasi, dan model bisnis agar kembali sehat.

Keempat, koperasi tidak layak, yakni koperasi yang belum menunjukkan kelayakan usaha. Kelompok ini mendapat inkubasi dan pendampingan terarah untuk mengejar kesehatan dan kelayakan. Jika tidak dapat dipulihkan, pembekuan atau langkah hukum lain dilakukan sesuai peraturan.

BACA JUGA :  Ahmad Sahroni Orang Pintar Sedunia

Pendekatan ini menerapkan prinsip evidence-based policy: kebijakan harus didasarkan pada data dan diagnosis, bukan perlakuan seragam. Klasifikasi dievaluasi berkala agar koperasi dapat berpindah kategori sesuai kemajuannya.

SIKOPNAS ini juga melakukan skoring terhadap kabupaten/kota, perguruan tinggi, dan sekolah dalam pengembangan koperasi berdasarkan indikator terukur. Untuk kemudian skor tertinggi dalam urutan tertentu memperoleh predikat sebagai “Kabupaten koperasi”, “Kampus Koperasi”, “Sekolah Koperasi” pada tahun berjalan. Artinya kabuaten/kota, perguruan tinggi atau sekolah yang skor prestasi dalam berkoperasi paling tinggi.

Melalui kompetisi tersebut, akselerasi gerakan koperasi diakselerasi. Kabupaten/Kota pemenang dijadikan lokasi peringatan Hari Koperasi sekaligus pusat studi banding. Begitu juga kampus dan sekolah koperasi dijadikan pusat studi banding bagi koperasi mahasiswa dan koperasi siswa dari kamus yang lain.

Penghargaan dan stimulus pembinaan kepada pemenang diberikan dengan tetap berdasarkan kinerja serta rencana pengembangan terukur. Para pemenang juga menjadi pusat pembelajaran melalui studi banding terstruktur, sehingga mengangkat performa daerah, perguruan tinggi dan sekolah tersebut. Pendekatan peer learning memungkinkan praktik baik direplikasi oleh koperasi lain.

BACA JUGA :  Jokowi & Pergeseran Isu Struktural–Personal

Keberhasilan program ini bukan diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari kemajuan nyata. Koperasi tidak sehat menjadi sehat, koperasi sehat menjadi layak investasi, dan koperasi layak investasi memperbesar skala usahanya.

Data menentukan arah kebijakan, pembinaan memperbaiki kualitas koperasi, perbankan mendukung pembiayaan, dan keteladanan mempercepat kemajuan. Kebijakan berbasis data real time dan sistem komoetisi ini akan memercepat akselerasi gerakan koperasi dengan sendirinya.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban. Penulis, Mantan Ketua Koperasi Mahasiswa.