Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Aceh Timur Lumpuh: Banjir Surut, Kelaparan Menggenang, Bantuan Entah ke Mana

×

Aceh Timur Lumpuh: Banjir Surut, Kelaparan Menggenang, Bantuan Entah ke Mana

Sebarkan artikel ini
Kondisi Banjir di Aceh Timur saat beberapa hari kemarin

ACEH – Kabupaten Aceh Timur porak-poranda setelah dihantam banjir dan longsor. Sejumlah titik rusak berat, pelayanan publik lumpuh, dan warga pedalaman mulai merasakan kelaparan yang bukan lagi ancaman melainkan kenyataan harian.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengaku pemerintah daerah kini bekerja seperti tim SAR yang kehilangan peta: bergerak terus, tapi tak tahu kapan bantuan datang dari provinsi ataupun pusat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Hingga hari ini, bantuan yang ditunggu-tunggu itu masih tersangkut entah di mana. Akses darat terputus total, membuat distribusi logistik harus dilakukan lewat udara yang ironisnya hanya bisa menjangkau sebagian kecil wilayah.

BACA JUGA :  7 Hari Berlalu, Empat Tahanan Narkoba yang Kabur dari Rutan di Lampung Belum Tertangkap

“Ada daerah yang harus kita salurkan bantuan via udara, terutama di Kecamatan Lokop, Peunaron, dan Simpang Jernih. Beberapa desa yang sempat terisolir baru bisa kita tembus hari ini. Warga di pedalaman sudah kelaparan,” kata Iskandar kepada detikSumut, Minggu (30/11/2025).

Saking gentingnya situasi, sang bupati bahkan menulis surat tangan ke Bulog—bukan untuk formalitas, tapi untuk meminta beras demi menyelamatkan nyawa rakyatnya. Surat yang biasanya berisi bahasa birokrasi berlapis-lapis, kali ini berubah menjadi secarik permohonan mendesak seorang kepala daerah yang warganya sudah tak punya waktu menunggu rapat koordinasi.

BACA JUGA :  Kades Bacok Warganya hingga Kritis, Kesal Sering Ditanya Dana BLT

Sampai saat ini, jumlah pasti korban pun belum dapat dipastikan. Akses komunikasi terputus, listrik tak stabil, dan medan yang rusak membuat setiap informasi datang seperti kabar pos jaman dulu: lambat, terbatas, dan sering tidak lengkap.

“Kita harus terus bergerak meski dengan segala keterbatasan. Kita harus bergerak,” tegas Iskandar, mantan anggota DPRA yang kini memimpin daerah dalam keadaan serba darurat.

BACA JUGA :  Malam Panik di Sribasuki! Ketika Angin Menyapu, Pemerintah Menjemput

Logistik semakin menipis, rumah sakit lumpuh, banyak peralatan medis rusak. Tenaga kesehatan berjibaku dengan apa yang tersisa, bukan dengan apa yang dibutuhkan.

Sementara itu, banjir dan longsor melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa terparah terjadi pada Rabu (26/11) dini hari, seolah alam memberikan wake-up call yang tak ingin didengar siapa pun.

Listrik mati, komunikasi putus, dan hingga malam ini Aceh tetap berjuang dalam gelap baik secara harfiah maupun birokratis.***