LINGGA – Musyawarah Cabang (Muscab) III Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lingga kembali mengukuhkan satu hal yang sudah bisa ditebak sejak awal forum dibuka. Ruslan, yang akrab disapa Jagat, kembali memimpin secara aklamasi untuk periode 2026–2031.
Muscab yang digelar di Resort Benan Island, Sabtu (7/2/2026), berlangsung tertib dan formal, membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, hingga pemilihan ketua. Dalam pleno, nama Ruslan melenggang mulus tanpa perlawanan berarti.
Dari total hak suara, Ruslan mengantongi 11 suara dari ranting kecamatan yang hadir, dengan dua ranting absen. Dukungan juga datang dari Ketua DPD HNSI Provinsi Kepulauan Riau, menegaskan solidnya barisan organisasi setidaknya di atas kertas.
“Ini amanah organisasi sesuai AD/ART HNSI,” ujar Ruslan singkat, menegaskan bahwa pemilihan aklamasi merupakan hasil kesepakatan bersama, bukan sekadar formalitas prosedural.
Namun di balik suasana aklamasi yang hangat, realitas di laut Lingga masih terasa dingin. Kabupaten yang dikenal kaya sumber daya kelautan itu justru menyimpan ironi lama: laut luas, nelayan tetap pas-pasan.
Ruslan sendiri tak menampik kondisi tersebut. Usai pelantikannya, ia mengaku miris melihat besarnya potensi laut Lingga yang belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan nelayan.
“Potensi laut kita luar biasa, tapi belum berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan,” ujarnya, sebuah pernyataan yang terdengar jujur dan sekaligus menjadi tantangan besar di periode keduanya.
Ketua DPD HNSI Provinsi Kepulauan Riau, H. Eko Prihananto, mengingatkan bahwa perjuangan HNSI tak boleh berhenti di forum musyawarah. Ia menyoroti masih lemahnya pendataan kapal nelayan, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, asuransi nelayan, hingga database KTA anggota.
“Kalau data saja belum rapi, bagaimana memperjuangkan kebijakan?” tegasnya, menyentil problem klasik organisasi nelayan yang kerap kuat di jargon, lemah di administrasi.
Ruslan menegaskan bahwa HNSI bukan organisasi serba bisa, tetapi harus menjadi jembatan aspirasi nelayan kepada pemerintah dan stakeholder. Sinergi, kata dia, adalah kunci sebuah kata yang sering diucapkan, namun kerap kehilangan makna di lapangan.
“Kesejahteraan nelayan harus menjadi prioritas utama. HNSI harus hadir dan bersentuhan langsung dengan nelayan,” katanya.
Kini, periode kedua Ruslan bukan lagi soal legitimasi organisasi aklamasi sudah bicara. Yang dinanti nelayan Lingga adalah bukti nyata, apakah kepemimpinan ini mampu mengubah ironi lama, laut yang kaya, nelayan yang tetap berjuang di garis batas kesejahteraan.
Karena bagi nelayan, yang dibutuhkan bukan tepuk tangan di musyawarah, melainkan perubahan yang benar-benar terasa di rumah dan di laut. ***













