WawaiNEWS.ID – Kabar duka datang dari dunia politik Sumatera Selatan. Mantan Gubernur Sumsel dua periode, Alex Noerdin, meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) sekitar pukul 13.30 WIB di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, setelah menjalani perawatan medis.
Kepergian tokoh yang lama menjadi wajah pembangunan Sumatera Selatan itu sontak menyebar cepat. Ucapan belasungkawa mengalir dari pejabat, tokoh masyarakat, hingga warga yang mengenangnya sebagai figur sentral transformasi Palembang dan Sumsel dalam dua dekade terakhir.
Juru bicara keluarga, Okta Alyang, menyampaikan bahwa jenazah sempat disalatkan di rumah salah satu anak almarhum di Jakarta sebelum dipersiapkan untuk dipulangkan ke Palembang.
Jenazah dijadwalkan diberangkatkan Kamis pagi menuju rumah duka di Jalan Merdeka, Palembang. Setelah disalatkan kembali usai Zuhur, almarhum akan dimakamkan di pemakaman keluarga di TPU Kebun Bunga Palembang.
Pihak keluarga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir sebuah momen refleksi bagi publik atas perjalanan panjang karier politiknya.
Semasa hidupnya, Alex Noerdin dikenal sebagai salah satu arsitek pembangunan Sumatera Selatan. Di bawah kepemimpinannya, Palembang menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional dan mengalami percepatan pembangunan infrastruktur yang signifikan.
Nama Alex identik dengan modernisasi wajah kota: stadion megah, infrastruktur penunjang olahraga, dan dorongan positioning Palembang sebagai kota event berskala global. Ia membangun narasi besar tentang kebangkitan Sumsel di panggung nasional dan internasional.
Namun, di akhir perjalanan hidupnya, ia juga menghadapi proses hukum.
Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi revitalisasi Pasar Cinde sempat digelar di Pengadilan Tipikor PN Kelas 1 A Palembang pada Senin (23/2/2026). Agenda sidang kala itu mendengarkan keterangan saksi.
Namun sidang harus ditunda. Jaksa Penuntut Umum menerima surat keterangan dokter yang menyatakan terdakwa tengah sakit dan menjalani perawatan di Jakarta.
Penasihat hukum, Titis Rachmawati, menjelaskan kondisi kliennya kritis akibat sumbatan empedu dan infeksi saluran pankreas.
Dua hari setelah penundaan sidang itu, kabar wafat pun datang.
Kepergian Alex Noerdin meninggalkan ruang refleksi yang kompleks. Dalam politik, jarang ada warisan yang sepenuhnya putih atau sepenuhnya hitam.
Di satu sisi, ia dikenang sebagai pemimpin dengan visi pembangunan besar berani mendorong proyek ambisius dan mengangkat nama daerahnya.
Di sisi lain, proses hukum yang tengah berjalan menjadi pengingat bahwa jabatan publik selalu disertai pertanggungjawaban.
Sejarah akan mencatat keduanya.
Dan publik, seperti biasa, akan menilai dengan caranya sendiri.
Dalam suasana duka, yang utama tentu adalah penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Namun bagi masyarakat luas, wafatnya seorang tokoh publik juga menjadi momen evaluasi perjalanan kepemimpinan.
Politik pada akhirnya bukan hanya tentang kekuasaan dan proyek, tetapi juga tentang integritas dan akuntabilitas.
Alex Noerdin telah menyelesaikan bab kehidupannya.
Warisan, karya, dan kontroversinya kini menjadi bagian dari arsip sejarah Sumatera Selatan.
Semoga keluarga diberi ketabahan.
Dan semoga setiap pelajaran dari perjalanan panjang ini tidak ikut terkubur bersama pusara.***







