Scroll untuk baca artikel
Opini

Arogansi dan Elektabilitas Capres

×

Arogansi dan Elektabilitas Capres

Sebarkan artikel ini
Nomor urut Capres-Cawapres dalam Pilpres 2024 sesuai hasil pencabutan undian di KPU RI, Selasa 14 November 2023
Nomor urut Capres-Cawapres dalam Pilpres 2024 sesuai hasil pencabutan undian di KPU RI, Selasa 14 November 2023

Abdul Rohman Sukardi

Sebagai desclaimer, tulisan ini dibuat melalui HP. Mohon maaf jika tidak ternarasikan dengan baik.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

000

Apa hubungan arogansi dengan pergeseran elektoral capres?. Pertanyaan itu juga bisa diubah, “apa bener pergeseran elektoral capres itu disebabkan salah satunya oleh arogansi”?.

Pergeseran elektoral ini didasarkan temuan mayoritas survei. Seperti pada kasus capres 01 dan 03.

Pada awal pencalonan, sebagaimana survei CSIS, capres 01 merupakan kandidat pemenang kontestasi. Berpasangan dengan siapapun dan melawan paslon manapun akan menang.

Akan tetapi dalam minggu terakhir menjelang pemilihan, sejumlah survei menemukan kecenderungan lain. paslon 01 harus bertarung keras hanya untuk bisa masuk putaran kedua.

Begitu pula dengan capres 03. Melalui berbagai survei, bulan Oktober 2023 belum terfikir oleh banyak orang, akan terlempar dari putaran kedua.

BACA JUGA :  NU, Tambang, dan Mesin Peradaban

Sebagaimana kasus paslon 01, paslon 03 kini sama-sama harus bertarung untuk bisa masuk putaran kedua. Itupun jika pilpres tidak berlangsung satu putaran.

Menurut isu yang beredar, kemerosotan elektabilitas kedua paslon itu disebabkan campur tangan aparat. Termasuk gelontoran bantuan sosial pemerintah.

Berbeda dengan opini itu. Menurut saya ada faktor lain yang belum dihitung. Atau bahkan dilupakan. Ialah arogansi.

Apa saja bentuk-bentuk komunikasi atau sikap politik yang bisa dinilai publik sebagai arogansi? Mari kita cermati kemungkinan-kemungkinan itu.

Berdasar pencermatan diskursus publik melalui media konvensional dan media sosial. Bentuk-bentuk komunikasi publik atau sikap politik yang bisa dinilai sebagai aroganistik.

Pada paslon 01, pendukungnya, atau sebagian/oknum pendukungnya. Dapat diduga dalam bentuk, antara lain:

BACA JUGA :  Re-amandemen, Jalan Tengah Dua Kutub Ekstrim

Pertama, politisasi agama. Framming orang yang tidak memilih 01 sebagai rendah kadar keimanannya. Tidak mengikuti ajaran agama dengan benar.

Menurut kelompok ini, paslon 01 merupakan satu-satunya pilihan yang dibenarkan agama. Maka memilih paslon selain 01 berarti tidak mengikuti ajaran agama.

Sebagai bentuk aroganistik. Seakan tingkat keimanan kelompok ini sudah pasti paling baik. Di sisi lain, pendukung lawan politiknya divonis tidak benar keimanannya.

Kedua, merendahkan harkat kemanusiaan para pendukung lawan politik. Seperti label “dungu”, “dongok”, “otak dikit,” dan seterusnya. Kepada pendukung lawan. Atau kepada orang yang tidak sejalan dengan cara berfikirnya.

Ketiga, penilaian capres 01 soal kinerja kemenhan dengan skor 1.1. Sebelas dari 100. Merupakan bentuk penghinaan dan merendahkan institusi penting dengan seluruh slag orde di dalamnya. Penilaian capres ini dinilai sebagai sikap araganistik dan tidak menghargai kerja aparat.

BACA JUGA :  Pasukan Cuaca dan Pengumuman KPU

Keempat, cara pandang bahwa “hanya kecurangan yang bisa mengalahkan capresnya”. Sikap bisa dinilai arogan karena merasa paling benar. Orang lain selalu salah.

Keempat hal itu (setidaknya) bisa dinilai sebagai bentuk-bentuk sikap aroganistik oleh publik. Mengundang antipati dari masyarakat sehingga memerosotkan elektoralnya.

Bagaimana dengan paslon 03?

Dugaan sikap yang bisa dinilai aroganistik itu antara lain:

Pertama, sikap ketua umum PDIP kepada presiden Jokowi. Secara terbuka menyatakan bahwa Presiden Jokowi tidak ada apa-apanya jika tidak ada PDIP.

Statemen itu bisa dinilai sebagai aroganistik dan merasa paling berkuasa. Paling jumawa.

Yusuf Blegur
Opini

Disampaikan Oleh Yusuf Blegur Puisi ini bukan tentang…