Scroll untuk baca artikel
EKONOMIOPINI

Daik Lingga, Tanah Melayu yang Bersiap Menjadi Pusat Ekonomi Baru

×

Daik Lingga, Tanah Melayu yang Bersiap Menjadi Pusat Ekonomi Baru

Sebarkan artikel ini
Foto Gunung Daik jadi ikon di Lingga saat menjejakkan kaki di Bunda Tanah Melayu - dok

Daik menyambut dengan keasriannya. Udara, suasana, dan identitas Melayu yang terasa kuat membuat saya seperti bertemu kembali dengan bagian dari masa lalu.

Tetapi kali ini saya datang dengan pandangan yang sedikit berbeda.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Saya bukan hanya ingin melihat apa yang masih bertahan. Saya juga ingin mengetahui apa yang sedang berubah.

Perubahan itu terlihat dari perkembangan infrastruktur dan pembukaan sejumlah jalan. Saya juga sempat berkeliling menyaksikan kawasan yang mulai dibuka untuk rencana perkebunan sawit di wilayah Lingga Utara.

Sejauh mata memandang, bentang alamnya menyimpan potensi besar.

Di tempat seperti ini, pembangunan memang memiliki dua wajah. Ada peluang ekonomi yang dapat membuka kehidupan baru, tetapi ada pula tanggung jawab untuk memastikan alam dan hak masyarakat tidak menjadi korban.

BACA JUGA :  Dukungan Parpol untuk Paslon Nizar-Novrizal di Pilkada Lingga Tak Terbendung

Lingga tidak harus kehilangan jati dirinya untuk menjadi daerah yang lebih maju.

Justru kekuatan Lingga terletak pada kemampuannya mempertemukan dua hal yang sering dianggap berlawanan yaitu kemajuan ekonomi dan kelestarian identitas lokal.

Sektor perkebunan bisa berkembang. Infrastruktur bisa diperbaiki. Lapangan kerja bisa diperluas. Namun, budaya Melayu, kehidupan nelayan, serta hubungan masyarakat dengan alam tetap perlu dijaga.

Daya tarik sebuah daerah tidak selalu terletak pada apa yang baru dibangun. Kadang justru pada sesuatu yang tetap dipertahankan ketika zaman berubah.

Saya masih merasakan magnet budaya Melayu di Daik.

BACA JUGA :  194 Liter Minyak Goreng Ditemukan Menumpuk di Tubaba, Pemilik Toko Akan Dipanggil Polisi 

Keramahan masyarakatnya. Aktivitas nelayan. Suasana yang tidak sepenuhnya tunduk pada hiruk-pikuk kota besar. Semuanya menjadi bagian dari identitas yang tidak mudah digantikan.

Di tengah pembicaraan tentang investasi dan pertumbuhan ekonomi, identitas semacam itu penting untuk diingat.

Pembangunan bukan perlombaan untuk mengubah desa menjadi kota secepat-cepatnya. Pembangunan adalah ikhtiar agar masyarakat memiliki kehidupan yang lebih baik tanpa harus kehilangan akar budayanya.

Lingga memiliki modal untuk itu.

Kekayaan alam, posisi strategis, tradisi Melayu, dan peluang investasi bisa menjadi kombinasi yang menjanjikan jika dikelola dengan bijaksana.

Tentu, jalan menuju ke sana tidak otomatis mulus. Investasi harus benar-benar berjalan. Infrastruktur harus menjangkau kebutuhan masyarakat. Lapangan kerja mesti memberi manfaat nyata. Dan setiap persoalan lahan harus diselesaikan secara adil.

BACA JUGA :  Bupati Lingga Sambut Kehadiran Panglima TNI Tinjau SGS di Pantai Todak

Tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda ketika saya kembali ke Daik bahwa pembicaraan tentang masa depan kini semakin nyata.

Dulu, Lingga lebih sering hadir dalam ingatan saya sebagai daerah dengan kekayaan sejarah dan budaya. Sekarang, ada harapan baru yang ikut menyertai cerita tentangnya.

Harapan bahwa kebun tidak sekadar menghasilkan komoditas, tetapi juga membuka pekerjaan. Bahwa investasi tidak berhenti pada pembukaan lahan, tetapi berlanjut menjadi industri. Bahwa kemajuan tidak hanya terlihat dari jalan yang terbentang, tetapi juga dari kehidupan warga yang semakin sejahtera.

Mungkin benar, Lingga sedang bersiap melangkah menuju babak baru.

Bersambung.***