Oleh: Rajo Mengiyan
WawaiNEWS.id – Ada tempat yang pernah kita singgahi sebentar, tetapi ingatannya tinggal lama.
Daik, Lingga, salah satunya.
Dulu, pada masa-masa awal Provinsi Kepulauan Riau berpisah dari Riau, saya pernah ditugaskan meliput daerah ini. Waktunya tidak lama. Namun, ada sesuatu yang melekat dari Daik yakni suasana Melayu yang kental, keramahan orang-orangnya, dan kehidupan yang bergerak mengikuti irama laut, kebun, serta tradisi.
Kini saya kembali.
Daik masih menyimpan wajah lamanya. Tetapi di sejumlah sudut, perubahan mulai terlihat. Jalan-jalan terbuka, infrastruktur berkembang, dan pembicaraan tentang masa depan ekonomi semakin sering terdengar.
Kabupaten Lingga, yang beribu kota di Daik, genap berusia 24 tahun pada November 2026. Dua puluh empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar bagi sebuah daerah untuk mengenali potensinya sendiri.
Pertanyaannya, bagaimana potensi itu akan diubah menjadi kesejahteraan?
Saya mulai mendapatkan gambaran jawabannya sehari sebelum menyeberang ke Lingga.
Di Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, saya bertemu teman lama pada pekan pertama Oktober 2026 ini. Namanya Agustinus Marpaung. Kini ia berprofesi sebagai advokat di Kota Gurindam itu.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi di kawasan Batu 9.
Seperti lazimnya pertemuan kawan lama, obrolan awalnya ke mana-mana. Mengenang masa lalu. Membicarakan keadaan sekarang. Lalu, tanpa terasa, pembicaraan mengarah ke masa depan Lingga.
Agus tampak bersemangat ketika bercerita tentang Lingga.
Menurut dia, daerah yang selama ini dikenal dengan kekayaan budaya Melayu dan potensi alamnya itu berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kepulauan Riau.
Apa pemicunya?
Investasi perkebunan kelapa sawit yang tengah diupayakan masuk dan berkembang di daerah tersebut.
“Lingga, dengan masuknya investasi sawit yang saat ini terus dikejar, jika berjalan maksimal, akan menjadi pusat ekonomi baru di Kepri,” katanya meyakinkan.
Saya mendengarkan.
Sebagai orang yang dulu pernah ditugaskan ke Lingga, saya tahu bahwa membicarakan potensi sebuah daerah jauh lebih mudah daripada mewujudkannya. Sumber daya alam bisa melimpah, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, kekayaan itu belum tentu menjadi kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Karena itu, saya tertarik ketika Agus tidak hanya berbicara tentang investasi dari kejauhan.
Ia mengaku beberapa kali bolak-balik ke Lingga untuk mengurus kepentingan klien-nya terkait persoalan lahan. Bahkan, ia pernah bermalam di salah satu desa di wilayah Singkep Barat.
Dari perjalanannya itu, ia mendengar langsung cerita warga mengenai perubahan yang mulai mereka rasakan.
Salah satu daerah yang diceritakannya adalah Desa Tinjul, Singkep Barat dia bermalam di rumah kliennya.
Di sana, menurut Agus, sejumlah warga yang sebelumnya mengandalkan kebun karet mulai beralih setelah lahan mereka dibeli perusahaan berdasarkan kesepakatan. Sebagian warga juga mendapat kesempatan bekerja.
Bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil kebun, perubahan semacam itu tentu menarik perhatian.
Kebun bukan sekadar hamparan tanah. Di sanalah penghasilan keluarga bertumpu, biaya sekolah anak dicari, dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi.
Ketika lahan berubah fungsi, pertanyaan warga sederhana saja yakni setelah ini, bagaimana kami hidup?
Agus mengatakan, dari pengamatannya di lapangan, ada warga yang menyambut positif kehadiran perusahaan. Ia juga menuturkan bahwa sebagian masyarakat mengaku menerima bantuan menjelang Lebaran.
“Saya ada bersama masyarakat, terjun langsung ke lapangan. Ini bukan mengada-ada,” ujarnya.
Tentu, pengalaman yang diceritakan seorang teman belum mewakili seluruh suara masyarakat. Namun, cerita itu memberi gambaran bahwa investasi bukan semata-mata urusan perusahaan dan angka-angka modal. Di tingkat desa, investasi bisa berarti peluang kerja, perubahan mata pencaharian, dan harapan baru bagi keluarga.
Di situlah ukuran keberhasilannya seharusnya diletakkan.
Bukan hanya berapa luas lahan yang dibuka. Bukan pula semata-mata berapa besar investasi yang masuk.
Yang lebih penting adalah berapa banyak warga memperoleh manfaat nyata, apakah hak atas tanah mereka terlindungi, dan apakah kesempatan ekonomi itu dapat bertahan dalam jangka panjang.
Agus membandingkan pola yang diharapkannya berkembang di Lingga dengan pola kemitraan perkebunan di Riau, termasuk keterlibatan koperasi dan skema bapak angkat.
Menurut dia, apabila rencana tersebut berjalan baik dan pembangunan pabrik pengolahan sawit atau hilirisasi benar-benar terealisasi, dampaknya bisa lebih luas.
Lingga tidak hanya menjual hasil kebun dalam bentuk bahan mentah. Daerah ini berpeluang membangun kegiatan ekonomi lanjutan yang membuka kebutuhan tenaga kerja baru.
Pabrik membutuhkan pekerja. Distribusi membutuhkan angkutan. Kegiatan produksi membutuhkan jasa pendukung. Usaha kecil di sekitar kawasan ekonomi pun berpeluang tumbuh.
Rantai ekonomi seperti itulah yang bisa membuat manfaat investasi menjalar ke banyak lapisan masyarakat.
Bukan hanya kepada pemilik modal.
Namun, semua itu masih membutuhkan proses. Rencana hilirisasi harus dibuktikan dengan realisasi, sedangkan kemitraan harus dibangun dengan aturan yang jelas, keterbukaan, dan perlindungan terhadap masyarakat.
Agus punya pandangan sendiri mengenai persoalan yang mungkin muncul.
Menurut dia, jika ada kekurangan atau persoalan dalam pelaksanaan investasi, jalan keluarnya perlu dicari melalui dialog dan perbaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menilai penolakan bukan satu-satunya jawaban atas setiap persoalan.
Pandangan itu menarik untuk dicatat. Sebab, investasi dan kepentingan masyarakat sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua kutub yang saling berlawanan.
Perusahaan membutuhkan kepastian usaha. Masyarakat membutuhkan kepastian hak dan penghidupan. Pemerintah berkewajiban memastikan keduanya berjalan dalam koridor hukum.
Kalau ketiga kepentingan itu bertemu, pembangunan memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan manfaat bersama.
Kalau tidak, yang tumbuh mungkin hanya perkebunannya, sementara kesejahteraan warga tertinggal di belakang.
Perjalanan ke Lingga akhirnya membawa saya kembali pada ingatan lama.













