Scroll untuk baca artikel
Lingkungan Hidup

Dari Sampah Jadi Berkah: Tri Adhianto Gandeng UNDP, Bekasi Bidik Ekonomi Sirkular dan Zero Waste

×

Dari Sampah Jadi Berkah: Tri Adhianto Gandeng UNDP, Bekasi Bidik Ekonomi Sirkular dan Zero Waste

Sebarkan artikel ini
Bekasi Menuju Zero Waste, Bukan Sekadar Slogan

KOTA BEKASI — Jika selama ini sampah identik dengan bau, tumpukan, dan keluhan warga, Pemerintah Kota Bekasi ingin mengubah narasi itu. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa sampah kini harus dibaca sebagai sumber daya ekonomi, bukan sekadar residu kota.

Pesan itu disampaikan Tri Adhianto saat menghadiri pertemuan pengurus Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) se-Kota Bekasi, dalam rangka seleksi mitra potensial implementasi proyek Circular Innovation for Transformation and Responsible Action (CITRA) Indonesia. Kegiatan berlangsung di Islamic Center Kota Bekasi dan diikuti puluhan pengelola bank sampah serta TPS3R dari berbagai wilayah.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Program CITRA Indonesia merupakan kolaborasi antara Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dan United Nations Development Programme (UNDP). Bagi Kota Bekasi, program ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan ujian keseriusan dalam mengelola sampah secara sistemik dan berkelanjutan.

BACA JUGA :  Wali Kota Bekasi Letakkan Batu Pertama Gerai Koperasi Desa di Rawalumbu

Dalam sambutannya, Tri Adhianto menegaskan bahwa CITRA Indonesia tidak boleh dipahami sebatas proyek pengurangan volume sampah.

“Program ini bukan hanya soal mengurangi sampah, tetapi tentang transformasi perilaku, peningkatan kapasitas, dan inovasi. Ini fondasi penting pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujar Tri, Rabu (17/12).

Dengan kata lain, pendekatan lama angkut, buang, lalu lupa sudah tidak relevan. Kota dengan kepadatan tinggi seperti Bekasi dituntut membangun ekosistem ekonomi sirkular, di mana sampah dipilah sejak sumbernya, diolah, dan memberi nilai tambah ekonomi.

Tri juga memberikan apresiasi khusus kepada Bank Sampah dan TPS3R, yang selama ini bekerja di lapisan paling bawah pengelolaan sampah sering tanpa sorotan, tapi dengan dampak nyata.

BACA JUGA :  Cegah Banjir dari Hulu ke Hilir, KDM: Akan Ada Perubahan Tata Ruang di Puncak Bogor

“Bapak dan Ibu adalah ujung tombak perubahan. Tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menggerakkan kesadaran warga agar bertanggung jawab memilah sampah dari rumah,” katanya.

Di tengah target ambisius pengurangan sampah nasional, keberadaan bank sampah dan TPS3R kerap menjadi penopang utama. Sayangnya, peran mereka sering kalah populer dibanding wacana besar tentang TPA atau teknologi mahal.

Bekasi Menuju Zero Waste, Bukan Sekadar Slogan

Melalui seleksi mitra CITRA Indonesia ini, Pemkot Bekasi berharap muncul Bank Sampah dan TPS3R unggulan yang siap naik kelas lebih profesional, modern, dan berdaya saing.

“Kita ingin kualitas kelembagaan Bank Sampah dan TPS3R terus meningkat agar mampu mendukung target Kota Bekasi menuju zero waste dari hulu, sekaligus berkontribusi pada penanganan sampah laut secara nasional,” tegas Tri.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa zero waste bukan slogan seremoni, melainkan kerja panjang yang dimulai dari dapur rumah tangga hingga kebijakan kota.

BACA JUGA :  Operasional TPPAS Lulut Nambo, Sekda Jabar : Mudah-mudahan Minggu Depan Uji Coba

Tri Adhianto juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti proses seleksi secara serius, terbuka terhadap inovasi, dan aktif memperluas jejaring kerja sama baik dengan pemerintah, swasta, maupun mitra internasional.

Pemerintah Kota Bekasi, menurutnya, berkomitmen mendukung setiap inisiatif yang sejalan dengan peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah krisis sampah yang kerap menjadi “warisan” kota-kota besar, Bekasi mencoba mengambil jalan berbeda: mengubah sampah dari masalah laten menjadi peluang nyata. Tantangannya kini bukan lagi pada konsep, melainkan pada konsistensi pelaksanaan.

Sebab, di kota ini, masa depan lingkungan tak hanya ditentukan oleh armada pengangkut sampah, tetapi oleh sejauh mana warga dan pemerintah mau berubah bersama.***