JAKARTA – Diplomasi tak selalu soal angka perdagangan atau nota kesepahaman bernilai triliunan. Kadang ia dimulai dari hena, kaligrafi, hingga anyaman rotan. Itulah yang mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dengan Duta Besar Yaman untuk Indonesia, Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Pertemuan tersebut menjajaki peluang kerja sama seni dan kebudayaan antara Indonesia dan Yaman dua negara yang disebut memiliki hubungan historis sejak abad ke-7. Relasi panjang, namun ironisnya belum memiliki perjanjian kerja sama kebudayaan yang secara khusus mengikat kedua negara.
Di sinilah peluang itu muncul: sejarah sudah kuat, payung hukumnya yang belum lengkap.
Fadli Zon menekankan pentingnya merumuskan kerangka kerja sama budaya yang konkret dan berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia dan Yaman memiliki banyak kesamaan akar budaya yang bisa dikembangkan bersama.
Beberapa bidang yang disebut potensial antara lain:
- Seni hena
- Seni ukir
- Kerajinan gerabah
- Anyaman bambu dan rotan
- Pemanfaatan pohon kurma
- Seni kaligrafi
Kolaborasi ini tak sekadar simbolik. Jika dikelola serius, pertukaran pengetahuan, teknik, dan inspirasi antarseniman bisa memperkaya khazanah budaya kedua negara.
Karena dalam diplomasi budaya, yang dipertukarkan bukan hanya karya, tetapi juga cara pandang.
Salah satu gagasan strategis yang dibahas adalah kemungkinan pengajuan warisan budaya takbenda bersama ke UNESCO. Skema ini membuka peluang pengakuan internasional sekaligus memperkuat pelestarian budaya.
Langkah semacam ini tak hanya berdampak simbolik, tetapi juga bisa meningkatkan daya tarik pariwisata budaya dan memperluas jejaring global kedua negara.
Namun tentu, pengajuan ke UNESCO bukan sekadar mengirim berkas. Ia membutuhkan riset, dokumentasi, serta komitmen jangka panjang.
Dubesi Yaman, Salem Balfakeeh, menegaskan bahwa hubungan Yaman–Indonesia bukan hubungan baru. Ia menyoroti migrasi warga Yaman ke Nusantara yang berperan dalam penyebaran Islam serta pembentukan struktur sosial dan budaya di Indonesia.
Jejak sejarah itu masih terasa hingga kini. Bahkan, menurutnya, sekitar 7.000 mahasiswa Indonesia saat ini menempuh pendidikan di Yaman. Keberadaan mereka menjadi jembatan sosial dan kultural yang memperkuat hubungan antar-masyarakat kedua negara.
Artinya, diplomasi budaya tak hanya berlangsung di ruang rapat kementerian, tetapi juga di kampus-kampus dan komunitas.
Menariknya, pembahasan tak berhenti di seni dan budaya. Dubes Yaman juga mendorong pengaktifan kembali komite bersama Indonesia–Yaman serta perluasan kerja sama di bidang perdagangan, ekonomi, dan investasi.
Isyaratnya jelas: budaya bisa menjadi pintu masuk, tetapi hubungan bilateral idealnya bergerak lintas sektor.
Pertemuan ini menandai langkah awal yang menjanjikan. Namun tantangan sebenarnya ada pada implementasi. Banyak kerja sama budaya berakhir pada foto bersama dan siaran pers, tanpa tindak lanjut nyata.
Jika Indonesia dan Yaman benar-benar ingin mempererat relasi, maka yang dibutuhkan bukan hanya nostalgia sejarah, tetapi juga roadmap konkret, anggaran yang memadai, dan program berkelanjutan.
Karena budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah investasi masa depan asal dikelola dengan keseriusan, bukan sekadar seremoni.***












