WawaiNEWS.ID – Tidur bukan cuma soal memejamkan mata. Ia adalah “mode perbaikan sistem” tubuh manusia versi biologis dari update semalam suntuk. Kurang tidur? Siap-siap lemot, emosional, dan merasa hidup seperti sinetron tanpa ending. Tak heran, riset demi riset menunjukkan tidur cukup berkorelasi kuat dengan umur panjang. Singkatnya: ingin panjang umur? Mulailah dari bantal.
Baru-baru ini, raksasa furnitur asal Swedia, IKEA, melakukan survei online terhadap 55.221 responden global dalam laporan bertajuk IKEA Sleep Report 2025. Hasilnya? Dunia ini ternyata lebih bucin pada kasur daripada pada kehidupan malam.
Sebanyak 70% responden sepakat bahwa tidur adalah salah satu kenikmatan terbesar dalam hidup. Lebih dari separuh bahkan rela menukar undangan nongkrong dengan notifikasi “Do Not Disturb”. Mahasiswa (74%), orang tua (74%), dan pekerja shift malam (75%) berada di barisan terdepan para pemuja selimut. Bisa dimaklumi: mahasiswa begadang skripsi, orang tua begadang anak, pekerja shift begadang nasib.
Lima Negara Paling “Cinta Kasur”
Menurut laporan tersebut, lima negara yang paling menganggap tidur sebagai kenikmatan hidup adalah:
- Indonesia (73%)
- Thailand (71%)
- Filipina (68%)
- Singapura (66%)
- Mesir (65%)
Indonesia memimpin. Bangga? Tentu. Produktif? Itu pertanyaan berbeda.
Dr. Sophie Bostock, pendiri The Sleep Scientist, menjelaskan bahwa negara-negara dengan skor tinggi seperti Indonesia dan India cenderung menempatkan hubungan keluarga sebagai prioritas.
Ikatan sosial yang kuat membantu membangun rasa tujuan dan kebahagiaan yang pada akhirnya bisa meningkatkan kualitas tidur. Artinya, makan bareng keluarga mungkin sama pentingnya dengan beli kasur empuk.
Fakta-Fakta Unik (dan Sedikit Ironis) dari Seluruh Dunia
Laporan ini juga menyuguhkan potret kebiasaan tidur global yang kadang bikin kita mengernyit—atau tersenyum getir:
- Mesir mencatat 64% responden menilai kualitas tidur mereka baik angka tertinggi di antara semua pasar yang disurvei. Mungkin rahasianya bukan piramida, tapi pola tidur.
- India memimpin dalam penggunaan obat tidur: 37% responden mengaku mengandalkannya. Ketika pikiran tak bisa dimatikan, farmasi jadi tombol “power off”.
- Bulgaria punya ritual pagi paling tegas: 57% langsung minum kopi saat bangun, jauh di atas rata-rata global 24%. Mereka tidak bangun untuk hidup; mereka bangun untuk kafein.
- Jepang menjadi negara dengan durasi tidur tersingkat rata-rata hanya 6 jam 10 menit per malam. Negeri efisiensi ini tampaknya juga efisien dalam mengurangi waktu rebahan.
Dunia yang Letih tapi Enggan Mengaku
Di satu sisi, dunia mengakui tidur sebagai kenikmatan tertinggi. Di sisi lain, banyak yang masih begadang demi pekerjaan, media sosial, atau sekadar menonton “satu episode lagi” yang berujung subuh. Kita memuja tidur seperti puisi tapi memperlakukannya seperti opsi.
IKEA mungkin menjual ranjang, tapi laporan ini menjual kesadaran: di tengah ambisi, deadline, dan distraksi digital, manusia modern ternyata cuma ingin satu hal sederhana tidur nyenyak tanpa alarm.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan itu bukan selalu soal jalan-jalan ke luar negeri. Kadang cukup dengan kalimat paling indah di dunia: “Besok nggak perlu bangun pagi.”***













