LAMPUNG TIMUR – Kesabaran warga Desa Taman Bogo, Kecamatan Purbolinggo, akhirnya ambrol bersama aspal yang retak dan berlubang. Jalan desa yang belum lama mulus kini berubah jadi “arena uji suspensi” akibat diduga kerap dilintasi truk bertonase lebih dari 8 ton.
Geram dengan kerusakan yang makin parah, warga kompak menghentikan dan mengusir truk-truk besar yang nekat melintas. Kendaraan jenis tronton dan truk ODOL (Over Dimension Over Load) disebut tetap masuk, meski sudah ada imbauan pembatasan tonase.
Pengusiran itu pun kini viral di media sosial, aspal yang sebelumnya halus kini dipenuhi lubang besar dan retakan panjang. Saat hujan turun, sebagian ruas berubah menjadi kubangan lumpur. Aktivitas warga pun terganggu mulai dari berangkat kerja, mengantar anak sekolah, hingga distribusi hasil pertanian.
“Jalan makin rusak parah akibat mobil dengan tonase di atas 8 ton. Kami menunggu lama diperbaiki, baru saja menikmati jalan halus malah dirusak mobil monster alias tronton dengan muatan lebih dari 8 ton,” tegas Selamet (19/02/26), warga yang akrab disapa Mas Shela.
Menurutnya, truk pengangkut material seperti semen, keramik, hingga hasil industri lainnya kerap melintas pada jam-jam tertentu. Padahal, jalan desa tersebut tidak dirancang untuk menahan beban berat secara terus-menerus.
Kondisi makin memburuk saat musim hujan. Lubang-lubang tertutup genangan air, membuat pengendara roda dua dan roda empat sulit memperkirakan kedalaman jalan yang rusak.
“Tidak sedikit warga hampir terjatuh atau kendaraannya rusak karena lubang tertutup air,” tambahnya.
Secara teknis, jalan desa umumnya memiliki spesifikasi konstruksi terbatas. Jika terus dipaksa menahan beban berlebih, kerusakan dini hampir pasti terjadi. Akibatnya, anggaran perbaikan jalan berpotensi terkuras berulang kali seperti menambal luka yang tak pernah diberi obat.
Warga menilai imbauan pembatasan tonase belum ditegakkan maksimal. Tanpa pengawasan rutin dan sanksi tegas, larangan tinggal menjadi papan pengumuman yang diabaikan.
Masyarakat mendesak adanya langkah konkret: pemasangan rambu permanen, portal pembatas tinggi kendaraan, hingga razia berkala terhadap truk ODOL.
“Kami hanya ingin jalan desa ini awet dan nyaman digunakan masyarakat. Jangan sampai uang negara untuk perbaikan jalan terus terbuang sia-sia karena tidak ada pengawasan,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Persoalan ini bukan sekadar lubang di aspal, tetapi juga soal ketegasan regulasi. Di satu sisi, distribusi logistik penting bagi ekonomi. Di sisi lain, infrastruktur desa punya daya tahan terbatas.
Jika pengawasan longgar, yang jadi korban bukan hanya jalan, tetapi keselamatan warga. Dan ketika warga sudah turun tangan mengusir truk, itu menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap pengawasan resmi mulai aus seaus aspal yang digerus roda bertonase raksasa.
Kini, warga Desa Taman Bogo menunggu tindakan nyata dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Sebab jika dibiarkan, bukan hanya jalan yang rusak melainkan juga kesabaran masyarakat.***












