Scroll untuk baca artikel
Opini

Jumhur Hidayat, Rocky dan Perjuangan Buruh Tanpa Akhir

×

Jumhur Hidayat, Rocky dan Perjuangan Buruh Tanpa Akhir

Sebarkan artikel ini
Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle (foto_scn)
Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle (foto_scn)

Oleh: (Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

WAWAINEWS.ID – Rocky Gerung adalah bapak kata-kata alias “Man of ideas”. Tapi Jumhur Hidayat adalah orang yang melaksanakan kata-kata alias “Making Ideas Happen.”

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Scott Blesky mengatakan “An idea can only become a reality once it is broken down into organized, actionable elements”. Dalam kasus yang heboh terkait ucapan Rocky tentang ” Bajingan Tolol”, dia mencetuskan ide tentang memacatkan jalanan, buruh harus memacatkan jalan-jalan tol supaya didengar suara mereka di ruang publik. Agar tuntutan buruh terkait pencabutan Omnibus Law Ciptaker, UU penindasan buruh, dikabulkan. “Macet jalan tol bagus, yang penting jangan macet jalan pikiran,” kata Rocky.

BACA JUGA: Rocky De Plato dan Perubahan Sesungguhnya

Ide ini akan menjadi kenyataan, karena Jumhur sudah memacatkan jalan sejak 3/8 lalu, sejak Longmarch Buruh Bandung-Jakarta berlangsung. Tanggal 10/8, besok, ratusan ribu buruh akan berdemonstrasi di Jakarta. Jalan2 akan macet tentunya.

Perjuangan buruh menolak UU Omnibus Law Ciptaker sudah berlangsung 3 tahun. Pada keterangan pers kemarin Jumhur mengatakan perjuangan ini akan berhasil kalau kaum buruh, khususon pemimpin buruh, tidak “dua kaki”.

Satu kakinya sebagai penyembah istana, sedang satu kaki lainnya mengatasnamakan penderitaan buruh. Menurutnya, perjuangan total harus dilakukan dengan vis a vis atau berhadapan. Demo buruh besok harus total, tidak ada yang berunding ke istana sebelum Jokowi mencabut UU Omnibus Law melalui perpu.

BACA JUGA: Rocky dan Gerung Perlawanan, Menghidupkan Makna Merdeka yang Sebenarnya

UU Omnibus Law Ciptaker, baik secara keseluruhan maupun sektor ketenagakerjaan, menurut kaum buruh sama saja atau lebih buruk dari UU era kolonial. Buruh benar-benar tidak dihargai sebagai bagian pencipta pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Bukan “stake holder”.

Sebelum UU itu ada, kaum buruh bisa berunding dalam merumuskan kesejahteraan mereka bersama pemerintah dan pengusaha. Mereka bisa juga merencanakan karir mereka karena kepastian kerja dalam jangka panjang ada. Bisa juga kaum buruh bangga sebagai bagian keluarga besar korporasi mereka, karena banyak perusahaan biasanya mengajak keluarga buruh dalam mempertahankan keberhasilan usaha.