Scroll untuk baca artikel
AdvertorialKabar Desa

Kades itu jabatan, Tapi Ngurut itu Profesi

×

Kades itu jabatan, Tapi Ngurut itu Profesi

Sebarkan artikel ini

LAMTIM – Usianya terbilang muda, tapi Sumarlan Kepala Desa Pugung Raharjo, di wilayahnya lebih akrab di panggil ‘Mbah’ oleh warga setempat. Ya, Mbah Suluhuk, seakan nama lain dari profesi sang Kepala Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur tersebut.

Menjadi Kepala Desa itu, Jabatan tapi Ngurut itu Profesi, ucapan tersebut disampaikan Mbah Suluhuk. Ditengah kesibukan sebagai Kepala Desa sejak tahun 2017 lalu, pemilik Nama Lahir Sumarlan tersebut tetap mengabdikan kepandaiannya mengobati melalui urut untuk menolong meringankan beban orang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Mbah Suluhuk, adalah nama profesi saat menolong orang. Tapi Sumarlan, sang Kepala Desa terpilih di Pugung Raharjo. Jabatan dan kepandaiaan saya itu adalah amanah yang sama-sama untuk mengabdi kepada masyarakat,”ujar Sumarlan, kepada Wawai News, Rabu (22/1/2020).

Tak heran, meski ia sudah dikenal sebagai kepala desa di Pugung Raharjo, masih banyak warga yang memanggil untuk meminta pertolongannya untuk diobati dan urut, bahkan  tak hanya di desa Pugung Raharjo. Mbah Suluhuk, kerap di panggil ke berbagai daerah untuk mengurut, mereka percaya berkat kuasa sang khalik, jika dipegang tangan dinginnya  maka berbagai penyakit bisa disembuhkan.

BACA JUGA :  Kakon dan PLD Sampang Turus Tanggamus saling tuding terkait anggaran tagihan Wi-Fi

Sumarlan, menetap di Desa Pugung Raharjo terhitung sejak tahun 1997 silam. Dia mengawali karirnya di desa tersebut hanya sebagai seorang anggota Linmas dengan bertugas menjaga keamanan pasar di wilayah setempat. Berkat kepandaian dalam bergaul disokong ada keahlian yang dibawa dari kampung halamannya yakni dibidang urut akhirnya namanya cukup populer.

“Mungkin karena jasa membantu meringankan beban dengan mengobati orang melalui teknik urut, lama ke lamaan saya dipanggil Mbah Suluhuk. Padahal saya masih muda,”ucap pria kelahiran Jawa Timur ini, mengaku lahir pada tahun 1977.

Namun panggilan tersebut seperti berkah baginya, hingga dipercaya warga desa Pugung Raharjo untuk memimpin Ibu Kota Kecamatan Sekampung Udik tersebut. Desa Pugung di Lampung Timur seakan menjadi Indonesia Mini, kemajemukan ada di sana.

BACA JUGA :  Seperti Lingkaran Setan, Dugaan Korupsi Berjemaah Terjadi di Pekon Kejayaan
Gedung Olah Raga(GOR) Desa Pugung Raharjo, yang dibangun melalui Dana Desa setempat, Rabu (22/1/2020) – foto Kandar

Warga Pugung Raharjo sendiri, tidak hanya di dominasi warga dari Pulau Jawa tetapi ada dari berbagai wilayah Indonesia. Tak heran meskipun Sumarlan, yang terbilang baru masuk ke Desa Pugung Raharjo tetapi dipercaya sebagai Kepala Desa melalui pemilihan langsung.

Sumarlan, sebenarnya dua kali mencalonkan diri sebagai Kepala Desa setempat. Pertama pada tahun 2011, dia berlawan hanya dengan dua calon. Tetapi di pencalonan pertama dia kalah dan belum mendapat kepercayaan warga.

Meskipun tidak terpilih, dia tetap mengabdi kepada masyarakat setempat. Hingga akhirnya di tahun 2017 saat pelaksanaan Pilkades serentak dia kembali mencalonkan diri. Ditahun tersebut, dia melawan dua kandidat yang ikut maju sebagai calon kades.

“Tentu lebih berat, di tahun 2011 hanya dua kandidat, tapi 2017 ada . Tapi di 2017 ada tiga calon. Tapi berkat kerja keras dan pengabdian akhirnya bisa memperoleh suara signifikan mencapai 2464 suara dibanding calon lainnya,”paparnya.

BACA JUGA :  Pekon Way Gelang Gulirkan Program Ketahanan Pangan, Tebar 44 Ribu Benih Ikan Nila

Meski terbilang baru dua tahun menjabat Kepala Desa, Sumarlan terus menunjukkan pengabdiannya untuk membangun dan memajukan desa Pugung Raharjo sesuai amanah yang diembannya. Memasuki tahun ketiga, dia menunjukkan keinginan membangun sarana olahraga bagi warganya Gedung Olah Raga (GOR) Desa.

“Pembangunan GOR dengan ukuran 18×25 Meter, dana desa, dan diambil dari Pendapatan Asli Desa (PAD) 4×16 meter yang dikumpulkan selama dua tahun. Bahkan banyak uang hasil saya bantu orang seperti ngobati dan urut yang disumbangkan untuk membangun gedung serbaguna desa Pugung Raharjo sendiri,”ujarnya.

Keterbukaan dan saling percaya dalam memimpin desa Pugung Raharjo diterapkan Sumarlan bersama staf desa dan perangkat lainnya. Sehingga ia memposisikan diri hanya pengawasan karena semua aparatur diserahkan tugas sesuai Tupoksi masing-masing, kalo tidak beres maka akan saya tegur.

“Memimpin itu adalah managemen, kolo niki tenan-tenan sing arep mengabdi karo masyarakat Pugung, mogi-mogi warga ku di parinangi kesehatan selalu,”tutup nya. (Kandar)