LAMPUNG – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Lampung Melawan (ALM) menggelar aksi damai di kompleks DPRD Provinsi Lampung, Senin (23/2/2026). Mereka menyuarakan aspirasi dengan orasi dan spanduk di bawah terik matahari.
Di tengah aksi tersebut, satu pemandangan berbeda mencuri perhatian. M Heriyadi, mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Sumatera, memilih duduk bersila sambil membaca buku, bukan berorasi.
Buku yang dibacanya berjudul Dari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka. Ia menyebut aksinya sebagai sindiran halus bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual yang menyampaikan kritik dengan nalar, bukan sekadar teriakan.
Menurut Heriyadi, menyampaikan aspirasi tidak harus anarkis. Mahasiswa, katanya, harus berani menyuarakan kebenaran berdasarkan fakta tanpa rasa takut.
Aksi membaca buku itu menjadi simbol perlawanan yang tenang namun bermakna. Di tengah panas dan suara pengeras, ia memilih literasi sebagai bentuk kritik.
Mahasiswa yang tergabung dalam ALM berasal dari Universitas Lampung, UIN Raden Intan Lampung, dan Institut Teknologi Sumatera. Mereka menegaskan komitmen untuk terus menyuarakan aspirasi secara damai.
Aksi tersebut menjadi pengingat bahwa perlawanan tak selalu berisik. Kadang, membaca buku di depan gedung dewan bisa menjadi kritik paling tajam.***













