Scroll untuk baca artikel
Opini

Makna Tradisi Menjelang Ramadhan di Indonesia: Antara Budaya dan Tazkiyatun Nafs

×

Makna Tradisi Menjelang Ramadhan di Indonesia: Antara Budaya dan Tazkiyatun Nafs

Sebarkan artikel ini
Foto: Ratusan santri dari berbagai pondok pesantren se-Kabupaten Tanggamus menggelar ziarah akbar ke Makam Gunung Putri, Pekon Padang Ratu, Kecamatan Wonosobo, Minggu (19/10/2025)

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Menjelang Ramadhan, suasana Indonesia selalu berubah. Bukan hanya kalender yang berganti, tetapi juga atmosfer sosial dan batin masyarakat. Di kampung-kampung, orang mulai membersihkan makam keluarga, berkumpul dalam jamuan makan, mandi di sumber mata air, hingga saling bermaafan. Ada yang menyebutnya tradisi, ada pula yang mempertanyakannya dari sudut pandang syariat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun di balik ragam tafsir itu, satu hal tak bisa diabaikan: tradisi-tradisi tersebut adalah mekanisme sosial untuk mempersiapkan jiwa sebelum memasuki bulan suci.

Ritual Lahiriah, Pesan Batiniah

Di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakat mengenal tradisi padusan mandi bersama sebelum Ramadhan. Di Sumatera Barat, ada balimau, ritual mandi menggunakan air bercampur jeruk nipis sebagai simbol penyucian diri.

Secara lahiriah, keduanya tampak sebagai praktik membersihkan tubuh. Namun secara simbolik, ia mengandung pesan mendalam: sebelum memasuki bulan penuh ampunan, manusia diajak membersihkan bukan hanya raga, tetapi juga jiwa.

BACA JUGA :  Pasokan Ikan untuk Ramadhan 2021, Aman

Ramadhan bukan sekadar perubahan jam makan dan tidur. Ia adalah momentum tazkiyatun nafs penyucian diri dari iri, dengki, dendam, dan kebiasaan buruk. Tradisi menjadi bahasa budaya untuk menyampaikan pesan spiritual tersebut.

Rekonsiliasi Sosial Sebelum Puasa

Di Jawa Barat, tradisi munggahan makan bersama dan saling memaafkan—menjadi momen penting sebelum Ramadhan. Praktik ini menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi sosial yang kuat.

Ibadah tidak tumbuh di ruang hampa. Puasa yang khusyuk sulit bersemi dari hati yang menyimpan konflik. Saling bermaafan adalah upaya “merapikan hati”, membersihkan relasi sosial agar ibadah tidak tersandera persoalan lama.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni makan bersama, melainkan rekonsiliasi sosial. Sebuah jeda kolektif untuk meredakan ketegangan dan memperkuat persaudaraan sebelum memasuki bulan latihan spiritual.

Ziarah Kubur dan Kesadaran Fana

Di berbagai wilayah Pulau Jawa, ziarah kubur menjelang Ramadhan menjadi kebiasaan yang mengakar. Mengunjungi makam leluhur bukan hanya soal menghormati tradisi keluarga, tetapi juga menghadirkan kesadaran eksistensial.

BACA JUGA :  5 Amalan Sunnah di Bulan Ramadhan, Sayang Dilewatkan

Mengingat kematian melahirkan perspektif baru: Ramadhan kali ini bisa jadi yang terakhir. Kesadaran akan kefanaan membuat ibadah tidak dijalani secara rutin mekanis, tetapi dengan kesungguhan.

Dalam konteks ini, tradisi menjadi ruang kontemplasi. Ia menggeser manusia dari kelalaian menuju kesadaran.

Meugang: Solidaritas Sebelum Lapar

Di Aceh, tradisi meugang memasak dan berbagi daging menjelang Ramadhan memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Masyarakat berbagi rezeki sebelum memasuki bulan puasa.

Pesannya jelas: sebelum menahan lapar, manusia diajak berbagi. Empati didahulukan sebelum pengendalian diri. Ramadhan bukan hanya tentang relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama.

Tradisi ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan solidaritas berjalan beriringan.

Antara Syariat dan Budaya

Perlu ditegaskan, tradisi bukanlah ibadah mahdhah yang berdiri sendiri dan tidak boleh dianggap sebagai kewajiban agama. Ia adalah wasilah sarana untuk menyiapkan mental dan spiritual.

Selama tidak melampaui batas akidah dan tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariat, tradisi berfungsi sebagai jembatan antara nilai agama dan realitas budaya.

BACA JUGA :  Kyai Achmad Shiddiq dan Niat Ketika di TPS

Indonesia dengan keragaman budayanya telah menemukan cara unik untuk “mengondisikan” masyarakat menyambut Ramadhan. Tradisi menjadi pengantar psikologis yang menggeser suasana batin dari biasa menjadi istimewa.

Mekanisme Sosial Menyambut Bulan Suci

Pada akhirnya, tradisi menjelang Ramadhan di Indonesia bukan sekadar warisan turun-temurun. Ia adalah mekanisme sosial untuk membangun kesiapan kolektif.

Dari lalai menuju sadar.
Dari renggang menuju saling menguatkan.
Dari rutinitas menuju kesungguhan.

Ramadhan bukan hanya peristiwa spiritual individual, tetapi pengalaman sosial bersama. Tradisi menjadi pintu masuknya sebuah pengkondisian batin agar tempaan spiritual selama sebulan dijalani dengan lebih serius dan penuh kesadaran.

Di situlah makna terdalamnya: budaya menjadi medium untuk memperdalam nilai, dan tradisi menjadi jembatan menuju kesucian.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.***