Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

MBG Dirapel 6 Hari di SDN Bintara II Bekasi, Kondisi Telur dan Pisang Dipertanyakan

×

MBG Dirapel 6 Hari di SDN Bintara II Bekasi, Kondisi Telur dan Pisang Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
Menu MBG kelas 1-3 (kiri) dan kelas 4-6 (kanan) foto menu tersebut dirapel untuk 6 hari, Senin (2/3) - foto ndu

KOTA BEKASI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, pelaksanaannya di SDN Bintara II, Bekasi Barat, Kota Bekasi, menuai perhatian setelah paket makanan dibagikan secara rapel untuk enam hari sekaligus dalam periode 23–28 Februari 2026.

Sistem distribusi tersebut sebelumnya memang telah diinformasikan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, alasan teknis di balik kebijakan “rapel enam hari” itu disebut tidak dijelaskan secara rinci kepada pihak sekolah maupun orang tua siswa.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Memang sudah diinformasikan akan dirapel selama enam hari, tetapi kami tidak mengetahui secara pasti apa alasannya,” ujar seorang sumber kepada wartawan, Senin (2/3/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, paket makanan diduga berasal dari dapur Yayasan Kasih Persada Nusantara di kawasan Kalimalang, Bintara Jaya, Bekasi Barat.

BACA JUGA :  DLH Kota Bekasi Turun Tangan: Saluran Berbau Menyengat, Limbah MBG Diduga “Nyelonong” ke Drainase Kota

Selama Ramadan, menu dibedakan berdasarkan jenjang kelas.

Untuk siswa kelas 1–3, paket yang diterima dilaporkan berisi:

  • Biskuit Hatari 245 gram
  • Dua buah pisang (sebagian dilaporkan kurang segar)
  • Dua butir telur rebus (disebut berbau)
  • Dua kotak susu Ultra Milk 125 ml
  • Tiga buah kurma

Sementara siswa kelas 4–6 menerima:

  • Biskuit Hatari 245 gram
  • Dua bungkus Energen Sereal 32 gram
  • Dua buah pisang
  • Dua butir telur rebus
  • Satu kaleng Kornetku 340 gram
  • Satu kotak susu Ultra Milk 125 ml
  • Tiga buah kurma

Secara komposisi, daftar tersebut tampak memenuhi unsur karbohidrat, protein, dan vitamin. Namun, persoalan muncul pada kondisi sebagian bahan makanan yang dilaporkan kurang layak konsumsi.

Belum dapat dipastikan apakah kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari sistem distribusi rapel, atau ada faktor lain seperti penyimpanan, pengemasan, dan durasi distribusi.

BACA JUGA :  MBG: Opsi Salah Satu dari Dua Sistem

Secara administratif, sistem rapel mungkin dipandang sebagai solusi efisiensi distribusi selama Ramadan. Namun dalam praktik pangan, waktu dan cara penyimpanan adalah variabel krusial.

Telur rebus, misalnya, memiliki daya tahan terbatas jika tidak disimpan dalam suhu yang sesuai. Pisang yang matang serempak untuk konsumsi harian juga memiliki risiko penurunan kualitas jika harus “menunggu giliran dimakan”.

Di sinilah publik mulai bertanya tentu dengan nada satir yang masih sopan: apakah makanan bergizi juga bisa ikut “puasa kesegaran”?

Orang tua siswa menegaskan, kritik yang disampaikan bukan untuk menyudutkan pihak mana pun. Mereka hanya mendorong adanya evaluasi menyeluruh agar tujuan program benar-benar tercapai.

BACA JUGA :  MBG atau Paket Undian? Anak SD di Lampung Tengah Dapat Biskuit Berhadiah iPhone

“Kami hanya ingin memastikan hak anak-anak untuk mendapatkan makanan bergizi benar-benar terpenuhi sesuai standar yang sudah ditentukan oleh Badan Gizi Nasional,” tegasnya.

Program MBG yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) pada dasarnya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Karena itu, standar bukan sekadar angka, melainkan tolok ukur kualitas dan keamanan pangan.

Orang tua berharap instansi terkait, baik di tingkat kecamatan maupun Pemerintah Kota Bekasi, segera melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program di wilayah tersebut.

Ramadan memang identik dengan kesabaran. Namun untuk urusan makanan anak sekolah, publik berharap kesabaran tidak berarti kompromi terhadap kualitas.

Sebab dalam program bergizi, yang diuji bukan hanya distribusi melainkan juga konsistensi antara niat baik, standar kebijakan, dan realitas di lapangan.***