Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Menopause dan Seksualitas Perempuan: Saat Tubuh Berubah, Hasrat Tak Harus Padam

×

Menopause dan Seksualitas Perempuan: Saat Tubuh Berubah, Hasrat Tak Harus Padam

Sebarkan artikel ini
ilustrasi - foto net

WAWAINEWS.ID – Menopause sering kali digambarkan sebagai “akhir dari masa subur perempuan”. Namun bagi banyak perempuan, fase ini justru membuka babak baru dalam memahami tubuh, hasrat, dan makna keintiman.

Masalahnya, perjalanan menuju babak itu jarang mudah apalagi di tengah budaya yang masih menganggap pembicaraan tentang seks sebagai sesuatu yang tabu.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ketika Tubuh Mulai Berbicara: Perimenopause dan Perubahan yang Tak Terlihat

Gairah yang menurun, vagina yang kering, suasana hati yang mudah berubah tiga gejala yang kerap datang sebelum menopause resmi tiba. Bahkan, perubahan itu bisa muncul bertahun-tahun sebelumnya, di fase yang disebut perimenopause.

Suzan, perempuan berusia 45 tahun asal Vancouver, mengaku seks kini menjadi pengalaman yang menyakitkan.

“Saya masih punya hasrat, tapi rasa sakitnya membuat saya enggan. Butuh waktu lama bagi saya untuk berani bicara dengan dokter,” ujarnya.

Dokter Aziza Sesay, spesialis kesehatan perempuan di Inggris, menjelaskan:

“Vagina kering yang membuat hubungan seks menyakitkan adalah akibat langsung dari penurunan kadar estrogen.”

BACA JUGA :  Jangan Remehkan Buah Salak, Ini 6 Manfaat Baik Buat Kesehatan Tubuh

Namun, karena seks masih dianggap urusan yang “tidak pantas dibicarakan”, banyak perempuan akhirnya diam dalam penderitaan. Mereka menganggap rasa sakit itu wajar bahkan menjadi bagian dari “pengorbanan” dalam hubungan.

Hormon yang Turun, Hasrat yang Tersesat

Estrogen hormon yang memelihara kelembapan vagina dan gairah menurun drastis saat menopause. Ketika itu terjadi, jaringan vagina menjadi tipis dan kering, menyebabkan nyeri saat penetrasi dan meningkatnya risiko infeksi saluran kemih.

“Estrogen bekerja di seluruh tubuh, dari rambut hingga kulit,” kata Sesay. “Ketika hormon ini menurun, efeknya terasa di setiap sel.”

Bagi Rosie di Jerman, yang mengalami menopause dini setelah histerektomi, perubahan itu terasa seperti kehilangan identitas:

“Saya dulu menikmati seks. Tiba-tiba semua sirna. Saya tak bisa merasakan apapun.”

Namun kondisi itu bukan akhir dari kenikmatan. Psikolog sekaligus terapis seks Nazanin Maali menyebutkan bahwa banyak perempuan bisa kembali menemukan kenikmatan setelah menopause, asalkan mau memahami ulang tubuhnya.

“Banyak yang datang ke saya karena kehilangan gairah. Tapi sebagian justru berkata: mereka mengalami seks terbaik dalam hidup setelah menopause,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Gangguan Jiwa Massal Mengintai, Menkes Ungkap Angka Mengejutkan

Menulis Ulang Naskah Seksualitas

Dokter Maali menekankan pentingnya “menulis ulang naskah seksual” yakni memperluas makna seksualitas di luar penetrasi.

“Kita semua punya gambaran tentang apa itu seks yang baik. Tapi tubuh berubah, dan naskah itu perlu diperbarui.”

Pemanasan yang lebih lama, eksplorasi sentuhan, penggunaan pelumas atau vibrator dapat membantu mengembalikan sensasi. Seksualitas, kata Maali, bukan tentang performa, tetapi tentang koneksi dan rasa nyaman dengan tubuh sendiri.

Perawatan dan Solusi yang Tersedia

Ada banyak cara medis dan nonmedis untuk membantu perempuan menghadapi perubahan ini:

  1. Terapi Penggantian Hormon (HRT) – tersedia dalam bentuk pil, gel, atau koyo. Bagi yang tidak bisa menggunakan hormon sistemik, tersedia terapi topikal vagina.
  2. Pelumas dan pelembap vagina – bisa digunakan bebas, tapi perlu memperhatikan bahan kandungannya agar aman.
  3. Fisioterapi otot dasar panggul – membantu mengatasi nyeri dan memperbaiki fungsi otot.
  4. Perubahan gaya hidup – olahraga teratur, pola makan sehat, tidur cukup, dan menghindari rokok serta alkohol membantu menyeimbangkan hormon.
BACA JUGA :  Mulai Besok, Puskemas Kalianda Ditutup Dua Hari

Namun Sesay mengingatkan, yang terpenting adalah perawatan diri (self-care).

“Perawatan diri bukan egois. Singkirkan stres, minta bantuan saat perlu, dan berhentilah berpikir bahwa perempuan harus menanggung segalanya sendirian.”

Seksualitas Tak Berakhir di Menopause

Dalam banyak budaya, seks perempuan sering disempitkan menjadi fungsi reproduksi. Maka ketika menstruasi berhenti, banyak yang mengira gairah pun ikut mati. Padahal, seperti kata Maali,

“Menopause bukan penutupan bab, tapi pergantian halaman.”

Haldita, 65 tahun, justru merasakan kebebasan setelah menopause.

“Setelah bercerai di usia 43, saya mengalami perimenopause di usia 45. Tapi justru di situlah saya mulai menikmati seks yang lebih sehat dan membahagiakan.”

Tubuh memang berubah tapi itu bukan akhir dari keintiman, melainkan awal dari pemahaman baru.

Menopause bukan kutukan biologis, melainkan fase transisi menuju kebijaksanaan tubuh. Saat kita berani bicara, mencari bantuan, dan menerima perubahan dengan kasih, maka seks bukan lagi sumber rasa sakit, tapi jembatan baru menuju keintiman yang lebih jujur, sadar, dan manusiawi.***