LAMPUNG TIMUR — Di negeri yang gemar menyebut dirinya maju, ratusan pelajar Desa Kalipasir, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, setiap pagi justru memulai hari dengan ritual paling primitif dalam kamus pembangunan, mendayung perahu lapuk demi bisa sekolah.
Perahu kayu tua itu bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah simbol resmi kegagalan negara yang dibiarkan mengapung sejak 1960. Tanpa pelampung. Tanpa pengaman. Tanpa rasa malu dari mereka yang duduk di balik meja kekuasaan.
Jika Lampung Timur kerap dipromosikan sebagai etalase Sumatera di jalur lintas timur, maka Kalipasir adalah sudut etalase yang sengaja ditutup tirai karena terlalu jujur memperlihatkan wajah asli pembangunan di daerah berjuluk Bumei Tuah Bepadan itu .
Begitu lah etalase Gerbang Sumatera di sudut paling tenggara Lampung Timur, menjadi etalase yang kacanya retak, lampunya mati, dan isinya dibiarkan berdebu sejak 1960.
Warga Kalipasir bertahun-tahun dijejali satu mantra politik yang diwariskan lintas generasi: “Jembatan akan dibangun.” Mantra itu diucapkan setiap musim kampanye, difoto setiap kunjungan, lalu dilupakan.
Hasil akhirnya konsisten, bukan jembatan, melainkan pondasi tiang kosong monumen bisu yang berdiri gagah untuk mengingatkan bahwa janji lebih cepat dibangun daripada tanggung jawab.
Di saat anak-anak harus menyeberang sungai sejauh ±700 meter dengan perahu reyot, para pejabat melenggang dengan fasilitas paripurna. SPJ perjalanan dinas mengalir lancar, kunjungan kerja berpindah kota, bahkan helikopter disewa demi efisiensi waktu barangkali agar tak perlu melihat terlalu lama wajah rakyat yang ditinggalkan.
Realitas ini kembali meledak ke ruang publik lewat video Andre Angler, yang viral di media sosial. Video itu bukan sekadar keluhan, melainkan tamparan keras bagi logika kekuasaan.
Ironisnya, respons yang muncul bukanlah ekskavator, bukan pula rancangan jembatan melainkan telepon dari Wakil Gubernur Lampung yang meminta agar video tersebut dihentikan.
“Terima kasih sudah menelepon dan menyuruh saya berhenti. Tapi saya tidak akan berhenti sebelum jembatan Kali Pasir benar-benar dibangun,” tegas suara dalam video yang di upload melalui FB Lampung Timur News atas nama Andre Angler sebagaimana dikutip Wawai News, Sabtu (31/1).
Dalam video yang menunjukkan perjuangan pelajar dan warga Kalipasir untuk menyebrang ke sekolah menggunakan perahu lapuk, tertulis pesan bahwa video ditujukan atau mengarahkan pesannya langsung ke Presiden Prabowo Subianto.
Dalam videonya, warga tersebut meluapkan kemarahan yang selama ini dipendam warga. “Ini anak didik generasi bangsa. Perahu rapuh, tak ada satu pun alat keselamatan. Tidak ada yang menjamin nyawa mereka.”
Pertanyaannya sederhana tapi mematikan, jika anak pejabat berada di perahu itu, apakah jembatan masih sebatas wacana?
Namun sejarah menunjukkan jawabannya, selama yang basah adalah rakyat, bukan sepatu pejabat, maka masalah bisa menunggu.
Video tersebut memicu gelombang dukungan luas. Warganet menyebut kritik yang diupload melalui akun FB Andre sebagai suara rakyat yang sah, bukan provokasi.
Dugaan intimidasi justru memperkuat satu kesan, ada kekuasaan yang alergi pada kenyataan.
“Kalau disuruh stop, berarti ada yang takut,” tulis seorang pengguna media sosial.
Yang lain menyindir, “Anggaran selalu ada, tapi jembatan selalu tidak.”
Lampung Timur boleh membanggakan statistik, presentasi, dan laporan seremonial. Namun di Kalipasir, angka-angka itu tenggelam bersama arus sungai.
Di sana, sekolah masih ditempuh dengan taruhan nyawa. Di sana, masa depan masih harus didayung manual. Dan di sana pula, negara masih sibuk mengurus citra, bukan jembatan.
Sebab bila ratusan pelajar terus dipaksa menyeberang sungai dengan perahu lapuk, maka yang sesungguhnya karam bukan infrastruktur, melainkan akal sehat dan nurani para pengambil kebijakan.
Dan sejarah akan mencatatnya dengan jujur, bukan karena rakyat diam, tapi karena penguasa terlalu nyaman untuk peduli.***
https://www.facebook.com/watch/?v=882656821316067&rdid=hm7eYdqc5cCuJW2O










