Scroll untuk baca artikel
Opini

Profil Kesehatan Jamaah Haji dan Paradoks Ekosistem

×

Profil Kesehatan Jamaah Haji dan Paradoks Ekosistem

Sebarkan artikel ini
ilustrasi Haji- Kerajaan Arab Saudi mengizinkan 1 juta jemaah haji pada musim haji tahun 2022/1443 H
ilustrasi Haji

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WAWAINEWS.ID – Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pola konsumsi merupakan determinan utama kesehatan. Asupan makanan tidak hanya menentukan status gizi. Tetapi juga berperan penting dalam pengendalian penyakit tidak menular.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Karena itu, kualitas kesehatan individu tidak bisa dilepaskan dari sistem pangan dan lingkungan konsumsi yang membentuk kebiasaan makan sehari-hari. Bahkan ada istilah: Kesehatan itu bermula dari dapur. Dari bagaimana cara memililih, memasak dan menyajikan makanan.

Potret kesehatan jamaah haji Indonesia sesungguhnya telah lama terpetakan. Hasil pemeriksaan kesehatan awal menunjukkan lebih dari 60 persen jamaah masuk kategori risiko tinggi.

Penyakit tidak menular mendominasi. Hipertensi dialami sekitar 20–25 persen jamaah. Diabetes melitus 8–12 persen. Penyakit jantung 3–5 persen.

Data pelayanan kesehatan haji juga memperlihatkan penyakit jantung dan komplikasi metabolik menjadi penyebab utama kejadian fatal hingga kematian jamaah. Sementara itu, lebih separuh kunjungan layanan kesehatan selama haji, berkaitan dengan gangguan pernapasan dan penurunan kondisi fisik pada jamaah dengan penyakit penyerta (komorbid).

Pola ini relatif konsisten dari tahun ke tahun. Sudah dikenali profilnya sejak lama.

BACA JUGA :  Kemanusiaan Di Usia Senja

Dengan profil risiko sedemikian jelas, penyelenggaraan haji semestinya tidak berhenti pada imbauan hidup sehat secara individual. Tantangan lebih mendasar adalah membangun ekosistem penyelenggaraan haji yang selaras dengan kondisi kesehatan mayoritas jamaah.

Pencegahan tidak cukup diserahkan pada kesadaran personal. Tetapi harus dilembagakan melalui desain layanan dan lingkungan yang mendukung perilaku sehat.

Pendampingan kesehatan jamaah memang telah berjalan. Terutama dalam peningkatan kebugaran, adaptasi terhadap cuaca ekstrem, serta kesiapan obat-obatan. Namun pendekatan ini masih bersifat parsial.

Ekosistem haji belum sepenuhnya dirancang menopang stabilitas penyakit kronis yang secara statistik justru dominan di kalangan jamaah Indonesia. Ekosistem haji yang sehat belum sepenuhnya tercipta.

Kesenjangan tersebut tampak jelas sejak tahap manasik. Konsumsi yang disediakan bagi calon jamaah—yang data kesehatannya sudah tersedia—sering kali tidak sejalan dengan prinsip diet sehat bagi penderita penyakit kronis.

Menu seperti gorengan, lauk bersantan kental, makanan tinggi garam, daging berlemak, serta minuman manis, masih lazim dijumpai. Dalam praktik sehari-hari, nasi putih dengan lauk digoreng, sambal asin, kerupuk, dan teh manis kerap menjadi paket standar.

Bagi penderita hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung, pola konsumsi semacam ini justru memperbesar risiko kesehatan. Panitia penyelenggara haji sendiri justru menyediakan konsumsi tidak sehat bagi beragam penderita tersebut.

BACA JUGA :  Jemaah Haji Indonesia Diingatkan Tak Bawa Jimat, Ketahuan Hukumnya Berat

Pola serupa berlanjut selama keberangkatan, pelaksanaan ibadah haji, hingga kepulangan. Konsumsi jamaah belum diposisikan sebagai bagian dari strategi pencegahan risiko kesehatan.

Padahal, penyediaan katering haji—baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi—berbasis pada skema kerja sama kontraktual. Dalam konteks ini, penyelenggara haji memiliki kewenangan menetapkan standar makanan rendah garam, terkontrol gula, minim lemak jenuh, ramah lansia, serta sesuai profil kesehatan jamaah sebagai klausul layanan.

Jika aspek mendasar seperti konsumsi terus diabaikan, maka perlindungan kesehatan jamaah akan berhenti pada tataran normatif. Paradoks ekosistem inilah yang perlu segera dibenahi.

Penyelenggaraan haji harus benar-benar berpijak pada realitas kesehatan jamaah Indonesia. Bukan pada asumsi jamaah yang ideal dan bebas penyakit. Bukan hanya himbuan hidup sehat semata. Sementara ekosistem selama penyelenggaraan haji justru tidak mendukung.

Dalam kajian epidemiologi dan gizi masyarakat, perubahan pola makan terbukti memberikan dampak signifikan terhadap pengendalian penyakit tidak menular. Asupan rendah garam, terkontrol gula, cukup serat, dan seimbang lemak dapat menurunkan tekanan darah, menstabilkan kadar gula darah, serta memperbaiki profil kolesterol dalam waktu relatif singkat.

BACA JUGA :  Kemenag Berharap Saudi Beri Kepastian Penyelenggaraan Haji 2020

Berbagai studi menunjukkan intervensi pola makan selama 8–12 minggu sudah mampu memperbaiki parameter klinis pada penderita hipertensi dan diabetes. Bahkan tanpa perubahan besar pada aktivitas fisik. Artinya, makanan bukan sekadar kebutuhan energi, tetapi instrumen kesehatan yang efektif dan terukur.

Dampak positif tersebut akan semakin optimal jika pola makan sehat dirancang secara berkelanjutan sejak beberapa bulan sebelum keberangkatan hingga hari-hari pelaksanaan haji. Dalam konteks jamaah haji, desain konsumsi yang konsisten dapat membantu menjaga stabilitas kondisi fisik, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menurunkan risiko dekompensasi penyakit kronis pada saat menghadapi aktivitas berat dan cuaca ekstrem.

Melalui pendekatan ini, makanan tidak lagi diperlakukan sebagai logistik semata. Melainkan sebagai bagian integral dari strategi pencegahan penurunan imunitas jamaah. Bahkan sebagai instrumen penguatan kesehatan jamaah.

Berbeda ketika ekosistem penyediaan makanan jamaah haji dibiarkan tanpa standar sehat. Bahkan ketika jamaah haji sudah melakukan diet personal, sementara konsumsi sepanjang pelaksanaan haji tidak pro kesehatan jamaah. Profil kesehatan jamaah haji bisa bertambah buruk.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.