Scroll untuk baca artikel
Opini

Pesan Berantai Intimidatif, Adsense, dan Industri Ketakutan

×

Pesan Berantai Intimidatif, Adsense, dan Industri Ketakutan

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi, Mulai tahun ini, registrasi kartu SIM resmi diwajibkan menggunakan teknologi pengenalan wajah (face recognition)

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Ruang digital hari ini dipenuhi pesan-pesan yang tampak saleh, bijak, bahkan spiritual. Namun jika dicermati lebih dekat, banyak di antaranya bekerja bukan lewat pencerahan, melainkan pemaksaan halus.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kalimat seperti “Jika cinta Rasul, jangan skip”, “Dengarkan ayat ini tujuh kali agar rezeki lancar”, hingga ramalan Tarot berbunyi “Tonton sampai akhir, kalau tidak orang terdekatmu dalam bahaya” bukan sekadar konten iseng. Ia adalah bentuk mutakhir pesan berantai intimidatif chain letter versi algoritma.

Jika dulu pesan berantai hidup dari takhayul kampung dan ancaman mistis murahan, kini ia berevolusi mengikuti hukum paling sakral abad ini, engagement dan monetisasi. Ketakutan dan harapan tidak lagi sekadar soal “nasib”, tapi bahan baku industri konten. Ancaman dijual per klik, kesalehan ditakar per detik tontonan, dan iman tanpa sadar diperas menjadi statistik Adsense.

BACA JUGA :  Dicintai Rakyat, Dimusuhi Politisi dan Pejabat

Di titik ini, ketakutan bukan lagi efek samping. Ia adalah desain.

Penelitian tentang chain mail di Jepang sejak 1970-an menunjukkan fenomena klasik: mayoritas orang sadar itu omong kosong, sebagian terganggu, namun tetap ada yang meneruskan. Alasannya sederhana: tekanan emosional dan sosial. Yang berubah hari ini bukan manusianya, melainkan infrastrukturnya.

Algoritma media sosial memberi panggung luas bagi konten yang memicu emosi ekstrem tak peduli itu marah, takut, atau haru palsu. Ketakutan bekerja lebih cepat daripada nalar. Harapan instan lebih laku daripada penjelasan rasional. Ditambah FOMO dan rasa sungkan sosial, tombol like akhirnya ditekan bukan karena percaya, tapi karena takut dianggap abai, kurang iman, atau “tidak peduli”.

Di sinilah masalah utamanya: kebebasan memilih dilucuti secara perlahan.

Orang tidak lagi berinteraksi karena setuju, tersentuh, atau tercerahkan. Mereka melakukannya karena takut, bersalah, atau terintimidasi secara simbolik. Emosi manusia direduksi menjadi alat produksi. Rasa cemas dijadikan mesin uang. Dan ironi terbesar: semua ini sering dibungkus atas nama kebaikan.

BACA JUGA :  Ulama yang Dibunuh, Ulama yang Dituduh

Karena itu, menyebut fenomena ini sebagai “gangguan kejiwaan” jelas keliru. Ia bukan lahir dari ketidaksadaran, melainkan dari kalkulasi yang sangat sadar.

Para pembuatnya tahu betul diksi mana yang menekan, narasi mana yang memancing rasa bersalah, dan ancaman mana yang cukup samar agar tak bisa dibuktikan, tapi cukup menakutkan untuk ditaati.

Ini bukan penyakit mental. Ini penyakit sosial.

Sejajar dengan penipuan, eksploitasi, dan manipulasi lain yang merusak tatanan kepercayaan publik. Hanya saja, yang dicuri bukan dompet, melainkan ketenangan batin. Yang dirampas bukan uang tunai, melainkan kejernihan iman dan makna kebaikan itu sendiri.

Dampak paling berbahaya justru jangka panjang. Ketika agama, moral, dan spiritualitas terus-menerus direduksi menjadi alat klik, publik perlahan menjadi sinis terhadap pesan kebaikan yang tulus. Dakwah dicurigai, empati dipertanyakan, nasihat dianggap jebakan engagement. Inilah kerugian kolektif yang jarang masuk laporan statistik.

BACA JUGA :  Bunuh Saja Lalu Minta Maaf

Dari perspektif keagamaan, praktik ini problematik sejak akarnya. Iman berubah menjadi transaksi: like sebagai bukti cinta, share sebagai tiket keselamatan. Padahal hampir semua tradisi spiritual menekankan keikhlasan, kebebasan nurani, dan kejujuran pesan. Ketakutan palsu dan janji tanpa dasar bukan dakwah itu manipulasi dengan jubah suci.

Menghadapi penyakit sosial ini, solusinya bukan terapi medis. Melainkan sikap etis dan tindakan kolektif. Literasi digital harus diperkuat, bukan sekadar soal hoaks, tetapi soal manipulasi emosi. Tekanan sosial harus dipatahkan dengan satu tindakan sederhana namun radikal: tidak ikut menyebarkan.

Yang paling penting, kita perlu menegaskan satu hal yang tampaknya makin kabur: iman, kebaikan, dan empati tidak pernah ditentukan algoritma.

Jika tidak, kita akan terus hidup di ruang digital di mana rasa takut diperdagangkan, kesalehan diproduksi massal, dan makna kebaikan dikosongkan sambil iklan tetap tayang dan uang terus mengalir.***