Scroll untuk baca artikel
Head LineLampung

TBS Raib Tiap Hari, Petani Sawit Sekampung Udik Desak Polisi Bertindak

×

TBS Raib Tiap Hari, Petani Sawit Sekampung Udik Desak Polisi Bertindak

Sebarkan artikel ini
Petani di Lampung saat memanen buah sawit, saat ini harga berjaya tapi tanaman sawit belum normal, Jumat 8 Maret 2024c-foto wahid Toba
Petani di Lampung saat memanen buah sawit, saat ini harga berjaya tapi tanaman sawit belum normal, Jumat 8 Maret 2024c-foto doc wahid Toba

LAMPUNG TIMUR — Para petani kelapa sawit di Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, tengah menghadapi persoalan serius, maraknya pencurian Tandan Buah Segar (TBS) yang terjadi hampir setiap hari.

Keresahan paling terasa di Desa Gunung Pasir Jaya (GPJ) dan Desa Gunung Sugih Besar (GSB). Petani setempat mengaku buah sawit yang siap panen kerap hilang sebelum sempat dipotong dari pohonnya. Ironisnya, meski keresahan telah lama dirasakan dan beberapa kali melapor tapi belum membuahkan hasil signifikan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Salah satu pengusaha sekaligus petani sawit di Desa Gunung Pasir Jaya, Haji Rais, menyebut kasus ini bukan persoalan baru. Namun hingga kini, menurutnya, belum terlihat langkah tegas dari aparat setempat.

“Keluhan petani semakin banyak. TBS hilang sebelum dipanen. Ini sudah sangat meresahkan,” ujar Haji Rais.

Sawit Siap Panen, Tinggal Sisa Tiga Tandan

Rais mengaku kehilangan terjadi hampir setiap hari di sejumlah titik, seperti wilayah Biding C di GPJ dan Bawang Gatel di GSB.

BACA JUGA :  Polisi gerebek arena judi di Pringsewu, hasilnya sangat mengejutkan

Ia bahkan menceritakan pengalamannya sendiri. Dari kebun seluas satu setengah hektare, saat masa panen tiba, buah yang tersisa hanya tiga tandan.

“Panen cuma dapat tiga tandan. Padahal luasnya satu setengah hektare,” ucapnya, sambil tersenyum getir sebuah sindiran halus terhadap situasi keamanan yang dinilai tak kunjung membaik.

Bagi petani, kehilangan TBS bukan sekadar persoalan angka. Itu berarti potensi pendapatan keluarga berkurang drastis, sementara biaya pupuk, perawatan, dan tenaga kerja tetap berjalan.

Menurut Rais, pola pencurian sebenarnya bisa dilacak jika ada kemauan serius untuk mengusut. Ia menyoroti keberadaan agen atau lapak penampung sawit di desa yang mayoritas warganya tidak memiliki kebun sawit.

“Tinggal bereskan agen atau lapak di desa yang warganya tidak punya tanaman sawit. Itu sudah saya sampaikan ke Bhabinkamtibmas, tapi belum ada respons,” tegasnya.

BACA JUGA :  Bendung Gerak Jabung Dituding Rusak Areal Sawah Tiga Wilayah di Lampung Timur

Ia juga menyinggung keberadaan salah satu lapak di sekitar Jalan Ir Sutami yang diduga menerima setoran TBS dari agen tertentu, padahal di desa asalnya hampir tidak ada warga yang membudidayakan sawit.

Kondisi ini memunculkan kecurigaan di kalangan petani. Bahkan, sebagian mulai berprasangka adanya pembiaran atau dugaan kongkalikong antara oknum dan penampung.

“Petani menduga ada permainan. Karena sudah sering terjadi, tapi tidak ada satu pun pelaku yang ditangkap,” kata Rais.

Desak Kapolres Turun Tangan

Para petani sawit di Sekampung Udik berharap Polres Lampung Timur turun tangan secara langsung. Rais meminta agar Kapolres memerintahkan jajaran di tingkat sektor untuk memperketat pengawasan dan patroli di wilayah rawan.

Ia bahkan mengusulkan evaluasi terhadap aparat di lapangan jika memang diperlukan.

“Kalau perlu, geser saja aparat yang diduga bermain mata. Petani butuh rasa aman,” ujarnya.

BACA JUGA :  Berkas Perkara Penganiayaan Terhadap Wartawan di Tanggamus Dinyatakan Lengkap P21

Menurutnya, banyak orang tak dikenal masuk ke kebun warga dengan alasan mencari berondolan. Namun, petani tidak mengetahui identitas maupun asal-usul mereka. Situasi ini menambah kekhawatiran di tengah lemahnya pengawasan.

Maraknya pencurian TBS bukan hanya soal keamanan kebun, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat desa. Sawit menjadi sumber penghasilan utama banyak keluarga di Sekampung Udik.

Tanpa langkah tegas, dikhawatirkan kepercayaan petani terhadap aparat penegak hukum akan terus menurun.

Para petani kini menunggu tindakan nyata mulai dari patroli rutin, pengawasan lapak penampung, hingga penindakan hukum terhadap pelaku dan jaringan penadah.

“Sawit ini hasil kerja keras kami. Jangan sampai tiap panen malah jadi ajang kehilangan,” pungkas Rais.

Di tengah harga komoditas yang fluktuatif, petani berharap setidaknya satu hal tetap stabil, keamanan kebun mereka sendiri.***