Scroll untuk baca artikel
Opini

Titiek Soeharto, Mafia Pangan dan Cundrik Mataram

×

Titiek Soeharto, Mafia Pangan dan Cundrik Mataram

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi

Obrolan berlanjut. Saya teringat wawancara dengan wartawan tadi. Saya curi-curi dengar dari tempat yang agak berjarak. Saya jadikan bahan bertanya ke Mbak Titiek.

“Ibu.. kalau ada kesempatan, bagaimana cara ibu mengatasi masalah kedaulatan pangan ini”, tanya saya. Jawabannya mengagetkan saya. “Mafia pangan harus diadili. Diseret ke penjara”, jawabnya tegas. Intonasinya biasa. Tanpa di buat-buat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

BACA JUGA: Prabowo Masa Lalu, Anies Masa Depan, Ganjar Masa Iya?

Saya kaget dengan jawaban itu. Setidaknya oleh beberapa hal.

Pertama, itu bukan obrolan basa-basi. Obrolan santai. Bukan candaan. Bukan setingan wawancara. Maka tampak ketulusan dari jawaban itu. Dari sudut pandang Mbak Titiek, para mafia pangan itu masalahnya.

BACA JUGA :  Catatan Untuk Video Said Didu Yang Viral, Tanah Untuk Rakyat versus Tanah Untuk Cukong

Caranya harus diadili. Hama-hama penyebab kegagalan usaha perjuangan kedaulatan pangan harus dibersihkan. Mafia pangan harus ditertibkan. Petani harus dilindungi dari mafia pangan.

BACA JUGA: Anies, ‘Oemar Bakri’ dan Pendidikan untuk Orang Miskin

Kedua, jawaban itu antitesa dari rumors yang berkembang di luaran. “Ah.. itu mah jaring-jaring keluarga Cendana pelakunya”. Itulah kata yang sering saya dengar, jika mencuat isu mafia impor, mafia tambang, mafia pangan, dan beragam kejahatan korporasi.

Ketegasan jawaban itu membuyarkan segala rumors itu. Kesimpulan saya, tidak mungkin seberani itu solusinya jika keluarga Cendana terlibat.

Pada saat obrolan itulah terbersit “Cundrik Mataram” itu pada sosok Mbak Titiek. Cundrik adalah senjata rahasia. Bentuknya kecil. Akan tetapi mematikan jika berada di tangan yang tepat.

BACA JUGA :  Imkanur Rukyat, Wujudul Hilal, Rukyatul Global: Mana Hukum Paling Dekat

BACA JUGA: Anies, Jumhur dan Pembebasan Alienasi Kaum Buruh

Mbak Titiek adalah sosok seperti itu. Energinya tidak terekspose. Mapan secara ekonomi. Jaring-jaring perkolegaannya luas. Nasional maupun internasional.

Ia trah Majapahit dari jalur Mataram. Memiliki komitmen tinggi melindungi rakyat kecil. Bukan glorifikasi untuk mengejar eksistensi diri. Sepertinya jiwa nasionalis Presiden Soeharto mengalir dalam dirinya.

Figur seperti itulah yang sebenarnya dibutuhkan rakyat. Mbak Titiek adalah “cundrik” atau senjata bagi rakyat dan bangsa ini dari rongrongan penjahat bangsa. Sayangnya ia belum berada pada lingkungan pendukung yang tepat.

BACA JUGA: Dimusuhi Habis-habisan, Anies Akan Menjadi Pemimpin Yang Kuat

Pada periode pertama ia di legislatif, Golkar tempat ia bernaung masih bermain dalam zona aman. Belum berani memberikan pembelaan terhadap peran luas dari keluarga Presiden Soeharto. Garis idiologinya pragmatis. Kehadiran Mbak Titiek belum teroptimalkan untuk mengurai beragam problem bangsa.

BACA JUGA :  Gibran Bicara Indonesia Emas 2045, Takutnya Menjadi Besi Tua

Periode berikutnya Mbak Titiek mencari peruntungan melalui Partai Berkarya. Partai itu tidak masuk senayan dan pada saat ini tidak ikut kontestasi pemilu.

Kini Mbak Titiek maju sebagai anggota legislatif Dapil Yogya melalui Gerindra. Jika ia terpilih, mungkin Gerindra akan bisa memberi dukungan yang luas atas peran Mbak Titiek. Untuk tumbuh sebagai “cundrik” yang efektif bagi penyelesaian beragam problem bangsa. (*)

ARS (rohmanfth@gmail.com), Jaksel, 21 November 2023