BEKASI — Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto menegaskan bahwa capaian produksi jagung nasional tahun 2025 menjadi bukti konkret bahwa swasembada pangan bukan sekadar retorika kebijakan.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal IV Tahun 2025 yang digelar Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di Kampung Tembong Gunung, Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi.
Menurut Titiek, produksi jagung nasional tahun 2025 mencapai 16,11 juta ton dengan tingkat konsumsi sekitar 15,60 juta ton, sehingga Indonesia mencatat surplus hampir setengah juta ton. Angka ini, kata dia, patut diapresiasi di tengah tantangan alih fungsi lahan dan tekanan kebutuhan pangan nasional.
“Dari total produksi tersebut, sekitar 20 persen atau 3,5 juta ton berasal dari kontribusi Kepolisian Republik Indonesia. Ini menunjukkan bahwa dukungan lintas sektor memberi dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional,” ujar Titiek.
Ia menilai keberhasilan panen raya jagung tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta lembaga negara. Kabupaten Bekasi, yang selama ini dikenal sebagai kawasan industri, justru menjadi contoh bahwa sektor pertanian masih memiliki ruang dan peran strategis.
“Bekasi ini dikenal sebagai kawasan industri, tetapi hari ini justru menjadi etalase keberhasilan pertanian. Ini pesan penting bahwa industrialisasi tidak harus mengorbankan pangan,” katanya.
Namun demikian, Titiek mengingatkan agar capaian surplus jagung tidak membuat pemerintah terlena. Menurutnya, keberhasilan ini harus dijadikan pijakan untuk memperluas swasembada ke komoditas strategis lain yang selama ini masih bergantung pada impor.
“Kita tidak bisa berhenti di jagung. Tantangan ke depan adalah kedelai, gula, garam, dan bawang putih. Swasembada harus menyeluruh, bukan parsial,” tegasnya.
Panen raya jagung serentak ini merupakan bagian dari rangkaian panen nasional di lahan seluas 47.830 hektare dengan estimasi produksi mencapai 743.522 ton jagung di berbagai daerah. Kegiatan tersebut juga dihadiri Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa Polri selama satu tahun terakhir aktif mendukung percepatan swasembada jagung melalui optimalisasi lahan pertanian.
“Dari sekitar 1,3 juta hektare lahan yang kami identifikasi, sebanyak 586 ribu hektare telah ditanami sepanjang tahun 2025. Kontribusi kami mencapai 3,4 hingga 3,5 juta ton dan akan terus ditingkatkan,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menyampaikan bahwa Kabupaten Bekasi tetap berkomitmen menjaga kontribusi sektor pertanian meski dikelilingi kawasan industri.
“Panen hari ini dilakukan di lahan 25 hektare dengan hasil sekitar 150 ton. Ke depan, lahan jagung di Kampung Tembong Gunung akan dikembangkan hingga 50 hektare,” kata Asep.
Ia menambahkan, peningkatan kapasitas petani melalui pendampingan dan penyuluhan menjadi kunci agar produktivitas pertanian tetap terjaga dan berkelanjutan.
Dengan menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai lokasi panen raya, Titiek Soeharto menilai pemerintah sedang mengirim pesan simbolik: ketahanan pangan adalah kerja bersama, dan surplus tidak boleh berhenti sebagai angka statistik semata, melainkan harus dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat.***











