Kisah lain datang dari Eki Chandra, penghubung antara pelaku kopi Indonesia dan jaringan pasar Jepang.
Sebagai anak petani kopi dari Sumatra, Eki tumbuh dekat dengan komoditas yang memiliki posisi penting dalam perdagangan kopi Indonesia. Namun, pada awalnya, ia justru tidak membayangkan akan menekuni bisnis tersebut. Ia memilih jalur berbeda dengan mengikuti program magang ke Jepang.
Perjalanan itu kemudian mempertemukannya dengan peluang yang berbeda. Ketika melihat adanya permintaan kopi dan jaringan pasar yang dapat dikembangkan di Jepang, Eki mulai menaruh perhatian serius pada komoditas yang dahulu dekat dengan kehidupan keluarganya.
Kini, ia berupaya menjembatani potensi produksi di Indonesia dengan kebutuhan pembeli di Jepang.
Kisah Eki memperlihatkan bahwa pengembangan ekspor tidak hanya membutuhkan petani dan pemilik usaha. Jaringan, pemahaman pasar, komunikasi lintas negara, dan kemampuan menerjemahkan kebutuhan pembeli menjadi standar produksi juga memiliki peran penting.
Kopi mungkin tumbuh dari tanah, tetapi bisnisnya berkembang melalui hubungan antarmanusia.
Kehadiran Ando di perkebunan Wangun membawa harapan bagi petani Sumedang. Ketertarikannya terhadap karakter kopi Indonesia dan komitmen untuk memperluas pengenalannya kepada konsumen Jepang membuka kemungkinan kerja sama bisnis jangka panjang.
Meski demikian, kunjungan calon pembeli tidak serta-merta berarti kontrak ekspor telah terwujud. Peluang tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui kesepakatan dagang, evaluasi sampel, pengujian residu, pemenuhan standar produk, serta kepastian volume dan jadwal pasokan.
Penyuluh pertanian dari Dinas Perkebunan Kabupaten Sumedang, Eka Sutriana, turut hadir dalam kunjungan tersebut. Kehadiran penyuluh menjadi relevan dalam upaya memperkuat pendampingan petani, terutama untuk memastikan praktik budidaya dan pengelolaan kebun berjalan sesuai prinsip yang ditargetkan.
Pada akhirnya, pasar Jepang bukan sekadar tujuan pengiriman biji kopi. Pasar tersebut menjadi ujian bagi kemampuan petani, eksportir, dan pemerintah daerah membangun sistem produksi yang konsisten, transparan, dan dapat dipercaya.
Sebanyak 35 ribu pohon kopi Arabika di Wangun kini menyimpan harapan besar. Tetapi, yang akan menentukan masa depannya bukan semata jumlah tanaman atau perkiraan tonase panen. Penentunya adalah kemampuan seluruh pihak menjaga kualitas, membuktikan keamanan produk, dan memastikan manfaat ekonomi benar-benar sampai kepada petani.
Sebab, kopi Indonesia tidak kekurangan cerita tentang rasa yang istimewa. Tantangan berikutnya adalah memastikan cerita itu didukung bukti mutu yang kuat, sehingga kepercayaan pembeli internasional tidak berhenti pada kunjungan, foto bersama, atau secangkir kopi yang mengesankan.
Dari Wangun, Sumedang, mimpi menembus Jepang sedang dirintis. Jalan menuju pasar global mungkin panjang, tetapi setiap biji yang dibudidayakan dengan benar dan setiap standar yang berhasil dipenuhi dapat menjadi langkah nyata untuk mengangkat martabat petani Indonesia.***













