Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Pedagang Pasar Kranji Makin Gerah: 6 Tahun Revitalisasi Nol, Wali Kota Bekasi Diminta Bertindak

×

Pedagang Pasar Kranji Makin Gerah: 6 Tahun Revitalisasi Nol, Wali Kota Bekasi Diminta Bertindak

Sebarkan artikel ini
foto kolase suasana di gedung induk pasar Kranji dan proses penandatanganan pernyataan sikap oleh pedagang agar pemerintah memutus kerja sama revitalisasi dengan PT ABB - foto doc

KOTA BEKASI – Kesabaran pedagang Pasar Kranji sudah habis. Enam tahun menunggu revitalisasi, yang datang justru bukan gedung baru, melainkan janji-janji basi. Pemerintah Kota Bekasi dan DPRD yang mestinya jadi penyelamat, malah tampil seperti penonton bioskop diam terpaku, sesekali tepuk tangan, tapi tak pernah ikut turun ke lapangan.

“Bayangkan, kami sudah bertahun-tahun jualan di penampungan sementara. Banyak pedagang gulung tikar, tapi yang di atas sana kayaknya adem ayem saja,” kata Sri Mulyono, pedagang senior yang juga mantan pengurus RWP Pasar Kranji Baru, Jumat (26/9/2025).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sebagai bentuk protes, ratusan pedagang telah membubuhkan tanda tangan bermaterai untuk mendesak Pemkot Bekasi segera memutus kerja sama dengan PT Annisa Bintang Blitar (ABB). “Pekan depan, tandatangan itu bakal kami serahkan langsung ke Wali Kota Bekasi Tri Adhianto lewat pengacara yang kami tunjuk,” lanjut Srimulyono.

BACA JUGA :  LINAP Endus Potensi Kerugian Negara Pada Kegiatan Pokir DPRD Kota Bekasi Tahun 2022

Menurut Tokoh Pedagang yang dikenal vokal ini, masalah mangkraknya revitalisasi bukan sekadar faktor ketidakmampuan, tapi sudah masuk ke ranah “sandiwara tingkat dewa.” Ia menuding PT ABB bersama PT Erra Global Cipta bermain skenario ala drama kolosal untuk mengulur-ulur evaluasi pemerintah.

Padahal, sejak Maret 2023, BPK RI dan BPKP Jawa Barat sudah memberi rekomendasi agar Pemkot mengevaluasi ABB. Namun evaluasi baru benar-benar dijalankan Inspektorat pada 2025 itulupun hasilnya sampai kini masih misterius, entah terselip di laci siapa.

BACA JUGA :  Usai Kebakaran, Pusat Perbelanjaan Revo Town Kota Bekasi Tutup Sementara

“Kalau dilihat, seolah-olah ABB sudah diambil alih atau dibeli Erra Global. Padahal ini cuma permainan oper-operan bola mati. Sama-sama nggak punya modal, tapi jago ngulur waktu sambil berharap ada investor datang,” ujar Sri dengan nada satir.

Srimulyono lebih lanjut bahkan menyebut ABB sebagai “pengusaha nakal kelas kakap” yang lihai memainkan “ilmu Belanda” jurus klasik memecah belah. Pedagang pun dibuat terbelah, sebagian masih percaya pada janji manis, sebagian lagi sadar sedang berhadapan dengan mafia pasar.

“Masih ada saja pedagang yang percaya sama pembohong ketimbang sama yang benar-benar berjuang. Padahal faktanya jelas di depan mata,” tegasnya.

Ia berpesan agar pengurus RWP tidak tersandera kepentingan kelompok atau pribadi. “Kalau sudah tersandera, ya nggak bakal berani bicara jujur. Ingat, yang kita lawan ini bukan pengusaha kelas warung kopi, tapi mafia kelas kakap. Jadi pedagang harus kompak, cerdas, dan waras.”

BACA JUGA :  Disapu Angin Kencang, Puluhan Atap Rumah di Bekasi Utara, Rungkat

Harapan Pedagang

Para pedagang berharap Pemkot segera mencabut kontrak ABB dan melelang ulang proyek revitalisasi. Harapannya, pemenang lelang nanti benar-benar pengusaha dengan modal nyata, bukan modal retorika.

“Yang penting pasar segera berdiri, pedagang bisa usaha dengan nyaman, dan keluarga bisa tercukupi. Jangan sampai kami terus jadi korban drama berseri yang nggak jelas ending-nya,” pungkas Sri, menutup dengan salam “KOMPAK, CERDAS, WARAS”.***