Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Harga Daging Mengamuk, 11 Kios Mogok: Wali Kota Turun Tangan

×

Harga Daging Mengamuk, 11 Kios Mogok: Wali Kota Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, melihat langsung kondisi pedagang dan Harga daging sapi yang kian “liar” di Pasar Baru, Kamis (22/1) - foto doc

KOTA BEKASI — Harga daging sapi yang kian “liar” mulai memantik perlawanan senyap dari pedagang pasar. Menyikapi rencana mogok berjualan pedagang daging di sejumlah pasar tradisional, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto turun langsung memantau kios daging di Pasar Baru, Rabu (22/01/2026).

Aksi mogok dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (23/01) hingga Sabtu (25/01), dipicu oleh anjloknya daya beli masyarakat serta mahalnya harga sapi termasuk sapi impor dengan skema timbang hidup yang dinilai kian menekan margin pedagang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sebagian pedagang bahkan memilih langkah “aman” menyetok daging lebih awal untuk pelanggan tetap, sembari menunggu apakah harga akan turun atau justru makin tak masuk akal.

BACA JUGA :  Daftar Susunan Pimpinan AKD pada DPRD Kota Bekasi Periode 2024-2029

Data Panel Harga Badan Pangan mencatat harga rata-rata daging sapi murni di Kota Bekasi hari ini mencapai Rp133.659 per kilogram di tingkat konsumen.

Sementara data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga daging sapi di Pasar Kranji menyentuh Rp140.000 per kilogram naik sekitar Rp5.000 dari sebelumnya Rp135.000 per kilogram. Kenaikan yang mungkin kecil di atas kertas, tapi terasa besar di dompet warga.

Dalam peninjauan bersama Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bekasi, Ika Indah Yarti, Tri Adhianto menegaskan bahwa mogok belum berskala masif, meski sinyalnya jelas.

BACA JUGA :  IKA PMII Dorong DPRD Kota Bekasi Bentuk Pansus Islamic Centre

“Dari total 319 kios di Pasar Baru, ada 11 kios daging yang mogok berjualan. Ini mencerminkan dinamika dan tekanan yang sedang dialami pedagang,” ujar Tri.

Ia mengakui bahwa persoalan utama bukan sekadar mogok, melainkan struktur harga yang timpang antara modal pedagang dan kemampuan beli masyarakat.

“Harga modal daging, termasuk impor, cukup tinggi. Sementara daya beli masyarakat menurun. Akibatnya transaksi berkurang. Harapannya pasokan bisa diperbanyak agar harga lebih terkendali,” jelasnya.

Tri menegaskan, Pemerintah Kota Bekasi tidak akan tinggal diam. Dalam waktu dekat, Pemkot akan mengirimkan surat resmi kepada Kementerian Pertanian untuk melaporkan kondisi riil di lapangan serta mendorong langkah konkret stabilisasi harga.

BACA JUGA :  Tuntut Evaluasi Aset, Fopera Aksi di Pemkot kota Bekasi Bawa 4 Tuntutan

“Kami akan menyampaikan kondisi ini ke pemerintah pusat. Tujuannya jelas, agar harga daging stabil, pedagang bisa berjualan, dan masyarakat tetap bisa membeli,” tegas Tri.

Di tengah wacana mogok, pasar tradisional Bekasi hari ini menjadi potret kecil krisis pangan perkotaan: pedagang terjepit, pembeli menahan belanja, dan harga daging seolah tak mengenal empati. Jika tak segera ditangani, mogok 11 kios bisa menjadi pembuka bagi protes yang lebih luas bukan dengan teriakan, tapi dengan etalase kosong.***