Scroll untuk baca artikel
Opini

Nusantara: Bukan Mengejar Barat, Tapi Menentukan Arah Sendiri

×

Nusantara: Bukan Mengejar Barat, Tapi Menentukan Arah Sendiri

Sebarkan artikel ini
Peta

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Sejarah Nusantara tidak pernah dibangun dari budaya meniru. Ia tumbuh dari kemampuan membaca realitas dan mengolahnya menjadi kekuatan. Dari Sriwijaya hingga Majapahit, kejayaan lahir dari satu hal yang konsisten: adaptasi, bukan imitasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sriwijaya tidak membangun peradaban dari daratan, tetapi dari laut. Ia memahami ritme angin musim, menguasai Selat Malaka, dan menjadikannya simpul perdagangan global jalur yang hingga kini dilalui sekitar sepertiga arus perdagangan dunia.

Majapahit melanjutkan logika itu, memperluas pengaruh melalui sistem mandala, armada laut, dan tata kelola wilayah yang lentur namun efektif. Sementara Mataram Kuno menunjukkan kecanggihan dalam rekayasa bangunan yang selaras dengan iklim tropis.

BACA JUGA :  Kok Bisa, Situs BIN Diretas HACKER!!

Namun sejarah juga jujur mencatat: keunggulan adaptif itu tidak cukup. Nusantara gagal melompat ke fase berikutnya tidak membangun navigasi ilmiah, tidak mengembangkan industri logam skala besar, dan tidak melahirkan institusi sains formal seperti di Eropa atau Tiongkok.

Ketika dunia memasuki era mekanisasi dan militerisasi, Nusantara tertinggal. Bukan karena miskin potensi, tetapi karena gagal menginstitusionalisasikan pengetahuan.

Di sinilah kesalahan yang tidak boleh diulang hari ini.

Indonesia tidak bisa sekadar mengejar model industrialisasi klasik. Meniru Barat tanpa fondasi sendiri hanya akan melahirkan ketergantungan baru bukan kemandirian.

Masa depan Nusantara justru terletak pada keberanian merumuskan ulang keunggulannya sendiri.

Pertama, maritim harus kembali menjadi pusat strategi nasional. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, laut bukan pemisah, melainkan pengikat. Tanpa revolusi logistik laut pelabuhan pintar, armada modern, dan sistem keamanan digital Indonesia hanya akan menjadi jalur, bukan pemain.

BACA JUGA :  Belasan Ribu TKK Terancam Nasibnya, Ketua DPRD Ogah Panggil Pj Wali Kota Bekasi

Kedua, logistik domestik harus dibenahi secara radikal. Ketimpangan distribusi pangan dan obat bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi kegagalan sistemik dalam mengelola ruang kepulauan.

Ketiga, biodiversitas harus diangkat dari sekadar kekayaan alam menjadi basis industri pengetahuan. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memiliki peluang menjadi pusat riset farmasi dan penyakit tropis. Tanpa itu, kekayaan hanya akan terus diekspor dalam bentuk mentah.

Keempat, teknologi bangunan tahan bencana bukan pilihan, melainkan keharusan. Di negeri dengan risiko gempa, banjir, dan kenaikan muka laut yang tinggi, kegagalan beradaptasi berarti mengulang siklus kerugian tanpa akhir.

BACA JUGA :  Syahrin Hamid Mundur dari Komisaris Jakpro, Sebuah Embrio Etika dan Moral Budaya Partai Politik

Kelima, transformasi digital dan kecerdasan buatan harus menjadi pengungkit, bukan sekadar tren. Tanpa integrasi teknologi, seluruh potensi tadi akan tetap berjalan sendiri-sendiri tanpa daya ungkit strategis.

Intinya jelas: masa depan Nusantara bukan soal mengejar ketertinggalan, tetapi menentukan arah.

Sejarah sudah memberi peta. Nusantara unggul ketika mampu membaca ruang laut, alam, dan jaringan manusia lalu mengubahnya menjadi kekuatan. Dan Nusantara runtuh ketika gagal mengubah pengetahuan menjadi sistem.

Hari ini, pilihannya tegas: menjadi pasar dalam peta global, atau menjadi poros yang menentukan arah.

Jika belajar dari sejarah, jawabannya seharusnya tidak sulit.***