JAKARTA — Niat hati beralih ke kendaraan ramah lingkungan, yang datang justru “bonus” tak terduga: mobil listrik yang disebut “oleng joget” dan tak kunjung sembuh meski sudah bolak-balik bengkel.
Pengalaman itu dialami mantan anggota DPR RI, Akbar Faisal, usai membeli BYD Seal Premium pada Desember 2025 di diler BYD Sudirman, Jakarta. Alih-alih menikmati teknologi masa depan, ia justru disibukkan dengan drama klasik, produk bermasalah, layanan terseok, dan tanggung jawab yang “dilempar estafet.”
Curahan kekecewaan itu ia sampaikan secara terbuka melalui akun media sosialnya. Nada pesannya tegas, kadang getir, sesekali terdengar seperti satire seolah ingin bertanya: ini beli mobil atau langganan masalah?
Akbar menjelaskan, sejak awal penggunaan, mobil listrik tersebut sudah menunjukkan gejala tidak normal. Istilah yang ia gunakan cukup “puitis” sekaligus mengkhawatirkan, “oleng joget.”
Alih-alih segera tuntas, proses perbaikan justru berlarut. Mobil sempat menginap di bengkel lebih dari dua bulan. Hasilnya? Menurut Akbar, bukan membaik, tapi malah memperparah kondisi.
“Sudah dua bulan lebih di bengkel, ternyata salah analisa. Jogetnya malah makin parah,” tulisnya.
Kini, kasus tersebut memasuki bulan keempat tanpa kepastian. Sebuah durasi yang cukup untuk membuat siapa pun bertanya, yang rusak mobilnya atau sistem pelayanannya?
Yang membuat situasi semakin absurd, kata Akbar, adalah pola komunikasi antar pihak terkait. Mulai dari BYD, pihak leasing Clipan Finance, asuransi Asuransi MAG, hingga bengkel semuanya dinilai tidak memberikan solusi konkret.
“Semua saling lempar tanggung jawab,” ujarnya.
Kalimat yang mungkin terdengar klise, tapi dalam praktiknya menjadi mimpi buruk klasik konsumen.
Ironi berikutnya datang dari sisi pembiayaan. Meski mobil tak kunjung beres, kewajiban cicilan tetap berjalan seperti biasa tanpa empati, tanpa jeda.
Akbar mengaku masih membayar cicilan hingga Maret 2026. Namun memasuki April, ia memilih berhenti. Bukan tanpa alasan, melainkan bentuk protes atas situasi yang dianggap tidak adil.
Respons dari leasing? Tak kalah “aktif”.
“Ditagih pakai puluhan nomor telepon,” katanya.
Sebuah ironi modern, mobil diam di bengkel, tapi telepon penagihan justru paling gesit.
Merasa dirugikan, Akbar akhirnya melayangkan somasi kepada tiga pihak, BYD, Clipan Finance, dan Asuransi MAG. Ia juga meminta perhatian Otoritas Jasa Keuangan agar turun tangan.
Dalam pernyataannya, ia secara terbuka menyentil fungsi pengawasan lembaga tersebut.
“Saya minta OJK bekerja serius,” tegasnya.
Nada yang tak hanya bernuansa keluhan pribadi, tetapi juga kritik terhadap sistem perlindungan konsumen secara lebih luas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai somasi yang dilayangkan. Namun satu hal jelas, “joget” yang satu ini sudah terlanjur viral dan sulit dihentikan.***











