KOTA BEKASI — Tri Adhianto melontarkan dorongan gaya hidup ramah lingkungan aparatur sipil negara (ASN) dengan meminta bersepeda setiap Jumat. Pesannya jelas sehatkan tubuh, kurangi polusi, dan mulai ubah kebiasaan transportasi di kota penyangga ibu kota ini.
Namun di balik ajakan itu, ada satu catatan penting yang tak bisa dihindari infrastruktur belum sepenuhnya siap.
Tri Adhianto mengakui, fasilitas jalur sepeda di Bekasi masih terbatas. Artinya, ajakan bersepeda masih berjalan lebih cepat dibanding kesiapan jalannya.
Situasi ini seperti mengajak warga berenang, tapi kolamnya masih dalam tahap desain.
“Ke depan akan kami kaji dan rencanakan pengembangan jalur sepeda yang aman dan nyaman,” ujarnya.
Sebuah komitmen yang terdengar familiar dan kini ditunggu realisasinya.
Dorongan bersepeda bukan sekadar tren. Di banyak kota besar dunia, ini sudah menjadi bagian dari solusi transportasi dan kesehatan publik.
Masalahnya, sepeda butuh lebih dari sekadar niat. Ia butuh ruang.
Tanpa jalur khusus, pesepeda harus berbagi dengan kendaraan bermotor yang dalam konteks Bekasi, bukan sekadar ramai, tapi juga kompetitif.
Ajakan ini juga dibingkai sebagai bagian dari kedisiplinan ASN. Bukan hanya soal hadir tepat waktu, tapi juga menjadi contoh perubahan gaya hidup.
Bekasi memang sedang bergerak menuju kota yang lebih sehat dan berkelanjutan. Tapi seperti banyak kota lain, tantangan utamanya bukan pada ide, melainkan eksekusi.***













