WawaiNEWS.ID — Perdamaian dunia tidak cukup berhenti sebagai slogan di podium. Anak muda dituntut mengambil peran nyata, mulai dari membangun dialog, memperkuat penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM), hingga menjalankan aksi perdamaian di komunitas masing-masing.
Pesan inilah yang mengemuka dalam Konferensi Perdamaian Pemuda Internasional 2026 yang diselenggarakan Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) secara daring pada 10 Oktober 2026.
Mengusung tema “Pemimpin Pemuda Global Mengambil Tindakan untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia”, konferensi tersebut menjadi ajang berbagi capaian kegiatan perdamaian sepanjang tahun sekaligus membahas langkah konkret yang dapat dilakukan generasi muda untuk menghadapi tantangan di lingkungan mereka.
Salah satu sorotan utama adalah perkembangan International Peace Youth Group (IPYG), jaringan kepemudaan yang menurut pemaparan penyelenggara telah bekerja sama dengan 1.890 organisasi kepemudaan di 133 negara.
IPYG juga melaporkan lebih dari 500 pertemuan kelompok kerja Youth Engagement & Peacebuilding Working Group (YEPW) sepanjang 2026 untuk merancang dan menjalankan kegiatan perdamaian berbasis kebutuhan komunitas.
Skala jaringan tersebut menunjukkan luasnya jangkauan kolaborasi yang dibangun. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana jejaring internasional itu diterjemahkan menjadi perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, terutama dalam membangun budaya dialog, mencegah konflik, dan memperkuat penghormatan terhadap HAM.
HWPL turut memaparkan pelaksanaan Youth Empowerment Peace Class (YEPC), program pendidikan perdamaian nonformal yang diikuti sekitar 12.000 pemuda dari 89 negara. Program ini dirancang untuk memperluas kesempatan belajar mengenai nilai-nilai perdamaian sekaligus mendorong peserta menerapkannya di lingkungan masing-masing.
Konferensi tersebut juga menyoroti program perdamaian pemuda HWPL di Korea Selatan pada 17–19 September 2026. Sebanyak 100 pemimpin pemuda dari 40 negara mengikuti kegiatan dengan pendekatan Discover–Learn–Act atau Menemukan–Mempelajari–Bertindak.
Peserta mengeksplorasi warisan budaya Korea Selatan, mengikuti kuliah dan diskusi, serta mempelajari cara menerapkan nilai perdamaian dalam kehidupan komunitas.
Salif Bouné, pendiri Association of Pupils and Students from the Commune of Diaye Couras di Mali, mengatakan pengalaman melihat orang-orang yang mendedikasikan diri untuk menyebarkan pesan perdamaian memberikan motivasi bagi generasi muda.
Sementara itu, Siju Thomas Daniel, pendiri SCEAD Foundation India, menyatakan ingin menerapkan pembelajaran dari konferensi tersebut dan mengajak lebih banyak anak muda berbicara tentang perdamaian dunia.
“Tujuan saya adalah mengajak seluruh generasi muda untuk tampil ke depan dan berbicara tentang perdamaian dunia,” ujarnya.
Menutup acara, peserta mengikuti pertunjukan musik dan cahaya dengan menyalakan lampu telepon genggam serta menyampaikan harapan mereka akan perdamaian. Simbol tersebut menggambarkan pesan bahwa suara individu dapat menjadi kekuatan kolektif ketika disatukan dalam tujuan bersama.
Melalui konferensi ini, HWPL dan IPYG mendorong pemuda agar tidak hanya menjadi penonton dalam isu perdamaian global. Meski demikian, keberhasilan gerakan tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh keberlanjutan program, keterlibatan nyata di tingkat lokal, serta dampak yang dapat diukur bagi masyarakat.
Di tengah berbagai konflik dan persoalan kemanusiaan, pesan utamanya jelas: perdamaian tidak cukup dirayakan dalam konferensi internasional. Nilainya harus diwujudkan melalui tindakan nyata, konsisten, dan berkelanjutan.***













