Scroll untuk baca artikel
Internasional

Dari Monumen Perang ke Gyeongbokgung, 43 Negara Belajar Perdamaian di Seoul: Pemuda Indonesia Ikut Ambil Peran

×

Dari Monumen Perang ke Gyeongbokgung, 43 Negara Belajar Perdamaian di Seoul: Pemuda Indonesia Ikut Ambil Peran

Sebarkan artikel ini
Foto: Pemuda dari 43 negara, termasuk Indonesia, berkumpul di Seoul dalam HWPL International Youth Peace Program yang digelar selama tiga hari, 17–19 September

SEOUL — Seoul menjadi ruang kelas tak biasa bagi ratusan anak muda dari berbagai penjuru dunia. Mereka tidak duduk di balik meja dengan papan tulis dan buku pelajaran, melainkan berjalan dari War Memorial of Korea, Insadong, Gwanghwamun hingga Gyeongbokgung Palace untuk mencari satu pelajaran besar: bagaimana perang dikenang, perbedaan dipahami, dan perdamaian diwariskan.

Sebanyak pemuda dari 43 negara, termasuk Indonesia, berkumpul di Seoul dalam HWPL International Youth Peace Program yang digelar selama tiga hari, 17–19 September.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Program yang diselenggarakan Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) tersebut mengangkat tema “We, the Living Legacy of Peace” atau Kami, Warisan Hidup Perdamaian.

Konsepnya cukup menarik: sejarah tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang sudah lewat, tetapi dijadikan bahan bakar untuk menentukan apa yang harus dilakukan generasi hari ini.

Kalau biasanya anak muda datang ke Korea untuk berburu foto di depan istana dan menikmati budaya K-Pop, peserta program ini justru diajak menengok sisi lain Korea Selatan bekas luka perang dan sejarah panjang perpecahan Korea Utara dan Korea Selatan.

Dari sana, mereka diajak bertanya: apa arti perdamaian bagi saya, dan apa yang bisa saya lakukan untuk menjaganya?

BACA JUGA :  Ayatollah Mojtaba Khamenei Ultimatum AS: Timur Tengah Bukan Lagi Tameng Pangkalan Amerika

War Memorial: Ketika Sejarah Tidak Lagi Sekadar Angka

Perjalanan dimulai pada 17 September di War Memorial of Korea.

Peserta mengunjungi sejumlah ruang dan monumen, termasuk Korean War Room, UN Room, UN Monument dan Statue of Brothers.

Di tempat tersebut, perang tidak disajikan sekadar sebagai tanggal, angka korban atau nama operasi militer. Peserta diajak melihat bagaimana perang meninggalkan luka pada individu, keluarga dan generasi muda.

Pesan yang dibawa penyelenggara sederhana tetapi kuat: generasi muda masa lalu pernah menjadi pihak yang menanggung pengorbanan perang. Generasi muda hari ini memiliki kesempatan untuk mengambil peran berbeda—menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian.

Laisani Sepo, Ketua National Youth Council of Fiji (NYCF), mengatakan kunjungan tersebut membuat dirinya melihat kembali keberanian generasi muda yang berada di garis depan ketika perang terjadi.

“Anak-anak muda berusaha melindungi wilayah mereka dan bersedia mempertaruhkan nyawa meskipun mereka melihat risiko dan kematian di depan mata,” ujarnya.

Menurut dia, membangun perdamaian membutuhkan kemauan kuat untuk terus bergerak meskipun menghadapi tantangan dan kritik.

Dari Budaya ke Toleransi: Belajar Menghormati yang Berbeda

Perjalanan kemudian berlanjut ke Insadong.

Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu ruang budaya tradisional Korea itu, peserta tidak sekadar menjadi wisatawan. Mereka diajak mengalami langsung budaya yang mungkin sebelumnya asing bagi mereka.

BACA JUGA :  Jurnalisme Tanpa Intimidasi, HWPL Rangkul Media Jakarta Bangun Perdamaian

Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa pemahaman dapat melahirkan penghormatan, dan penghormatan membuka ruang pertukaran antarmanusia.

Alwand Talaat Jawhar Caluri, Program Director Public Aid Organization dari Irak, menilai ruang aman dan inklusif penting bagi anak muda dari berbagai negara dan latar belakang agama untuk berbagi pandangan mengenai perdamaian.

“Pertemuan seperti ini dapat menjadi wadah bertukar praktik terbaik dan belajar satu sama lain,” katanya.

Pesan tersebut menjadi relevan ketika peserta berasal dari latar budaya, agama dan pengalaman sosial yang berbeda.

Sebab, dalam dunia yang sering ribut hanya karena perbedaan, duduk bersama dan mendengarkan orang lain ternyata masih menjadi pekerjaan yang sangat penting.

Gyeongbokgung Mengajarkan Lima Kata: Warisan hingga Harmoni

Pada tahap berikutnya, peserta mengunjungi Gwanghwamun dan Gyeongbokgung Palace.

Di kawasan bersejarah tersebut, mereka diajak memahami perdamaian melalui lima kata kunci: Inheritance, Respect, Responsibility, Change dan Harmony warisan, penghormatan, tanggung jawab, perubahan dan harmoni.

Salah satu contoh yang digunakan adalah sosok Raja Sejong Agung, Hall of Worthies atau Jiphyeonjeon, serta lahirnya Hangeul melalui Hunminjeongeum.

BACA JUGA :  Sejarah Baru, Hari Nakba atau Pengusiran Massal Palestina karena Israel Diperingati PBB

Sejarah tersebut digunakan untuk melihat bagaimana keputusan seorang pemimpin, pengetahuan dan proses belajar dapat menghasilkan perubahan yang berdampak jauh melampaui satu generasi.

Peserta kemudian diminta memilih salah satu dari lima nilai tersebut dan menuliskan tindakan yang ingin mereka lakukan setelah kembali ke negara masing-masing.

Di sinilah wisata sejarah berubah menjadi semacam “pekerjaan rumah”.

Bedanya, pekerjaan rumah kali ini bukan untuk mendapatkan nilai ujian. Nilainya baru terlihat ketika mereka pulang dan benar-benar melakukan sesuatu di komunitas masing-masing.

“Kami Bukan Pemimpin Masa Depan, Kami Pemimpin Hari Ini”

Andrew Junior Mwima, CEO Mental Health and Anti-Drug Abuse Organisation, menyoroti posisi anak muda dalam upaya membangun perdamaian.

Menurutnya, jika anak muda merupakan kelompok yang dikirim ke medan perang, maka anak muda pula yang dapat berada di garis depan gerakan perdamaian.

“Anak muda bukan pemimpin masa depan. Kami adalah pemimpin hari ini,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gagasan utama program: perdamaian tidak seharusnya hanya menjadi agenda generasi yang lebih tua dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Generasi muda justru didorong mengambil peran sekarang.

Dari “Discover” ke “Learn”

Hari kedua, 18 September, memasuki tahap “Learn”.