PESAWARAN – Muhammad Aepudin bin Sukriyah, balita berusia 2,6 tahun asal Desa Bayas Jaya, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran, kini terbaring lemah di ruang perawatan RS Abdul Moeloek, Bandar Lampung. Putra kecil dari pasangan sederhana itu tengah berjuang melawan stunting akibat kurang gizi.
Ironinya, peristiwa ini mencuat di tengah gencarnya jargon dan program nasional penurunan stunting yang tiap tahun dipompa dengan anggaran besar, rapat koordinasi, seminar, hingga baliho berwarna-warni di setiap pelosok desa.
Keluarga Aepudin hanya bisa meminta doa dan dukungan agar sang anak segera pulih. Namun di balik doa itu, tersimpan harapan yang sama sederhana sekaligus getir: perhatian nyata dari Pemerintah Kabupaten Pesawaran.
“Dengan kejadian ini, menjadi pertanyaan besar terkait pengawasan program stunting. Apakah hanya sekadar laporan tertulis dan seremonial rapat tahunan yang menghabiskan anggaran, sementara fakta di lapangan masih ada ditemukan keluarga dan anak yang mengalami kurang gizi?” tegas Rudi Sapari, Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Lampung.
Rudi menyentil bahwa berbagai level pemerintahan, mulai dari desa, kecamatan, dinas hingga kabupaten, kerap sibuk menandatangani berita acara, membagikan paket bantuan simbolis di depan kamera, lalu mengunggahnya ke media sosial. Namun, kenyataan di lapangan justru menghadirkan anak kecil yang harus berjuang di ranjang rumah sakit karena tubuhnya tak cukup gizi.
“Pemerintah seharusnya hadir, bukan hanya dengan spanduk ucapan ‘Stop Stunting’, tapi dengan langkah nyata: memastikan keluarga seperti ini tidak dibiarkan berjuang sendirian,” pungkasnya.
Kasus Muhammad Aepudin adalah potret telanjang: program pencegahan stunting di atas kertas tampak mentereng, tapi di ruang perawatan rumah sakit, fakta berkata sebaliknya. Anggaran miliaran rupiah tampak perkasa di meja rapat, namun lunglai ketika dihadapkan pada tubuh mungil seorang balita di Pesawaran.***







