Scroll untuk baca artikel
BUDAYA

Bukan Sekadar Pusaka! Mahasiswa ITERA Bongkar Makna Filosofi Adat Lampung di Lamban Gedung Kuning

×

Bukan Sekadar Pusaka! Mahasiswa ITERA Bongkar Makna Filosofi Adat Lampung di Lamban Gedung Kuning

Sebarkan artikel ini
Foto: Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) saat menyambangi Lamban Gedung Kuning, Kamis, 8 Oktober 2026, (foto_scr/itr)

LAMPUNG – Sejarah Lampung bukan cuma cerita masa lalu. Di balik benda pusaka, pakaian adat, dan tata cara tradisi, tersimpan nilai yang membentuk identitas masyarakat Lampung hingga sekarang. Inilah yang digali mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) saat menyambangi Lamban Gedung Kuning, Kamis, 8 Oktober 2026.

Kunjungan Himpunan Mahasiswa Lampung (Himalaya) ITERA itu menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari tokoh masyarakat Lampung, Irjen Pol (Purn.) Dr. H. Ike Edwin, yang dikenal dengan sapaan Dang Ike.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bukan hanya melihat koleksi budaya, mahasiswa juga diajak menelusuri sejarah dan memahami filosofi adat yang diwariskan lintas generasi.

Beragam ornamen tradisional, benda pusaka, perlengkapan adat, hingga pakaian khas Saibatin dan Pepadun menjadi bagian dari pembelajaran tersebut. Dua kelompok adat ini memiliki karakteristik dan tradisi masing-masing yang turut membentuk kekayaan budaya Lampung.

BACA JUGA :  Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Bandung Digelar Besar-Besaran, Ini Rute, Rekayasa Lalu Lintas dan Lokasi Parkir

Menelusuri Akar Sejarah Lampung

Dalam dialog bersama mahasiswa, Dang Ike memaparkan sejarah dan silsilah masyarakat Lampung, termasuk peran Sekala Brak dalam perjalanan sejarah adat daerah tersebut.

Ia juga menjelaskan perkembangan masyarakat Lampung serta dinamika kebudayaan yang terbentuk melalui perjumpaan dengan masyarakat dari berbagai daerah.

Bagi mahasiswa, pembahasan itu membuka ruang untuk melihat budaya bukan sekadar simbol yang ditampilkan dalam upacara atau acara seremonial. Di baliknya terdapat sejarah, nilai, dan cara pandang yang perlu dipahami agar tradisi tidak kehilangan makna.

BACA JUGA :  Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili, Ribuan Warga Tionghoa Padati Tiga Vihara di Bandung

Dang Ike berpesan agar generasi muda tidak berhenti pada pengenalan atribut adat. Mereka perlu memahami nilai yang terkandung di dalamnya, menghargai keberagaman, serta ikut menjaga warisan leluhur.

Piil Pesenggiri Jadi Bagian Pembelajaran

Ketua Umum Himalaya ITERA, Antoni Nopendi, mengatakan kunjungan tersebut memberinya pemahaman lebih mendalam tentang adat Lampung, termasuk filosofi piil pesenggiri dan makna di balik tata cara adat.

Nilai-nilai budaya itu dinilai penting untuk dikenali mahasiswa agar hubungan generasi muda dengan identitas daerahnya tidak sebatas nama atau simbol.

Dosen pembina Himalaya ITERA, Muhammad Abi Berkah Nadi, juga menekankan pentingnya keterlibatan Generasi Z dalam mengenal sejarah dan budaya daerah.

Menurutnya, pengenalan secara langsung dapat menjadi salah satu cara menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian budaya Lampung.

BACA JUGA :  Sejarah Ditulis Ulang, Polemik Tak Ikut Direvisi: Buku Baru Fadli Zon Resmi Diluncurkan

Lamban Gedung Kuning Disiapkan Jadi Ruang Kolaborasi

Kunjungan tersebut sekaligus membuka peluang kerja sama antara Himalaya ITERA dan Dang Ike untuk kegiatan Dies Natalis organisasi mahasiswa itu.

Lamban Gedung Kuning direncanakan menjadi lokasi kegiatan yang diharapkan melibatkan tokoh-tokoh adat Lampung. Rencana ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi lebih dekat dengan pelaku dan penjaga tradisi.

Tantangannya bukan hanya memperkenalkan budaya kepada generasi muda, melainkan memastikan mereka memahami dan ikut merawatnya.

Sebab, pusaka bisa disimpan dan pakaian adat bisa dipamerkan. Namun, nilai budaya akan tetap hidup apabila sejarahnya dipahami dan tradisinya diteruskan oleh generasi berikutnya. ***