Scroll untuk baca artikel
Opini

Ekonomi Ramadan: Iman, Pasar, dan Diskon Surga

×

Ekonomi Ramadan: Iman, Pasar, dan Diskon Surga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Ramadan di Indonesia tak pernah sekadar urusan langit. Ia selalu punya kaki yang menapak bumi bahkan kadang menginjak pedal gas ekonomi cukup dalam.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ia bulan ibadah, tentu. Tetapi juga musim panen bagi pedagang kolak, penjual kurma, hingga platform belanja daring yang diam-diam lebih khusyuk menghitung traffic ketimbang tasbih.

Di sela ayat-ayat suci, ada satu ritual sosial paling demokratis: ngabuburit.
Sebuah aktivitas yang secara teologis menunggu Magrib, namun secara sosiologis menunggu diskon.

Di kota besar, ngabuburit menjelma pasar bergerak. Trotoar yang biasanya sepi mendadak menjadi etalase gula dan santan. Kolak berjejer rapi, es buah berwarna-warni seperti grafik pertumbuhan konsumsi, gorengan mengilap oleh minyak dan harapan.

Orang datang bukan hanya untuk membeli takjil. Mereka membeli suasana. Membeli legitimasi sosial bahwa “saya juga ikut Ramadan.” Anak muda berswafoto dengan latar senja, keluarga berjalan santai, komunitas menggelar kajian. Semua tampak sakral hingga azan berbunyi dan plastik kresek dibuka serempak.

Di pesisir, warga menunggu senja dengan angin laut sebagai pendingin alami. Di wilayah minoritas Muslim, masjid menjadi pusat silaturahmi lintas iman. Ada buka bersama yang lebih banyak senyumnya daripada menu prasmanannya. Ramadan menjadi ruang toleransi yang cair kadang lebih cair dari es timun suri.

Namun mari jujur: di balik khidmat doa, ada kalkulasi ekonomi yang tak kalah khusyuk.

Tradisi berburu takjil adalah berkah bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM. Banyak yang setahun penuh menanti bulan ini seperti petani menunggu hujan. Ramadan adalah musim bonus tanpa perlu proposal.

Rata-rata belanja takjil per orang mungkin tak besar. Sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu. Angka receh dalam percakapan kelas menengah. Tetapi ketika jutaan orang melakukan itu setiap hari selama sebulan, receh berubah menjadi raksasa.

Secara nasional, konsumsi Ramadan hingga Idulfitri diperkirakan menembus sekitar Rp1,1 kuadriliun atau Rp1.100 triliun. Angka yang cukup untuk membuat neraca keuangan tersenyum tipis.

Tentu angka itu bukan hanya kolak dan gorengan. Ada pakaian baru, tiket mudik, hampers berlapis pita, hingga cicilan yang ikut berpuasa menunggu gajian berikutnya. Tetapi takjil adalah simbol paling kasat mata dari ledakan konsumsi tersebut.

Dalam teori ekonomi, ini disebut multiplier effect.
Dalam bahasa warung: uang berputar, semua kebagian.

Ketika seseorang membeli kolak, pedagang membeli gula. Penjual gula membayar distributor. Distributor membayar sopir. Sopir membeli bensin. Pemilik SPBU menggaji pegawai. Pegawai membeli… kolak lagi. Siklus ini nyaris seperti tasbih ekonom berulang dan saling terhubung.

Ramadan, dengan demikian, adalah laboratorium ekonomi rakyat. Tanpa seminar, tanpa jargon teknokratis. Pasar hidup karena iman hidup.

Namun di sinilah satire kecil itu berbisik.

Kita berpuasa menahan lapar, tetapi grafik konsumsi justru naik. Kita menahan diri, tetapi pusat perbelanjaan penuh. Kita diajak sederhana, tetapi iklan berlomba meyakinkan bahwa kebahagiaan Idulfitri terletak pada diskon 70 persen.

Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Pasar mengajarkan pengendalian stok.

Di titik ini, iman dan kapitalisme berdamai dengan elegan. Satu menawarkan pahala, yang lain menawarkan cashback. Keduanya sama-sama menjanjikan keuntungan bedanya, yang satu tak perlu checkout.

Dari perspektif sosiologi, ngabuburit dan takjil adalah ritual kolektif yang memperkuat kohesi sosial. Ia membangun identitas Muslim Indonesia yang khas: religius tetapi cair, spiritual tetapi gemar kuliner.

Dari perspektif ekonomi politik, Ramadan adalah mesin konsumsi tahunan yang nyaris otomatis. Negara tak perlu kampanye besar. Tradisi sudah bekerja sendiri.

Pertanyaannya: apakah lonjakan konsumsi ini bertransformasi menjadi penguatan ekonomi produktif? Atau sekadar pesta belanja yang berakhir pada sisa kardus dan saldo menipis?

Ramadan sejatinya adalah simpul antara iman, budaya, dan ekonomi. Ia bisa menjadi momentum redistribusi melalui zakat, infak, sedekah yang dampaknya lebih sunyi tetapi lebih mendasar daripada diskon.

Di sana, uang tak sekadar berputar. Ia berpindah tangan menuju yang membutuhkan.

Pada akhirnya, Ramadan di Indonesia adalah paradoks yang indah.
Kita menahan diri, tetapi pasar bergairah.
Kita mengejar pahala, ekonomi ikut terdongkrak.
Kita berburu takjil, sambil mudah-mudahan tidak lupa berburu makna.

Sebab jika iman hanya berhenti di meja makan, ia menjadi kenyang sesaat.
Tetapi jika ia menjelma etika ekonomi, ia bisa menjadi kekuatan peradaban.

Jakarta.
ARS.

BACA JUGA :  Rocky De Plato dan Perubahan Sesungguhnya