Catatan Kritis Rakernas I Gerakan Rakyat
Oleh: Yusuf Blegur
WawaiNEWS.id – Rakernas I Gerakan Rakyat bukan sekadar agenda konsolidasi organisasi yang bercita-cita menjejak panggung politik kekuasaan. Itu terlalu dangkal. Yang jauh lebih mendesak bahkan nyaris darurat adalah menemukan kembali Tuhan dan manusia yang lama hilang dari republik ini. Hilang bukan karena tak dicari, melainkan karena sengaja disingkirkan dari ruang kekuasaan.
Republik Indonesia lahir bukan dari rapat elite ber-AC atau tender proyek nasional. Ia lahir dari kekuatan pikiran individu, lalu menjelma menjadi arus besar gagasan para cendekia dan pejuang lintas profesi: ulama, jurnalis, guru, petani bersenjata bambu runcing, hingga kaum miskin kota yang bahkan tak sempat mencatatkan namanya dalam sejarah.
Soekarno, Hatta, Tan Malaka, KH Wahid Hasyim, KH Ahmad Dahlan, Jenderal Soedirman—nama-nama ini hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya, terkubur jutaan nama yang tak pernah diarsipkan, bahkan sengaja dihapus demi kenyamanan narasi resmi.
Dari perjumpaan antara gagasan dan darah, lahirlah Republik Indonesia. Negara bangsa yang sejak awal sudah sadar bahwa dirinya bukan titipan kolonial, melainkan hasil pergulatan peradaban.
Ketika Konsensus Menjadi Kosmetik
Dialektika ideologi pun terjadi: agama, nasionalisme, komunisme, sosialisme ala Indonesia. Ada pula perdebatan sengit antara negara federasi dan negara kesatuan. Semua itu akhirnya ditutup dengan satu konsensus besar: Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.
Tambahan bumbu pun disematkan gotong royong, toleransi, adat ketimuran agar republik tampak ramah dan beradab.
Namun, 86 tahun kemudian, bumbu itu tinggal hiasan etalase. Isinya kosong. Bahkan dapurnya terbakar.
Negara ini tampak berjalan sesuai konstitusi, tetapi roh konstitusi telah lama mati suri. Demokrasi diklaim hidup, padahal yang berdenyut hanyalah oligarki berkeluarga. Republik bernama, monarki berpraktik. Politik dinasti menjelma norma, bukan penyimpangan.
Tak ada negara kesejahteraan. Yang ada justru trilogi pembangunan versi mutakhir:
- Instabilitas nasional yang dipelihara,
- Kemiskinan yang diwariskan,
- Kebodohan yang diratakan.
Konsep trickle down effect dimodifikasi: kekuasaan dan kekayaan menetes ke atas, sementara rakyat menunggu tetesan yang tak pernah jatuh.
Negara sebagai Mesin Pemerasan Terorganisir
Sumber daya alam dijarah, sumber daya manusia diperas, pajak dipungut dengan gairah kolonial. Lengkaplah republik ini bertransformasi menjadi apa yang pantas disebut state organized crime.
Mengkritik negara dianggap kriminal. Menggugat kebijakan dicap makar. Penjara dan kekerasan menjadi alat normalisasi ketakutan. Republik terasa déjà vu seperti masa penjajahan, hanya seragamnya berganti.
Gerakan Rakyat: Lahir dari Krisis Akal Sehat
Dari kegagalan itulah Gerakan Rakyat (GR) lahir. Bukan sebagai ornamen demokrasi, tetapi sebagai alarm kebangsaan.
GR tidak sekadar menghimpun aspirasi rakyat yang terpinggirkan. Ia dihadapkan pada tugas jauh lebih rumit: mengurai benang kusut negara yang basah oleh kepentingan dan darah kebijakan.
Hadir di tengah situasi government-less dan gejala failed state, Gerakan Rakyat dipaksa sejarah untuk memainkan peran pembebasan. Bukan pembebasan retoris, melainkan pembebasan struktural dan kultural.
Ia dituntut menjadi:
- Penjaga partisipasi publik,
- Pengawas kekuasaan,
- Penekan kebijakan yang merampas hajat hidup rakyat.
Singkatnya, pressure group yang tidak jinak dan interest group yang tidak bisa dibeli.
Rakernas I: Ekologi sebagai Pintu Masuk Revolusi
Rakernas I Gerakan Rakyat (17–18 Januari 2026, Hotel Aryaduta Jakarta) mengusung tema Kedaulatan Ekologis dan Kembalikan Hutan Indonesia. Tema ini bukan pilihan romantik, melainkan pintu masuk paling telanjang untuk membaca kebusukan sistem.
Perampokan hutan bukan sekadar soal lingkungan. Ia berkorelasi langsung dengan:
- Korupsi struktural,
- Politik dinasti,
- Dominasi oligarki.
Kerusakan alam adalah sidik jari kekuasaan yang tak beretika.
Gerakan Rakyat tampak sadar: membicarakan hutan berarti membongkar jantung kekuasaan.
Revolusi Tanpa Senjata, Tapi Bersenjata Pikiran
Rakernas ini seharusnya tak berhenti pada resolusi administratif. Ia mesti melahirkan gagasan keras, jernih, dan berbahaya bagi status quo.
Karena sejarah membuktikan:
Dunia tidak pernah berubah oleh senjata semata, tetapi oleh gagasan yang menolak tunduk.
Jika revolusi politik terasa mustahil, maka mulailah dari revolusi kultural dan struktural. Jika bangunan sosial terlalu kokoh untuk dijebol, rusaklah ilusi yang menopangnya.
Kemerdekaan berpikir, keberanian melawan ketidakadilan, dan penolakan tunduk pada materi serta kekuasaan itulah energi sejati Gerakan Rakyat.
Sebab republik ini tidak kekurangan undang-undang.
Ia kekurangan keberanian moral.
Dan mungkin, Gerakan Rakyat sedang belajar mengingatkan kembali bangsa ini:
bahwa Indonesia belum selesai dan belum boleh menyerah.
Bekasi Kota Patriot
28 Rajab 1447 H / 17 Januari 2026











