WAWAINEWS.ID – Syariat Islam diturunkan secara bertahap sedikit-demi sedikit, tidak sertamerta tanpa tujuan dan asbab. Sehingga umat Islam tidak kaget dan langsung merasa berat ketika menjalankan.
Begitu lah kenapa setiap syariat memiliki sejarahnya masing-masing, tanpa terkecuali adalah Ibadan Puasa pada bulan suci Ramadhan.
BACA JUGA: Tips Sehat dari Ahli saat Menjalan Ibadah Puasa, Pertama Makan Secukupnya
Puasa di bulan Ramadhan bagi umat Islam memiliki makna mendalam sebagai salah satu penghambaan manusia kepada Allah SWT.
Puasa tak hanya ibadah yang memerlukan peran fisik, tetapi juga memerlukan kesehatan batin, bahkan mampu menyempurnakan batin menjadi hamba yang bertakwa.
Takwa yang merupakan muara akhir dari perintah puasa dijelaskan dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183:
BACA JUGA: 8 Tips Cegah Bau Tak Sedap dari Mulut Ketika Berpuasa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).
Sesuai pembahasan tema di atas, potongan ayat berikut:
Ini Pilihan Lafal Niat Puasa Ramadhan
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
(…sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian…)
Kalimat itu merupakan titik awal mengupas sejarah puasa, khususnya puasa Ramadhan.
Singkatnya, ibadah puasa juga telah menjadi kewajiban umat-umat terdahulu yang menerima wahyu.
Pakar tafsir, Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Membumikan Al-Qur’an (2000) menjelaskan, dari segi ajaran agama, para ulama menyatakan bahwa semua agama samawi, sama dalam prinsip-prinsip pokok akidah, syariat, serta akhlaknya.











