Scroll untuk baca artikel
Budaya

Kemah Sastra 2026: Saat Kata-Kata Menantang Beton, Lampung Menyemai Peradaban dari Api Unggun

×

Kemah Sastra 2026: Saat Kata-Kata Menantang Beton, Lampung Menyemai Peradaban dari Api Unggun

Sebarkan artikel ini
Fitri Angraini, penanggung jawab kegiatan kegiatan Kemah Sastra 2026 saat memberi arahan - foto doc Isbedi ZS

LAMPUNG — Di sebuah sudut perbukitan Kemiling, Bandar Lampung, suara jangkrik dan desir angin malam berpadu dengan bisikan puisi. Bukan seremoni biasa, melainkan sebuah peristiwa sunyi yang pelan-pelan menantang riuhnya pembangunan fisik bernama Kemah Sastra 2026.

Digelar sejak 6 April dan ditutup pada Kamis (9/4/2026) di Villa Kedaung, kegiatan ini bukan sekadar lomba menulis. Ia menjelma menjadi ruang kontemplasi tempat generasi muda mengolah kata, merawat rasa, dan diam-diam menggugat arah peradaban.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Tangis haru pecah di penghujung acara. Fitri Angraini, penanggung jawab kegiatan, tak kuasa menahan emosi. Di balik sukses acara ini, tersimpan keraguan yang nyaris membatalkan segalanya.

“Awalnya saya pesimistis, tak yakin bisa menjaring lebih dari 20 peserta. Tapi ternyata hampir 100 karya masuk,” ujarnya.

BACA JUGA :  KDM: Indonesia Bertahan Karena Budaya

Dari puluhan naskah yang dikurasi ketat, hanya 20 peserta terpilih bukan sekadar angka, melainkan simbol bahwa minat literasi belum benar-benar mati, hanya sering diabaikan.

Di tengah derasnya pembangunan jalan, gedung, dan beton, sastra hadir seperti suara lirih yang kerap kalah oleh deru alat berat. Namun justru di situlah kekuatannya.

Isbedy Stiawan ZS menyebut kondisi ini sebagai paradoks pembangunan.

“Negara sibuk menggali emas, minyak, dan timah. Tapi lupa menggali ‘tambang batin’ generasi mudanya,” ujarnya, setengah satir.

Pernyataan itu seperti tamparan halus. Sebab, di balik angka pertumbuhan ekonomi, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang membentuk cara berpikir manusia di dalamnya?

BACA JUGA :  Kampung Adat Kesepuhan Ciptagelar Sukabumi, Nol Kasus COVID-19

Kemah Sastra mencoba menjawabnya bukan dengan kebijakan, tapi dengan kata-kata.

Selama empat hari, peserta tidak hanya menulis. Mereka berdialog, mengkritik, bahkan membedah karya sendiri. Di tangan para juri seperti Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, dan Iin Zakaria, karya-karya itu diuji bukan hanya secara teknis, tapi juga secara rasa.

Hasilnya? Dua puluh karya terbaik akan dibukukan dalam format dwibahasa Bahasa Lampung dan Indonesia dan direncanakan meluncur pada Mei mendatang.

Sebuah langkah kecil, tapi penting: menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi yang sering kali menyeragamkan segalanya.

Namun seperti kisah klasik kebudayaan di negeri ini, semangat sering kali harus berhadapan dengan realitas: dukungan yang setengah hati.

Fitri menyentil, tanpa menyebut nama, bahwa kegiatan ini justru bisa berjalan berkat dukungan pusat melalui program Indonesiana-LPDP Kementerian Kebudayaan.

BACA JUGA :  Jaga Perasaan Suku Asli di Mana Kita Berpijak

“Kalau pusat bisa, harusnya daerah juga hadir,” katanya, Sindiran yang halus, tapi tepat sasaran.

Kemah Sastra 2026 mungkin telah selesai. Tenda-tenda dibongkar, api unggun padam, dan para peserta kembali ke rutinitas masing-masing. Tapi sesuatu telah ditanam sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka APBD.

Sastra, seperti benih, tidak tumbuh dalam semalam. Ia butuh waktu, ruang, dan kesabaran.

Dan di tengah dunia yang semakin bising, mungkin justru suara-suara sunyi dari kemah seperti inilah yang kelak menentukan arah.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh beton tetapi oleh mereka yang masih percaya pada kekuatan kata.***