Scroll untuk baca artikel
OPINI

Lampung Timur Kaya SDA, Kemiskinan Tembus 132 Ribu Jiwa: Potensi Melimpah, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

×

Lampung Timur Kaya SDA, Kemiskinan Tembus 132 Ribu Jiwa: Potensi Melimpah, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Sebarkan artikel ini
Agus Effendi
Agus Effendi Ketua Karateker KNPI Lampung

Labuhan Ratu memiliki peluang untuk mengembangkan ekonomi pendukung pariwisata berbasis konservasi Taman Nasional Way Kambas. Sementara itu, Situs Pugung Raharjo berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah dan edukasi melalui keterlibatan masyarakat dalam usaha kuliner, kerajinan, jasa pemandu, dan produk UMKM.

Kecamatan Jabung juga memiliki potensi pertanian. Dokumen perencanaan daerah tahun 2023 menyebut produksi padi di wilayah tersebut mencapai 50.547 ton. Potensi padi, jagung, dan singkong dapat menjadi dasar untuk mengkaji peluang pengembangan usaha pengolahan pangan maupun industri pakan, sepanjang didukung data pasokan, kebutuhan pasar, dan kelayakan usaha yang memadai.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Seluruh potensi itu harus dihubungkan dalam satu peta jalan pembangunan ekonomi daerah. Sentra produksi perlu terhubung dengan gudang, fasilitas pengolahan, pusat perdagangan, dan pasar tujuan. Dengan demikian, 24 kecamatan tidak hanya menjadi pembagian wilayah administratif, tetapi juga membentuk jaringan ekonomi yang saling mendukung.

Tidak semua kecamatan harus memiliki kawasan industri, destinasi wisata besar, atau proyek infrastruktur yang sama. Pembangunan yang efektif justru berangkat dari kebutuhan nyata setiap wilayah, bukan dari keinginan menyamaratakan program agar terlihat merata di atas kertas.

BACA JUGA :  Dipicu Suami Izin Nikah Lagi, Ibu di Lampung Timur Depresi Bunuh Bayinya Umur 5 Bulan

Kemiskinan Harus Ditangani dengan Target yang Terukur

Angka kemiskinan 12,15 persen atau sekitar 132.170 orang seharusnya menjadi dasar untuk menyusun langkah penanggulangan yang lebih terarah. Pemerintah daerah perlu memetakan rumah tangga miskin berdasarkan kondisi dan penyebabnya, mulai dari keterbatasan pekerjaan, rendahnya pendapatan, persoalan akses pendidikan dan kesehatan, hingga hambatan geografis terhadap layanan publik dan pasar.

Kebijakan yang dibutuhkan tidak cukup berupa bantuan sosial, meskipun bantuan tetap penting bagi masyarakat yang membutuhkan. Pemerintah juga harus memperluas kesempatan kerja produktif, memperkuat usaha mikro, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, memperbaiki akses modal, dan menghubungkan masyarakat dengan rantai ekonomi lokal.

Program penanggulangan kemiskinan harus memiliki sasaran yang jelas dan dapat dievaluasi. Berapa rumah tangga yang berhasil meningkatkan pendapatan? Berapa warga miskin yang memperoleh pekerjaan tetap? Berapa usaha mikro yang berkembang? Berapa petani yang mendapatkan akses pengolahan dan pemasaran lebih baik? Pertanyaan semacam ini perlu dijawab melalui indikator yang terukur, bukan sekadar laporan kegiatan.

BACA JUGA :  Menjawab Soal Ucapan Selamat Natal

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa anggaran pembangunan benar-benar menyasar hambatan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Jalan produksi yang baik, misalnya, harus memperlancar distribusi dan menekan biaya angkut. Pelatihan kerja harus terhubung dengan kebutuhan perusahaan atau peluang usaha. Bantuan alat produksi harus disertai pendampingan dan akses pasar. Sementara promosi pariwisata harus mampu menggerakkan usaha warga, bukan hanya meningkatkan kunjungan tanpa dampak ekonomi yang jelas.

Keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai dari berapa banyak program yang diluncurkan, melainkan dari perubahan yang dirasakan masyarakat setelah program tersebut berjalan.

Saatnya Mengubah Potensi Menjadi Kesejahteraan

Lampung Timur memiliki modal ekonomi yang besar. Pertanian, perikanan, pertambangan, perdagangan, industri pengolahan, dan pariwisata menyediakan peluang untuk mendorong pertumbuhan daerah. Namun, potensi tersebut tidak akan otomatis menghapus kemiskinan jika tidak diikuti kebijakan yang mampu memperluas kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah, dan memperkuat posisi ekonomi masyarakat.

BACA JUGA :  Koperasi Merah Putih: Reinkarnasi KUD atau Revolusi Ekonomi Desa?

Pemerintah daerah perlu menghubungkan seluruh potensi itu melalui strategi yang terukur: memperkuat sektor produktif, membangun industri pengolahan sesuai kebutuhan, menarik investasi yang melibatkan warga lokal, mengembangkan potensi setiap kecamatan, serta memastikan program penanggulangan kemiskinan memiliki hasil yang dapat dievaluasi.

Pada akhirnya, persoalan Lampung Timur bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak komoditas atau mendatangkan lebih banyak investasi. Tantangan sebenarnya adalah memastikan bahwa kekayaan daerah mampu meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat.

Jika pertanian terus menghasilkan, perdagangan tetap bergerak, dan sumber daya alam terus memberikan nilai ekonomi, tetapi kemiskinan masih membelit lebih dari 132 ribu penduduk, maka pembangunan perlu berani mengevaluasi siapa yang paling banyak menikmati manfaat pertumbuhan tersebut.

Lampung Timur tidak kekurangan potensi. Yang harus dipastikan adalah kemampuan mengubah potensi menjadi nilai tambah, nilai tambah menjadi lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi menjadi kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Penulis adalah putra Lampung Timur.***