Scroll untuk baca artikel
Opini

TKI dan Dakwah Islam: Ketika Krisis Demografi Dunia Menjadi Peluang Peradaban Indonesia

×

TKI dan Dakwah Islam: Ketika Krisis Demografi Dunia Menjadi Peluang Peradaban Indonesia

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Dunia sedang memasuki babak baru sejarah demografi. Negara-negara maju menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi atau pertumbuhan ekonomi, yakni semakin sedikitnya manusia usia produktif yang menopang kehidupan bangsa mereka.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Penduduk menua, angka kelahiran terus merosot, sementara kebutuhan tenaga kerja tetap meningkat. Akibatnya, migrasi tenaga kerja tidak lagi dipandang sebagai kebijakan sementara, melainkan menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar.

OECD memperkirakan rasio penduduk berusia 65 tahun ke atas terhadap penduduk usia kerja akan melonjak dari sekitar 31 persen pada 2023 menjadi 52 persen pada 2060. Artinya, setiap seratus orang usia produktif harus menopang lebih dari lima puluh lansia. Beban sosial dan fiskal akan semakin berat.

Jepang menjadi contoh paling nyata. Jumlah penduduk usia kerjanya menyusut dari sekitar 87 juta orang pada 1995 menjadi sekitar 74 juta orang pada 2024. Fenomena serupa mulai terlihat di Korea Selatan, Jerman, Italia, hingga sejumlah negara Eropa lainnya. Dalam situasi seperti ini, tenaga kerja asing bukan lagi pelengkap pembangunan, tetapi bagian penting dari keberlangsungan negara.

Di sisi lain, Indonesia justru sedang menikmati bonus demografi. Lebih dari dua pertiga penduduk berada pada usia produktif. Ini merupakan modal yang sangat besar, tetapi sekaligus tantangan. Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila tersedia lapangan kerja yang memadai. Tanpa itu, ia dapat berubah menjadi beban sosial.

BACA JUGA :  Danantara Bisa Setara VOC ?

Di sinilah terjadi hubungan yang saling membutuhkan. Negara tujuan memperoleh tenaga kerja untuk menjaga produktivitas ekonomi, sementara Indonesia memperoleh kesempatan kerja, devisa, peningkatan keterampilan, penguasaan bahasa asing, transfer teknologi, dan pengalaman internasional.

Dalam teori ekonomi migrasi, kondisi tersebut dikenal sebagai mutual benefit. Kedua belah pihak sama-sama memperoleh manfaat. Sementara teori push and pull factors menjelaskan bahwa migrasi terjadi karena adanya faktor pendorong dari negara asal sekaligus daya tarik dari negara tujuan.

Namun bagi seorang Muslim, bekerja di luar negeri tidak berhenti pada dimensi ekonomi semata.

Mencari nafkah yang halal merupakan bagian dari ibadah. Menjaga amanah, bekerja secara profesional, menghormati hukum negara tempat bekerja, dan memberikan manfaat bagi sesama merupakan implementasi nyata nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, setiap pekerja Muslim sejatinya membawa lebih dari sekadar keterampilan. Ia membawa karakter.

Di sinilah dimensi yang sering luput dari pembahasan mengenai tenaga kerja Indonesia. Migrasi manusia sesungguhnya juga merupakan migrasi nilai.

Bahasa dapat dipelajari. Keahlian dapat ditingkatkan. Tetapi kejujuran, disiplin, tanggung jawab, integritas, serta kepedulian sosial merupakan identitas moral yang justru paling mudah dikenali oleh masyarakat.

BACA JUGA :  Nama Lain Anies Baswedan adalah Keteladanan

Dalam hubungan antarmanusia, perilaku jauh lebih fasih daripada pidato.

Konsep ini sejalan dengan teori soft power, yakni kemampuan memengaruhi pihak lain melalui keteladanan, nilai, budaya, dan daya tarik moral, bukan melalui tekanan atau pemaksaan.

Demikian pula teori difusi budaya menjelaskan bahwa perpindahan manusia selalu membawa gagasan, kebiasaan, identitas, dan nilai yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat baru. Mobilitas manusia tidak hanya memindahkan tenaga kerja, tetapi juga memindahkan peradaban.

Sejarah Islam sendiri memberikan pelajaran penting.

Islam tidak berkembang di Nusantara melalui ekspedisi militer, melainkan melalui perdagangan, diaspora, perkawinan, hubungan sosial, dan terutama keteladanan akhlak para saudagar serta ulama. Kepercayaan masyarakat tumbuh karena melihat perilaku, bukan karena mendengar ceramah semata.

Pelajaran sejarah itu tetap relevan hingga hari ini.

Ketika pekerja Muslim Indonesia hidup berdampingan dengan masyarakat di berbagai negara, mereka berpotensi menjadi wajah Islam yang sesungguhnya Islam yang ramah, jujur, menghargai perbedaan, pekerja keras, dan membawa kemaslahatan.

Sebagian masyarakat mungkin hanya mengenal Islam melalui hubungan bertetangga. Sebagian lainnya melalui persahabatan di tempat kerja. Ada pula yang mengenalnya melalui keluarga yang terbentuk dari pernikahan lintas budaya. Bila kemudian ada yang tertarik mempelajari Islam hingga memeluknya, semua itu lahir dari pilihan sadar mereka sendiri, bukan karena tekanan.

BACA JUGA :  Menghidupkan Perlawanan Dalam Kekuatan Spiritual

Inilah dakwah yang paling sunyi, tetapi sering kali paling efektif.

Dakwah yang tidak menggurui.

Dakwah yang tidak memaksa.

Dakwah yang menghadirkan Islam sebagai rahmat melalui perilaku sehari-hari.

Karena itu, kebijakan pengiriman tenaga kerja Indonesia semestinya dipandang lebih luas daripada sekadar strategi ekonomi atau penempatan pekerja migran. Di balik setiap pekerja yang berangkat, sesungguhnya turut berangkat nama baik bangsa, budaya Indonesia, dan nilai-nilai moral yang mereka bawa.

Krisis demografi global dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk tampil bukan hanya sebagai pemasok tenaga kerja, melainkan sebagai pengirim sumber daya manusia yang unggul secara profesional sekaligus berkarakter.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, reputasi sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh diplomat atau pejabat negara, tetapi juga oleh jutaan warganya yang bekerja dengan jujur di berbagai penjuru dunia.

Jika setiap pekerja Indonesia mampu menjadi teladan dalam integritas, profesionalisme, dan kemanusiaan, maka mereka sesungguhnya sedang melakukan diplomasi kebudayaan sekaligus dakwah melalui akhlak.

Barangkali, itulah bentuk kontribusi Indonesia yang paling senyap, tetapi paling panjang jejaknya bagi peradaban dunia.

Jakarta, 28 Juli 2026

Abdul Rohman Sukardi
Penulis Independen, Esais, Aktivis Reformasi 1998. Menulis isu sosial, politik, hukum, kebijakan publik, dan peradaban.