Berapa banyak tenaga kerja lokal yang benar-benar terserap? Kapan perkebunan mulai berproduksi? Apakah pabrik CPO akan dibangun? Berapa kontribusi nyata investasi terhadap pendapatan daerah? Dan berapa banyak UMKM yang kelak ikut menikmati perputaran ekonomi?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk meredam optimisme. Justru untuk memastikan bahwa optimisme memiliki pijakan.
Sebab, kemajuan daerah tidak selesai ketika investor datang dan alat berat mulai bekerja.
Kemajuan baru terasa ketika seorang ayah bisa membiayai sekolah anaknya dengan lebih tenang. Ketika seorang pemuda mendapat pekerjaan yang layak. Ketika warung kecil memiliki lebih banyak pelanggan. Ketika masyarakat desa memperoleh kesempatan yang sebelumnya sulit mereka dapatkan.
Itulah pembangunan yang bisa dirasakan tanpa perlu membaca laporan tahunan.
Hari itu, perjalanan saya ke Lingga Utara bermula dari ajakan salat Jumat dan berbagi kepada warga. Namun, saya pulang membawa cerita tentang sebuah investasi yang sedang mempersiapkan babak baru bagi Lingga.
Lahan sudah mulai dibuka. Sebagian tanaman mulai tumbuh. Pabrik dan ribuan pekerjaan masih menunggu realisasi.
Sekarang, tantangannya adalah memastikan bahwa ketika sawit itu kelak berbuah, manfaatnya tidak berhenti di kebun atau di neraca perusahaan.
Masyarakat harus ikut memetik hasilnya.
Sebab, pusat ekonomi baru bukan sekadar tempat modal tumbuh. Ia harus menjadi tempat kehidupan masyarakat ikut tumbuh.
Dan perjalanan Lingga menuju ke sana baru saja memasuki babak yang menarik untuk diikuti.
Bersambung.***













